Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 31. Percaya


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 31


Waktu yang istirahat di tengah hari, saat semua orang tidur siang. Pelangi menghubungi Tama lewat pesan dan memberi tahu tujuan Embun kepadanya. Dia tidak ingin kalau laki-laki yang dicintainya itu jatuh ke dalam rencana yang sudah dibuat oleh kakaknya. Setidaknya Tama bisa melindungi hati dia dengan benteng yang kokoh. Agar tidak terjadi fitnah di masa yang akan datang.


Pelangi melakukan ini setelah semalaman dia berpikir panjang. Bukan niat dia untuk mengadu atau mengadu domba kekasih dan kakaknya itu. Hanya saja dia tahu kalau kakaknya itu terkadang berbuat licik untuk mencapai tujuan yang dia inginkan. Dia tidak mau Tama menjadi salah satu korban dari tujuannya itu.


Baru saja pesan di kirim nama kemudian ada panggilan masuk dari Tama. Ternyata kekasihnya itu memilih berbicara langsung dibandingkan membalas pesan tadi.


^^^"Jadi Embun punya pikiran seperti itu?"^^^


"Iya. Dan aku harapkan Kak Tama bisa menjaga diri."


^^^"Tentu saja aku tidak akan mudah jatuh ke dalam perangkapnya."^^^


"Baguslah kalau begitu Hati aku bisa tenang setelah mendengarnya."


^^^"Akan aku usahakan untuk tidak terlalu dekat dia. Juga terlibat dengan keadaan dia saat tinggal di Jakarta."^^^


"Terima kasih Kak jaga diri baik-baik, ya!"


^^^"Pelangi. Apa sebaiknya kita resmikan hubungan ini dalam pertunangan terlebih dahulu?^^^


"Aku takut kalau bapak dan ibu tidak setuju dengan rencana ini. Karena saat ini aku masih duduk di kelas 2 SMA."

__ADS_1


^^^"Aku takut kalau nanti kamu berubah pikiran dan mencurigai aku bila Embun terlalu dekat kepadaku."^^^


"Tidak. Aku akan lebih percaya kepada Kak Tama dibandingkan dengan Kak Embun."


^^^"Syukurlah kalau begitu, aku merasa tenang. Apapun yang terjadi nanti, percayalah kepadaku, hanya kamu perempuan yang aku cintai."^^^


***


Senja membantu Embun menyiapkan segala keperluan untuk dibawa besok ke Jakarta. Dia juga sudah membuatkan Syukri dan Mustofa kesukaan Anindita sebagai buah tangan.


"Apa benar kamu tidak ingin diantar oleh kami?" tanya Senja kepada putri sulungnya.


"Tidak perlu, Bu. Kakak sudah besar dan sedang belajar mandiri agar tidak selalu tergantung kepada orang lain," jawab Embun.


"Bapak semalaman tidak bisa tidur karena khawatir kakak. Bapak tidak bisa membiarkan kamu pergi seorang diri," ujar Senja lagi.


Perangi dan Lembayung yang duduk di ruang keluarga hanya saling melirik. Mereka tahu modus embun yang tidak ingin diantarkan oleh kedua orang tuanya.


Suasana di rumah senja nampak sepi karena masing-masing sibuk dengan kegiatan yang masing-masing. Senja sedang membuat kue pesanan Ibu RT untuk acara arisan nanti sore. Sementara itu Lembayung sedang membaca novel di kamar. Pelangi sendiri sedang mencuci piring.


"Nanti kamu sapu dan pel lantai di seluruh rumah! Sejak kamu pergi liburan rumah ini tidak ada yang mengepel," perintah Senja kepada putri keduanya.


"Baik, Bu!" jawab Pelangi.


Begitu selesai mencuci piring, Pelangi langsung mengambil sapu bersihkan seluruh ruangan yang ada di rumah. Saat dia masuk ke dalam kamar milik Embun, ternyata kakaknya itu sedang teleponan dengan Tama.


"Kak Tama, janji, ya! Akan menyebut aku di terminal."

__ADS_1


Terlihat rona bahagia di wajah Embun, saat gadis itu berbicara dengan Tama lewat telepon. Ada rasa cemburu merasakan ke dalam hati Pelangi. Dia sungguh tidak suka melihat kakaknya sedang merayu Tama.


"Terima kasih, Kak Tama! Kakak memang baik sekali. Sampai jumpa esok hari." Embun mematikan hubungan telepon itu.


Pelangi masih menyapu kamar Embun. Dia terkesan Masa bodoh dengan apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya itu. Namun sebaliknya dengan anak sulung pasangan Awan Dan Senja, iya merasa tidak nyaman dengan kehadiran Pelangi di sana.


"Ngapain kamu curi-curi dengar pembicaraan orang lain!" tatapan sinis dilayangkan Embun kepada adiknya.


"Aku tidak sedang mencuri dengar pembicaraan kakak. Tapi aku sedang menyapu kamar yang kotor ini," bantah Pelangi membela dirinya.


Embun yang sedang merasa sangat kesal langsung pergi keluar dari kamarnya. Dia tidak mempedulikan tempat tidurnya yang berantakan.


"Dasar! Bukannya membereskan tempat tidur, malah pergi begitu saja," gerutu Pelangi.


Saat Pelangi menyapu dekat meja belajar, terlihat ada sebuah buku catatan di atas meja sana. Dengan iseng Pelangi membuka buku itu. Ternyata isinya adalah puisi ungkapan perasaan Embun kepada Tama. Kata-kata yang dirangkai begitu indah dan membuat Pelangi terasa menghayati setiap kalimat yang ada di sana.


Pelangi tahu kalau Embun itu begitu suka kepada Tama. Seakan hanya dia satu-satunya lelaki di dunia ini.


"Kenapa aku dan Kak Embun selalu saja bersaing dalam segala?" gumam Pelangi.


"Apa kita memang ditakdirkan harus seperti ini selamanya?" lanjut gadis bersurai bergelombang itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" bentak Embun yang kembali ke dalam kamar dan mendapati Pelangi sedang membaca bukunya.


Kini keduanya sedang berdiri saling berhadapan. Terlihat jelas sorot mata Embun penuh amarah kepada adiknya itu.


***

__ADS_1


Apa yang akan terjadi pada Pelangi dan Embun? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2