
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 62
Pelangi menghabiskan waktu liburan selama dua minggu di rumah Kakek Indra dengan perasaan senang dan puas. Bahkan Anindita juga tinggal selama itu di sana dan mulai menjalin hubungan baik dengan keluarga Candra.
Keluarga pamannya Pelangi juga mendukung hubungan keponakannya itu dengan Tama, asal masih dalam tahap batas kewajaran. Juga jangan sampai mengganggu sekolah dan prestasinya.
Pelangi pulang diantarkan oleh Bagaskara. Sebenarnya ada Tama dan Anindita juga. Namun, mereka semua berpisah di terminal.
"Sayang, hati-hati di jalan. Jangan mau di ajak singgah oleh Bagaskara. Kalau ada apa-apa, telepon aku atau mami," ucap Tama yang kemarin datang lagi untuk menghabiskan waktu liburan bersama Pelangi sebelum akhir masa liburan sekolahnya.
"Siap, Kak! Aku juga tidak mau di ajak jalan-jalan oleh seorang playboy," balas Pelangi dan mendapat pelototan dari kakak sepupunya itu.
Anindita hanya tersenyum melihat putra dan kekasihnya itu. Dia pun memeluk Pelangi sebelum berpisah. Dua minggu tinggal bersama dengannya sangat membuatnya bahagia. Dia sudah tidak sabar rasanya ingin meminang Pelangi untuk anak semata wayangnya.
Pelangi pun pergi terlebih dahulu bersama Bagaskara. Di dalam perjalanan pulang, mereka banyak membicarakan banyak hal.
"Sepertinya, Tama memang benar-benar mencintai kamu apa adanya," ucap Bagaskara.
"Iya. Aku merasa sangat beruntung cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Meski wajah aku ada cacatnya, Kak Tama tidak pernah mempermasalahkan hal ini," balas Pelangi.
Bagaskara tahu di kening Pelangi ada bekas jahitan akibat lemparan piala oleh Embun dahulu saat mereka pergi lomba. Lalu, luka bekas operasi di kepalanya dan sedikit bagian tengkuk. Bahkan rambut milik Pelangi masih sangat pendek. Biasanya dia membiarkan rambutnya tergerai sampai pinggang.
***
Menjelang siang hari Pelangi dan Bagaskara sampai ke rumah Senja. Begitu pulang, hanya ada Lembayung yang datang menyambut mereka. Senja sedang pergi berbelanja untuk bahan-bahan kue membuat pesenannya.
Sementara itu, Embun tidak diketahui keberadaannya entah pergi ke mana. Sebab, Lembayung juga sering liburan sendiri atau bersama teman-temannya. Meski hanya pergi ke mall atau nonton bioskop.
"Apa Kak Bagaskara akan menginap di sini?" tanya Lembayung sambil memeluk tubuh kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Nggak. Karena ada kamar lagi di rumah ini," jawab pemuda yang kini mencubit pipi lembut Lembayung.
Mereka bersenda gurau sampai datang senja yang baru pulang dari pasar. Tukang becak menurunkan banyak sekali barang belanjaan.
"Bang, hati-hati itu telur!" Senja mengingatkan tukang becak yang sedang menurunkan peti telur.
"Iya, Bu. Tenang saja, ini disimpan di tempat biasanya, 'kan?" Tukang becak menggotong dan menyimpan peti itu di pojok ruangan dapur.
"Iya, Bang. Karung terigu sekarang simpan di sini, ya. Biar tidak tercampur sana barang yang kemarin," jelas Senja.
"Ibu, baru pulang belanja?" Pelangi menghampiri Senja dan menyalaminya.
"Iya."
Terlihat raut muka Senja yang datar dan Pelangi merasa kalau ibunya ini sedang marah kepadanya. Tinggal dan sering memperhatikan ekspresi wajah wanita paruh baya itu, membuat si anak gadis tahu apa yang sedang dirasakan olehnya.
"Bibi," panggil Bagaskara dan menghampiri Senja.
"Iya. Selagi masih liburan di kampus. Sekalian mengantarkan Pelangi pulang," jawab pemuda itu.
"Sudah makan?" tanya Senja kepada Bagaskara.
"Belum lapar," jawab Bagaskara.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah. Pelangi pun membuat masakan untuk mereka makan siang bersama.
Setelah makan siang mereka tidur karena kekenyangan. Masakan Pelangi sangat enak, bahkan Bagaskara nambah lagi.
***
Sore hari Embun pulang dengan membawa banyak paper bag. Dia sudah shopping bersama teman-teman sekolahnya sewaktu SMP.
"Bagas?" Embun terkejut melihat kakak sepupunya.
__ADS_1
"Hai, Embun. Kita baru berjumpa lagi ya?" Bagaskara menyeringai.
"Iya. Tumben kamu mainkan sini?" tanya Embun memeluk kakak sepupunya itu setelah menyimpan barang belanjaannya.
"Ya, nggak apa-apa, dong! Aku juga punya hak untuk mengunjungi rumah ini," balas Bagaskara.
Embun menatap nyalang ke arah Pelangi yang sedang membereskan barang belanjaan milik Senja. Dia tidak suka karena adiknya itu sudah menghabiskan waktu senggangnya bersama dengan Tama. Padahal dia yang terus melakukan pendekatan dengan gencar. Akan tetapi, laki-laki itu sering mengabaikan dirinya.
'Dasar wanita gatal!' (Embun)
"Bibi, aku pamit. Takut ke Soreang di jalan," kata Bagaskara, karena hari sudah sore.
"Kenapa tidak menginap saja?" Senja merasa kasihan pada keponakannya ini.
"Besok pagi aku mau ada acara," balas Bagaskara sambil mencium tangan Senja.
"Kalau begitu hati-hati di jalan!" Senja mengingatkan putra kakak iparnya itu.
***
Pelangi baru saja selesai membereskan barang bahan baku yang pembelian kemarin dengan pembelian yang tadi siang. Dia pun mencuci tangannya yang kotor.
"Hei, Pelangi! Ngapain saja kamu liburan di rumah kakek?" tanya Embun tiba-tiba.
"Ya, mendatangi wisata yang ada di dekat sana," jawab Pelangi tidak memalingkan wajahnya. Dia masih membersihkan tangan memakai sabun.
"Bukannya dulu sudah aku peringatkan kamu. Jangan dekati Kak Tama! Karena aku menyukai dia," kata Embun dengan suara nyaring.
"Tapi, Kak Tama tidak menyukai kamu," balas Pelangi dan membalas tatapan tajam Embun
***
Apa yang akan terjadi pada kedua kakak beradik itu? Akankah ada pertarungan antar keduanya? 😁 Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1