
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 29
Embun yang sedang duduk manis di atas karpet lirik ke arah orang-orang yang sedang menatap dirinya. Dia merasa tidak suka dengan tatapan mereka.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Embun sampai memicingkan matanya.
"Kenapa kamu tidak membalas pesan dari Pelangi? Lalu, kenapa juga kamu selalu merasa sibuk sampai lupa dengan pesan yang dikirim oleh Pelangi?" tanya Awan.
Mendapat pertanyaan seperti ini dari ayahnya, membuat Embun merasa sedang dihakimi akan suatu kesalahan yang sudah diperbuatnya. Dia paling tidak suka situasi seperti ini.
"Lupa itu ajar, Pak. Namanya juga manusia pasti pernah merasakan yang namanya lupa," balas Embun dengan helaan napas.
"Entah kenapa yang Bapak rasakan kalau kamu tidak ingin memberitahu keadaan Pelangi kepada kita. Seakan adikmu ini yang tidak mau menghubungi kita karena terlalu asyik bersenang-senang." Awan merasa kalau Embun itu selalu iri kepada Pelangi.
"Sengaja mungkin, Pak. Agar Kak Pelangi dimarahi oleh ibu saat pulang dari liburannya," balas Lembayung yang sedang tiduran di paha ibunya.
"Jangan fitnah, Dek! Kamu yang ingin membuat kakak terlihat buruk di hadapan ibu dan bapak. Iya, 'kan?" bentak Embun sambil berdiri di hadapan Lembayung.
Lembayung membalas tatapan mata menyalang dari Embun. Dia yang dalam fase remaja labil terus saja membalas semua kata-kata dan berkelakuan semaunya.
__ADS_1
"Loh, bukannya Kakak yang selalu ingin membuat aku dan Kak Pelangi terlihat buruk di depan ibu dan bapak. Semua orang mengira kalau Kak Embun adalah anak yang baik. Menurut aku justru Kakak ini orang yang licik dan mau menang sendiri!" balas Lembayung dengan tidak kalah kerasnya.
Pelangi yang sedang duduk di atas karpet melihat ke arah kedua saudaranya itu. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka, selama dia pergi berlibur kemarin.
Lembayung itu tipe orang yang masa bodoh pada orang lain. Biasanya dia tidak suka ikut campur urusan orang, meski itu adalah saudaranya.
"Diam! Kenapa kalian berdua malah bertengkar seperti ini?" Senja menatap tajam pada kedua putrinya yang sedang bersitegang.
"Kakak ... Adek, kenapa kalian bertengkar? Ada masalah apa?" tanya Awan dengan lembut, dia berharap kedua putrinya itu juga bisa lebih tenang.
Embun dan Lembayung akhirnya pergi ke kamar masing-masing. Kedua gadis itu sedang dalam egonya. Selain itu mereka juga sama-sama keras kepala.
"Nasehati adik kamu itu!" titah Senja kepada Pelangi.
Dilihatnya Lembayung yang sedang duduk di kursi meja belajar. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas meja belajar.
"Kenapa sih, Dek. Kamu terlihat marah sekali sama kak Embun?" tanya Pelangi sambil membelai rambut Lembayung yang lurus dan selalu jatuh tergerai indah.
"Tahu nggak, Kak. Uang yang bapak kasih buat beli handphone aku, itu malah dipakai ibu buat beli keperluan Kak Embun untuk kuliah nanti. Kesal nggak?" Lembayung mengungkapkan kekesalannya.
Perangi tahu bagaimana perasaan Lembayung saat ini, karena dulu juga dia sering mengalami hal itu. Awan memberikan uang pada Senja untuk kebutuhan sekolah Pelangi, tetapi ibunya tidak memberikan uang itu kepadanya.
"Kakak dulu sering mengalami hal seperti ini. Bukan hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali," balas Pelangi.
__ADS_1
Lembayung terperangah, dia sangat terkejut banget. Ternyata hal seperti ini juga terjadi kepada Pelangi.
"Benarkah, Kak?" tanya Lembayung. Dia tahu kalau ibunya selalu mengutamakan keperluan kakak sulungnya.
"Apa kamu tahu alasan kenapa kakak sering jual makanan milik tetangga?" tanya anak kedua pasangan Awan dan Senja.
"Untuk menambah uang jajan dan membeli barang-barang yang ingin kakak beli," jawab Lembayung yang kini duduknya pindah ke atas tempat tidur mengikuti Pelangi.
"Ya itu alasan sebagian, tapi yang pertama adalah untuk memenuhi keperluan sekolah kakak, karena setiap meminta uang pada ibu alasannya selalu tidak punya uang, sedangkan saat minta kepada bapak, dia bilang uangnya semua sudah dikasihkan ke ibu," ujar Pelangi.
Lembayung pun manggut-manggut membenarkan ucapan Pelangi, kalau Embun itu terlalu di istimewa di dalam keluarganya. Semua keperluan dia selalu diutamakan dibandingkan dengan kedua adiknya.
"Memangnya uang yang dipakai ibu untuk memberi keperluan Kak Embun, berapa? Sampai tidak bisa membeli handphone untuk kamu?' tanya gadis berbadan langsung singset.
"Tidak tahu. Hal yang jelas, Ibu bilang kalau uangnya sudah habis dipakai untuk dibelanjakan semuanya untuk keperluan Kak Embun. Tadi aku sangat kesal sekali, apalagi setelah tahu tujuan dia kuliah di Jakarta," ucap si anak bungsu.
Lembayung tahu itu semua dari membaca pesan yang ada di handphone-nya dia tadi. Saat ada pesan dari teman Embun masuk, yang awalnya cuma penasaran jadi kepanasan.
***
Apakah hubungan Embun dan kedua saudaranya akan berdamai atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya, bagus dan seru banget Cus kepoin novelnya.
__ADS_1