Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 60. Bagaskara


__ADS_3

Bab 60


Pelangi yang merasa senang akhirnya menghubungi Tama dan memberitahu apa yang dia rencanakan. Gadis itu berharap kalau kekasihnya itu setuju dengan idenya.


"Bagaimana, Kak Tama? Kakak saya tanyakan dengan ide aku barusan?"


^^^"Jadi kita hanya bisa berliburan di akhir pekan dan hari pekan saja?"^^^


"Ya, mau bagaimana lagi. Hanya itu waktu yang Kakak punya untuk hari libur.


^^^"Aku akan mengambil cuti di hari Senin."^^^


"Benarkah? Jadi, kita bisa lebih lama satu hari liburannya."


^^^"Iya, Sayang."^^^


***


Pelangi pun menghubungi Anindita. Tentu saja wanita itu sangat bahagia. Dia mendukung liburan putranya dengan sang kekasih.


^^^"Kalau begitu Mama akan ke sana besok dan mencari tempat untuk tinggal sementara di sana."^^^


"Tidak perlu di sini ada rumah milik kakek di samping rumah paman. Mami dan kak Tama bisa tinggal di rumah itu."


^^^"Oh, benarkah? Kalau begitu kita bisa bersama terus dari pagi sampai malam, dong!"^^^


Mendengar ucapan Anindita barusan membuat perang merasa malu. Dia tersenyum malu-malu karena membayangkan selama tiga hari dia akan terus melihat Tama.


"Iya, Mami."


^^^"Kalian berdua pasti senang, 'kan?"^^^


***


Keesokan harinya Anindita sudah sampai ke rumah kakek Indra. Kedatangannya disambut gembira oleh Pelangi dan keluarga di sana.


"Paman … Bibi, kenalkan ini Mami Anindita," kata Pelangi mengenalkan wanita paruh baya itu kepada keluarga dari pihak ayahnya.

__ADS_1


"Oh, ini calon mertuamu itu, ya?" Candra menggoda keponakannya sambil tertawa.


Mendengar godaan pamannya barusan membuat Pelangi malu. Kemarin dia memberitahu kepada paman dan ibunya akan kedatangan tamu kenalan dia dan Kakek Indra menjelaskan siapa tamu itu.


"Perkenalkan saya, Anindita. Maminya, Tama. Putra saya sebentar lagi akan sampai, karena dia berangkat dari Surabaya."


Anindita duduk di sofa ruang. Di waktu yang bersamaan datang Kakek Indra dan senang bisa bertemu kembali dengan wanita anggun ini.


"Jangan sungkan-sungkan, anggap saja kami adalah keluarga sendiri. Sepertinya di masa yang akan datang hubungan kita ini akan semakin erat," ucap Kakek Indra dengan senyum ramahnya.


"Semoga saja jalinan hubungan Itu terjadi dengan mudah. Tidak ada hal yang menghambat kebahagiaan anak dan cucu kita," balas Anindita dengan senyum tipisnya.


Kakek Indra tahu maksud perkataan Anindita barusan. Sebab ada Embun yang akan menjadi penghalang hubungan Pelangi dan Tama.Β 


"Aku berharap Pelangi bisa hidup bahagia bersama orang-orang yang menyayangi dan mencintai dirinya," pungkas Kakek Indra


Mereka pun berbincang-bincang sambil memperkenalkan diri. Sampai 30 menit berlalu terdengar suara motor berhenti di depan rumah.


Pelangi yang sebelumnya sudah mendapatkan pesan dari Tama. Kalau dia sudah sampai ke terminal dan akan naik ojek ke rumah kakek Indra. Maka, dengan segera dia berdiri dan berjalan ke teras rumah.


"Kangennya." Tama pun membalas pelukan itu.


Kedua sejoli itu saling berpelukan di depan rumah. mereka baru melepaskan setelah mendengar suara dehaman keras dari Kakek Indra.


Tama pun menyalami Kakek Indra dan menanyakan kabarnya. Ternyata di waktu yang hampir bersamaan datang Bagas yang baru pulang dari kegiatan kemah yang diadakan oleh organisasi mahasiswa di kampusnya.


"Loh, ada Pelangi?" tanya Bagaskara begitu dia masuk ke pintu gerbang.


"Kak Bagas!" Pelangi pun memeluk tubuh kakak sepupunya.


"Sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Bagaskara sambil memegang kepala gadis itu.


"Sudah beberapa hari. Ibu, Kak Embun, dan Lembayung baru saja pulang kemarin," jawab Pelangi.


"Wah, kita tidak bisa liburan bersama, dong!" Bagaskara memencet hidung Pelangi.


Tama yang melihat keakraban Bagaskara dan Pelangi merasa cemburu. Dia sangat tidak suka ada laki-laki yang menyentuh Pelangi, meski dia adalah kakak sepupunya.

__ADS_1


Bagaskara pun menatap ke arah Tama. Dia tersenyum dan mengeluarkan tangannya.


"Aku, Bagaskara. Kakak sepupu Pelangi. Kamu siapa?" tanya lelaki yang berbadan tegap itu.


"Arya Aditama, kekasih Pelangi." Tama membalas uluran tangan Bagaskara.


Bagaskara pun tersenyum senang karena ada yang benar-benar mencintai dan menyayangi Pelangi. Selama ini keluarganya tahu kalau Pelangi terlihat pantas untuk dikasihani, karena perlakuan yang didapatkan dari ibunya yang seakan dia itu seorang ibu tiri saja.


"Aku mohon jaga dan lindungi Pelangi. Karena dia adalah adikku yang sangat berharga," kata Bagaskara.


Tama pun menganggukkan kepalanya. Dia senang kalau Bagaskara pun menyayangi Pelangi sebagai adik.


"Tentu saja, karena aku sangat mencintainya," ujar Tama sambil tersenyum tipis.


***


Tama dan Anindita tinggal di rumah kakek Indra yang ada di samping rumah Candra. Sebelumnya ditinggali oleh Pelangi dan Senja saat liburan kemarin.


"Kita akan membakar ikan untuk makan malam apa mau ikutan?" tanya Pelangi kepada Tama dan maminya.


"Mau!" jawab keduanya.


Mereka pun membakar ikanΒ  di halaman belakang. Selain itu mereka juga membakar jagung. Keakraban terjalin di antara mereka. Mega juga cocok berteman dengan Anindita. Begitu juga dengan Tama, yang bisa akrab dengan Bagaskara dan Candra.


"Apa kamu yakin ingin menikahi Pelangi?" tanya Bagaskara sambil mengipasi jagung bakarnya..


"Iya. Aku sudah terlanjur cinta kepadanya dan tidak mau kehilangan dirinya," jawab Tama yang membolak-balikkan jagung agar masak merata.


"Kamu harus mempersiapkan hati jika terjadi hal terburuk," ucap Bagaskara.


DEG!


Jantung Tama terasa mau copot. Dia memikirkan hal terburuk apa yang akan dia temui dalam menjalin hubungan dengan Pelangi nanti.Β 


***


Apa maksud dari ucapan Bagaskara? Tunggu kelanjutannya, ya! πŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“ Tinggal 4 hari lagi, ya 😁.

__ADS_1


__ADS_2