Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 67. Lamaran (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 67


Senja dan Anindita berbicara berdua di sebuah restoran yang jaraknya jauh dari rumah. Keduanya kini duduk berhadapan.


"Aku dengar kamu melarang Pelangi untuk berhubungan dengan Tama?" Anindita menatap tajam pada wanita berbaju kuning yang menatap padanya juga.


"Aku dan mendiang suami, melarang anak-anak berpacaran selama mereka masih sekolah," balas Senja.


"Bagaimana jika aku ingin melamar Pelangi untuk dijadikan istri Tama? Mereka akan menikah begitu Pelangi lulus sekolah. Dia akan kami kuliahkan agar cita-citanya bisa tergapai sesuai amanat Pak Awan," ucap Anindita.


Senja terdiam sejenak, dia ingin memikirkan baik-baik keinginan wanita anggun di depannya ini. Baginya daripada Pelangi pacaran tanpa kejelasan masa depan, lebih baik mencari masa depan yang pasti.


"Apa Pelangi tahu akan hal ini?" tanya Senja penasaran.


"Tidak. Kami belum mengatakan hal ini padanya. Ini adalah keinginan Tama setelah Pelangi memutuskan hubungannya, bahkan memblokir semua akun media sosial milik Tama. Ini membuat putra semata wayang aku merasa stress karena menahan rasa rindu pada gadis yang di itu," jawab ibunya Tama.


Senja terdiam mendengar pengakuan dari ibu beranak tunggal ini. Dia juga merasa kalau Pelangi juga menjadi lebih pendiam di saat membantunya.


"Apa kamu yakin ingin menjadikan Pelangi menantu kamu?" tanya Senja dengan tegas dan terkesan dingin.


"Iya. Tentu saja. Hanya dia satu-satunya perempuan yang dicintai oleh putraku," jawab Anindita dengan tegas dan yakin.

__ADS_1


"Apa kamu dan Tama mau berjanji akan membuat Pelangi bahagia?"


"Iya, itu yang akan lakukan. Bahkan kami akan memperlakukan Pelangi jauh lebih baik dari apa yang kamu lakukan untuknya," ucap Anindita dengan nada sindiran.


Senja tersenyum tipis. Dia memang tidak bisa memungkiri dirinya kalau memperlakukan Pelangi dengan kurang baik. Dia suka lebih mengutamakan Embun, anak yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.


"Jika kamu dan Tama tidak menepati janji untuk membahagiakan Pelangi, maka aku tidak akan segan-segan membawanya kembali," balas Senja.


Senyum lebar menghiasi wajah Anindita. Ini merupakan lampu hijau bagi hubungan putra kesayangannya dengan gadis malang.


"Baiklah, nanti malam kami akan mendatangi rumah kalian. Aku ingin secepatnya memperjelas hubungan mereka dan masa depan anak-anak kita," pungkas wanita uang berusia kepala lima, tetapi masih terlihat segar.


"Baiklah, aku akan menantikan kehadiran kalian. Akan lebih baik jika kita bertemu di luar seperti ini lagi, karena putriku yang bernama Embun, menaruh hati pada putramu. Aku tidak mau melukai dua hati anakku jika terjadi percekcokan hanya gara-gara seorang laki-laki," ucap Senja dan Anindita setuju.


"Baiklah, kita akan bertemu di sini lagi malam nanti," kata Anindita dan disetujui oleh Senja.


Senja berdandan dengan sangat cantik dan elegan. Membuatnya jauh terlihat lebih muda. Tadi siang dia sudah membicarakan hal ini dengan Pelangi dan tentu saja itu membuat putri kedua sangat bahagia.


"Ibu mau ke mana? Tumben malam-malam berdandan cantik," tanya Lembayung.


Senja lupa dengan putri bungsunya ini. Dia merasa kasihan jika meninggalkan anaknya sendirian di rumah.


Pelangi pun berdandan dengan sangat cantik dan anggun, layaknya calon mempelai wanita yang akan dipinang.


"Kalian kok, pada berdandan cantik seperti ini. Mau ke mana?" tanya Lembayung dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Bu, Adek ajak juga. Kasihan jika dia sendirian di rumah," ucap Pelangi pada ibunya sambil memegang lengannya.


"Kamu mau ikut ke acara lamaran Pelangi?" tanya Senja pada putri bungsunya ini.


"Apa? Kak Pelangi mau dilamar oleh Kak Tama?" tanya Lembayung dengan pekikan karena merasa sangat terkejut.


"Iya, Dek. Menurut Kak Tama dan Mami ini adalah cara terbaik agar hubungan kita mendapatkan restu dari Ibu," bisik Pelangi dan Lembayung pun mengangguk.


"Oke. Aku juga mau ikut!"


Lembayung segera mempersiapkan dirinya. Kini hanya ada Pelangi dan Senja di ruang keluarga itu.


"Kamu jangan memberi tahu dulu pada Embun tentang hubungan kalian nanti. Jika, dia sudah menyerah pada Tama, baru kalian boleh memberi tahu dia tentang pertunangan ini," ucap sang ibu.


"Iya, Bu. Semoga saja, kak Embun secepatnya punya tambatan hati yang baru," lanjut Pelangi.


"Ya, semoga saja. Sebelum Embun tahu tubungan kamu dengan Tama, dia sudah mengenalkan seorang laki-laki pada ibu sebagai calon suaminya," ujar Senja dengan penuh harap.


"Ibu, aku sudah siap!" Terlihat Lembayung yang berpenampilan menarik dan sopan.


"Cantiknya anak ibu. Coba kamu tiap hari itu berpenampilan anggun seperti ini. Pasti akan terlihat lebih baik," tutur Senja.


"Jadi, kita akan berangkat sekarang?" tanya Pelangi.


"Ayo, berangkat!" seru Lembayung dengan penuh semangat.

__ADS_1


***


Apakah acara lamaran Pelangi bisa berjalan dengan lancar? Atau akan ada gangguan? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2