Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 30. Pesan Di Handphone


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 30


"Memangnya pesan apa yang ada di kirim oleh teman Kak Embun?" tanya Pelangi penasaran. Entah kenapa dia merasa takut kalau itu ada hubungannya dengan Tama.


"Tapi Kakak jangan marah sama aku, ya?" balas Lembayung dengan tatapan mata yang lekat kepada Pelangi.


Gadis bersurai hitam bergelombang itu pun menganggukkan kepalanya. Dia mana mungkin bisa marah kepada adiknya tanpa sebab, apalagi ini pesan dari temannya Kak Embun.


Flashback


Beberapa saat setelah Pelangi pulang ke rumah. Senja pun pergi ke dapur untuk memasak sedangkan Embun pergi ke kamar mandi. Lembayung yang sedang tiduran di sofa dikejutkan dengan bunyi pesan yang sangat banyak nomor handphone milik Embun.


"Siapa sih, yang kirim pesan banyak sekali. Kenapa tidak di satu kolomkan saja dalam sekali kirim pesan," gumam Lembayung.


Iseng-iseng Lembayung melihat siapa pengirim pesan. Orang itu ternyata adalah Dina sahabat baik Embun. Remaja yang mempunyai rasa penasaran tinggi itu pun langsung membuka pesan itu. Ternyata pesan itu isinya sangat banyak. Ini isi pesan percakapan antara Embun dan Dina.


^^^Embun, jadikan kita kuliah di Jakarta?^^^


Jadi, dong. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan biar bisa dekat dengan Kak Tama.


^^^Tama itu laki-laki, si Cinta Pertama yang kamu sering bicarakan, dulu itu, 'kan?^^^


Ya. Aku selalu berpikiran ingin pulang pergi kuliah itu bersama Kak Tama dan menjalani kisah cinta ala anak muda.


^^^Dia tampan dan cerdas. Ditambah sudah kerja di tempat yang oke. Siapa yang tidak suka kepadanya. Beruntung banget jika kamu bisa pacaran dengan dia.^^^


Awas, ya! Kalau nanti kamu juga jatuh cinta sama Kak Tama. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu.


^^^😆😆😆 tenang saja. Aku akan cari laki-laki yang lebih hebat dari dia.^^^


Kak Tama itu hanya punya aku. Aku sudah benar-benar cinta padanya sejak dulu.

__ADS_1


^^^Iya, Kak Tama itu hanya punya kamu.^^^


...15.15...


^^^Embun, besok berangkat jam berapa?^^^


^^^Kamu jadi nggak diantar sama orang tua kamu?^^^


^^^Aku, Mita, dan Lisa akan diantar sama orang tua.^^^


^^^Hanya kamu dan Hany yang pergi tanpa orang tua.^^^


...15.17...


^^^Embun, jam berapa berangkat? Kata ayah biar sekalian di jemput^^^


^^^Kita semua akan senang jika bisa berangkat bersama.^^^


^^^Apa Kak Tama akan.datang langsung^^^


Flashback off.


***


"Kak Embun itu ingin kuliah di ibu kota, hanya agar bisa bersama Kak Tama. Kesal nggak, kalau dia itu kuliah untuk mencari laki-laki dan dijadikan pacar," ucap Lembayung bercerita.


Pelangi juga sangat terkejut mendengar cerita dari Lembayung. Dia tahu kakaknya itu suka terhadap Tama sudah sejak lama. Dia tidak menyangka kalau kakaknya ini akan menceritakan sosok Tama kepada orang lain.


"Kita jangan berpikiran buruk. Mungkin saja mereka sedang bercanda," kata Pelangi sambil menyeringai kaku.


"Mana ada orang bercanda sambil memberi ancaman seperti itu. Semoga saja kak Tama tidak pernah jatuh cinta sama kak Embun, biar tahu rasa dia." Lembayung bicara dengan sangat berapi-api.


Pelangi hanya tertawa kecil mendengar perkataan adiknya ini. Dia juga tahu kalau hati Tama sudah menjadi miliknya, begitu juga dengan sebaliknya, hati dia sudah menjadi milik pemuda itu.


"Kakak, sudah punya orang yang di sukai?" tanya Lembayung dan membuat tawa di wajah Pelangi langsung terhenti.

__ADS_1


Ditanya seperti itu oleh adiknya, membuat Pelangi bingung harus menjawab apa. Mana mungkin dia mengaku sudah pacaran dengan Tama, sang pujaan hatinya.


"Kakak sedang fokus belajar agar nanti bisa lulus sekolah dengan nilai terbaik dan masuk universitas terbaik juga," jawab Pelangi yang menurutnya lebih aman dan realistis.


Lembayung pun manggut-manggut. Dia dan Pelangi sering belajar dengan giat dan sangat disiplin keras agar bisa mencapai nilai yang diinginkan. Tentu saja tidak akan sempat punya waktu untuk berpacaran.


"Lalu, kamu? Apa sudah punya orang yang disukai?" tanya Pelangi.


Ditanya balik seperti itu membuat Lembayung memalingkan wajah. Dia tidak mau kalau kakak keduanya itu melihat rona di pipinya.


"Bapak dan ibu melarang kita untuk berpacaran," jawab Lembayung dengan pelan terdengar ada nada kekecewaan di sana.


Ya, Awan dan Senja melarang anak-anak mereka untuk berpacaran. Mereka takut kalau anak-anaknya jatuh terjerumus pada pergaulan bebas atau melakukan hubungan badan sebelum adanya pernikahan. Bahkan akan menanggung malu seumur hidup jika sampai anak gadisnya hamil di luar nikah. Jadi, salah satu solusi paling tepat adalah melarang mereka berpacaran.


Ruang kamar yang kecil itu menjadi saksi kedua gadis itu harus menahan rasa sukanya kepada orang terkasih. Meski Pelangi sudah ada ucapan dan ikatan di antara dirinya dan Tama, tetapi dia tidak bisa melakukan komunikasi saat sedang berada di rumah.


***


Sementara itu, di kamar milik Embun. Si pemilik kamar tidur itu sedang mondar-mandir dengan resah. Sebab, pesan yang sudah dia kirim pada Tama belum juga dibaca olehnya. Selain itu, dia juga tahu kalau tadi ada yang diam-diam membaca pesan kiriman dari temannya.


"Siapa orang yang sudah membaca pesan aku, ya?"


"Lembayung? Dia tadi ada di ruangan itu, 'kan?"


"Atau, Pelangi? Eh, dia tadi masuk ke kamarnya dan tidak keluar-keluar. Tapi, bisa saja pas aku lagi ke toilet di keluar kamar dan membaca pesan itu!"


Embun mengacak-acak rambutnya. Dia sangat kesal jika ada orang yang sudah melanggar atau mengusik privasi milik dia.


"Akan gawat kalau ibu yang buka pesan itu! Tidak, tidak, tidak! Ibu akan selalu melindungi aku. Ibu tidak suka saat melihat aku sedih dan ketakutan."


"Pasti akan aman kalau ibu yang buka. Justru sebaliknya jika Pelangi dan Lembayung yang buka pesan itu."


***


Akankah Lembayung dan Pelangi membongkar kedok Embun? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2