
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 36
Pelangi tersadar saat sudah lewat tengah hari. Dia merasakan badan dan kepalanya terasa sangat sakit. Dia melihat ke sekeliling, hanya ada dia di sana. Namun, terdengar banyak suara orang-orang di balik tirai.
Dia ingin menyibakkan tirai itu untuk melihat keadaan di luar sana. Dia juga ingin mengetahui keadaan bapaknya. Sekuat apapun dia mencoba mengulurkan tangannya, tetap tidak bisa.
'Bapak.'
'Apa dia baik-baik saja?'
'Kenapa suara aku tidak bisa keluar.'
Tidak lama kemudian ada Embun membuka gorden yang menjadi penyekat. Matanya membulat terlihat senang saat melihat Pelangi sudah membuka matanya.
"Pelangi, akhirnya kamu membuka mata juga." Embun menangis sambil memeluk tubuh adiknya. Dia menangis dengan cukup kencang.
Pelangi yang sebenarnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tidak bisa bilang karena suaranya tidak keluar. Muncul ketakutan dalam dirinya kalau dia sekarang menjadi bisu.
'Tidak. Aku tidak mau menjadi bisu. Aku mau bisa bicara kembali.' Pelangi bicara dalam hatinya dan merasa frustrasi.
"Mana saja yang sakit? Biar dokter periksa ulang lagi," tanya Embun sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Pelangi menunjuk mulutnya dan memberi kode kalau dia tidak bisa berbicara saat ini. Air matanya juga tumpah takut kalau dia akan bisu selamanya.
"Jangan bilang kalau kamu tidak bisa bicara, Pelangi?" Air mata Embun semakin berderai.
Pelangi hanya menganggukkan kepalanya. Embun pun langsung memanggil dokter.
"Dokter! Dokter! Cepat ke sini. Adikku sudah sadar dan dia tidak bisa bicara," teriak Embun sambil menangis.
***
"Barusan orang yang pergi ke rumah sakit bilang, kalau dokter sudah angkat tangan akan kondisi Awan," bisik warga yang berjenis kelamin laki-laki.
Lembayung yang mendengar itu kembali menangis dengan histeris. Dia tidak mau kalau harus kehilangan sosok ayahnya itu.
"Pak, tolong bapak aku." Lembayung mengguncangkan lengan lelaki paruh baya yang sering di panggil Pak RT oleh warga di sana.
Senja yang baru sadar karena mendengar suara teriakan Lembayung, kini serasa langit di atasnya runtuh. Dadanya sesak, suara dia tidak bisa keluar, dan air matanya seakan mengering.
Sementara itu, Lembayung masih menangis histeris dalam dekapan Bu RT. Gadis itu tiada henti mengeluarkan air mata kesedihan dan kesakitan.
"Kita ke rumah sakit," kata Pak RT.
"Tolong antarkan kami, Pak," pinta Senja.
"Kita berangkat pakai mobil saya saja. Kepada yang lainnya tunggu di sini saja. Nanti saya akan memberi tahu keadaan di sana. Jika terlalu banyak orang nanti dilarang menjenguk oleh pihak rumah sakit," jelas Pak RT.
__ADS_1
Senja dan Lembayung di antar oleh keluarga Pak RT ke rumah sakit. Semua orang berharap ada keajaiban, sehingga Awan dan Pelangi bisa sehat kembali.
***
Dokter pun memeriksa keadaan Pelangi. Mereka ingin tahu penyebab gadis malang ini tidak bisa berbicara lagi.
"Adik saya kenapa, Dok?" tanya Embun.
"Adik Nona sepertinya mengalami speech impairment," jawab Dokter itu.
[Adanya riwayat kecelakaan terutama trauma kepala dapat menyebabkan berbagai efek samping pada korban kecelakaan salah satunya adalah tidak dapat berbicara atau disebut juga dengan speech impairment atau tuna wicara. Tuna wicara sendiri merupakan suatu kondisi dimana adanya hendaya atau ketidakmampuan dalam berbicara dan berbahasa. Tuna wicara dapat ditemui sejak lahir, dimana hal ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Secara definisi, tuna wicara merupakan gangguan atau hambatan yang dialami oleh anak sehingga sulit melakukan komunikasi secara verbal yang dimengerti oleh lawan bicaranya. Secara umum, tuna wicara diklasifikasikan dalam bentuk: Keterlambatan berbicara, gagap, kehilangan kemampuan berbahasa, dan kelainan suara.
Sedangkan penyebab dari tuna wicara dapat disebabkan saat sebelum lahir, kelahiran dan setelah kelahiran, dimana pada penyebab setelah kelahiran salah satunya dapat dipicu oleh infeksi pada selaput otak. Pada tunawicara dapat di usia dewasa atau adult speech impairment, kondisi ini sering disebabkan oleh adanya kelainan pada otak dan sering disebabkan oleh trauma kepala. Selain trauma kepala, adanya tumor pada otak, stroke atau dimentia juga dapat menyebabkan speech impairment pada orang dewasa.
Karena area Broca dan area wernicke pada otak serta saraf krnial yang mempengaruhi proses berbicara yaitu saraf kranial ke lima, ke tujuh, ke delapan, ke sembilan, ke sepuluh, dan ke dua belas. Sehingga pada kasus speech impairment yang terjadi pada usia dewasa, sering kali kelainan dan kerusakan pada area otak di area Broca dan Wernicke mempengaruhi kemampuan berbicara pasien. Pada trauma kepala, pasien dapat mengalami pendarahan pada otak di area tersebut, atau kerusakan pada area tersebut setelah trauma. Sehingga kemampuan berbicara terganggu, kemampuan berbahasa terganggu, kelainan suara, kemampuan artikulasi juga dapat terjadi.
Oleh karena itu, pada trauma kepala, terutama trauma kepala berat, dimana pasien mengalami gangguan kesadaran dan respon tubuh hilang, atau tampak benturan dan cedera pada kepala maka risiko komplikasi setelah trauma kepala berat dapat berupa gangguan berbicara atau impairment lainnya, seperti gangguan ingatan, gangguan pendengaran, kejang, atau gangguan mental.] Sumber: Alodok
Embun tidak tahu apa itu penyakit atau efek gejala yang diakibatkan oleh kecepatan yang mana kepala Pelangi mendapat benturan keras. Meski dia dan Pelangi sering tidak akur, tetapi dia juga tidak mau kalau adiknya sampai mengalami hal itu.
"Dok, apakah ini bisa disembuhkan?" tanya Embun dengan suaranya yang bergetar.
***
Apakah Pelangi akan bisa bicara lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1