Ibu, Aku Juga Anakmu

Ibu, Aku Juga Anakmu
Bab 45. Masa Lalu


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 45


17 tahun yang lalu


Terlihat Senja sedang terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Sementara itu Embun yang masih balita sedang duduk di lantai bermain seorang diri.


"Bu," panggil Embun dan merangkak ke arah Senja.


"Ada apa, Nak? Ibu sedang sakit. Kamu main sendiri dulu, ya!" suruh Senja kepada Embun yakin duduk di sampingnya sambil memegang boneka Barbie.


Kamar tidur berukuran 2,5 X 3 meter itu hanya berisi satu kasur lantai dan lemari baju berukuran sedang. Senja dan Awan belum memiliki banyak barang, karena rumah mereka masih baru selesai di bangun.


Akan tetapi, Embun ingin bermain bersama dengan ibunya. Dia menangis karena keinginannya tidak dituruti. Boneka yang sedang dipegangnya dilemparkan ke arah lemari.


"Sayang, tidak boleh begitu itu tidak baik," ucap Senja sambil bangun dari tidurannya.


Senja dengan bersusah payah bangunan dan mengambil boneka yang jaraknya kurang dari 2 meter. Sambil menahan rasa sakit di perutnya, Senja pun duduk dan bermain dengan Embun. Kini balita itu bermain dengan gembira.


Awan buru-buru pulang dari berdagangnya, karena tadi pagi dia melihat keadaan Senja yang sepertinya kurang enak badan. Dia pun membelikan makanan yang enak dan obat untuk sang istri, karena biasanya Senja selalu mengeluh sakit maag.


"Bu, makan dulu, ya! Lalu minum obatnya. Kalau masih sakit nanti kita ke pergi dokter untuk diperiksa.


"Pergi ke dokter itu sangat mahal, Pak. Ibu cukup dikasih obat warung saja," kata Senja.


"Tidak bapak tidak suka melihat ibu dalam keadaan sakit dan lemas seperti ini. Lihat Embun, dia tidak terlihat aktif dan gembira seperti biasanya," ujar Awan sambil menyuapi Senja.


Setelah setelah makan Senja pun meminum obatnya. Dia sangat berharap rasa sakit di perutnya akan hilang. Namun, hal ini malah membuat sakit Senja semakin parah. Dia muntah-muntah di kamar karena tubuhnya sangat lama dan tidak bisa berjalan.


Awan pun mengurut punggung istrinya agar semua makanan yang ada di dalam perutnya bisa keluar. Awan juga menggosok badan Senja dengan menggunakan minyak telon milik Embun. Setelah itu dia mengepel lantai karena banyak muntah yang dikeluarkan oleh Senja.

__ADS_1


Indra dan istrinya yang kebetulan menjenguk ke rumah baru Awan. Mereka dikagetkan dengan kondisi tubuh sang menantu yang tidak berdaya.


"Cepat bawa ke dokter, istri kamu itu Awan!" perintah Kakek Indra.


"Iya. Biarkan Embun bersama kami di sini," lanjut Dewi, istri Indra.


Awan pun membawa Senja ke dokter yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka. Dia ke sana berlari sambil menggendong Senja. seperti yang merasakan tubuh Senja sangat dingin sekali. Bahkan keringatnya membasahi sekujur tubuh dia.


"Bu, yang kuat, ya! Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah Pak Dokter," ucap Awan.


Begitu sampai di sana Awan pun meminta dokter untuk segera memeriksa keadaan istrinya. Apalagi wajah Senja kini terlihat pucat pasi.


"Baringkan dulu ibunya di sini, Pak! Akan saya periksa," titah laki-laki itu sambil menunjuk brankar.


Setelah Senja berbaring, maka Dokter pun langsung memeriksa menggunakan stetoskop. Digeser-geserkannya benda itu dari dada dan perut.


"Sepertinya istri Anda sedang hamil muda kata dokter itu," ucap Dokter itu.


"Hamil? Istri saya hamil, Dok?" Awan tidak percaya.


"Sebaiknya Bapak bawa Ibu ke Bidan atau Dokter Kandungan. Untuk memastikan usia kandungan dari ibu Senja saat ini," saran dokter.


Awan pun hanya mengangguk. Sebab, dia sudah tidak punya uang lagi untuk pergi ke Bidan dan memeriksakan kehamilan istrinya.


"Jadi muntah-muntah tadi itu karena dia sedang hamil?" tanya Awan.


"Iya. aku tadi memeriksa keadaan lambungnya baik-baik saja," jelas Dokter.


Awan pun pulang terlebih dahulu ke rumah. Kali ini dia berjalan dengan lunglai karena bingung sudah tidak punya uang lagi. Keuntungan dari hasil dagang hari ini sudah digunakan untuk membayar dokter barusan. Sekarang yang tersisa adalah uang mudah untuk membeli bahan baku dagangannya.


***


"Bagaimana keadaan Senja?" tanya Kakek Indra begitu Awan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kata dokter Senja sedang hamil muda. Dan kita disuruh untuk memeriksakannya ke bidan," jawab Awan dengan lesu.


"Jadi, kita akan punya cucu lagi!" pekik Kakek Indra senang begitu juga dengan Nenek Dewi.


"Sebaiknya kamu bawa ke bidan. Ini ada uang buat biaya periksa ke sana," kata Nenek Dewi sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


"Terima kasih, Bu." Awan terharu akan kebaikan kedua orang tuanya.


Awan pun membawa Senja yang kondisinya antara sadar tidak sadar. Kali ini dia pergi dengan naik angkot karena jaraknya agak jauh. Selain itu, jika dia berjalan kembali Senja merasakan perutnya seperti dikocok dan diperintil.


***


"Selamat, Pak. Saat ini istri Anda diperkirakan sedang hamil empat minggu," kata bidan yang baru selesai memeriksa Senja.


"Jadi, istri saya sedang hamil empat minggu," balas Awan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Namun, Ibu Senja harus dirawat dan di infus. Ini juga agar beliau bisa istirahat total," jelas Bidan.


Senja yang paling tidak suka disuntik, kini harus menerima beberapa suntikan. Selama 3 hari Senja di rawat di rumah sakit tempat bidan itu bekerja. Sekarang kondisi tubuh sudah jauh lebih baik.


Namun, ternyata itu hanya sementara waktu. Baru saja seminggu kepulangannya Senja, kondisi tubuh dia drop kembali. Akhirnya, Senja pun kembali dirawat di rumah sakit dan menerima suntikan.


"Pak, Ibu sudah tidak sanggup lagi untuk kehamilan ini. Apa kita gugurkan saja?" Senja sudah putus asa. Hari-hari harus minum obat. Tidak bisa makan, semua makanan yang masuk akan dikeluarkan lagi. Hanya cairan infus yang membuatnya bisa bertahan hidup.


"Jangan berpikiran seperti itu! Bagaimana pun juga bayi itu punya hak untuk hidup," balas Awan dengan tatapan mata kecewa pada istrinya.


"Aku sudah tidak sanggup lagi. Tubuh aku sakit semua. Embun juga sekarang tidak bisa diberi ASI. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Lagian ini janin belum ada dua bulan usianya," ujar Senja dengan tatapan marah pada Awan.


"Tapiβ€”"


"Kenapa kamu membuat aku hamil lagi?" Senja melemparkan bantal kepada Awan.


Kakek Indra dan Nenek Dewi datang bersama Embun. Mereka dikejutkan dengan keadaan di sana.

__ADS_1


***


Apa yang menyebabkan Senja mau mempertahankan kehamilan yang menyiksanya ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2