
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 70
Pelangi menghubungi Tama dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi sambil menangis terisak. Dia takut kalau terjadi sesuatu kepada kakaknya. Tentu saja laki-laki itu selalu memberikan dukungan agar Pelangi menjadi diri yang kuat dan jangan menyerah.
Pelangi dan Lembayung menyusul ke rumah sakit setelah Tama datang membawa mobil. Mereka pun pergi bersama-sama ke rumah sakit.Â
"Bu, bagaimana keadaan, Kak Embun?" tanya Pelangi.
"Dia belum sadarkan diri. Kata dokter Embun kehabisan darah, tetapi masih bisa ditolong dengan transfusi darah. Semoga saja dia secepatnya sadar," jawab Senja dengan lirih.
Senja merasa nyawanya hilang sebagian saat melihat wajah pucat Embun tadi. Bayang-bayang kematian dari orang-orang yang dia sayangi kembali membayangi dirinya. Sampai-sampai tadi dia meminta dokter untuk memeriksa keadaannya dan memberi obat untuk pemulihan dirinya. Wanita itu sadar diri kalau dulu pernah mengalami depresi dan baru-baru ini juga kembali dia alami saat kematian suaminya.
"Semoga saja Kak Embun secepatnya sadar. Dia itu perempuan yang kuat," ucap Pelangi.
"Kuat apanya? Melihat orang lain tunangan saja membuatnya nekat bunuh diri. Itu tandanya kalau dia itu lemah," gerutu Lembayung.
Embun baru tersadar saat hari mulai beranjak siang. Dia melihat ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan.
'Ini di rumah sakit?' (Embun)
"Kakak, akhirnya sadar juga!" pekik Senja yang masuk ke ruangan itu bersama Kakek Indra.
"Tuh, 'kan? Apa kataku juga, kalau Embun akan cepat sadar," ucap Kakek Indra sambil tersenyum tipis pada cucunya.
Embun teringat kalau semalam nekad bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya. Dia merasa sangat malu di hadapan orang lain, terutama para sahabat.
Harga dirinya sudah jatuh dan dia juga merasa direndahkan oleh adik dan keluarganya. Embun sangat marah dan merasa tidak ada hal yang membuatnya hidup bahagia.
"Kenapa Ibu tidak membiarkan aku mati saja?" Embun menatap tajam kepada Senja.
Mendengar ucapan putrinya ini membuat hati Senja kembali terluka. Dia tidak menyangka akan mendengarkan kata-kata seperti itu dari mulut Embun.
__ADS_1
"Kenapa Kakak bicara seperti itu?" Pelangi dan Lembayung datang bersama dengan Candra, setelah selesai makan siang bersama di kantin rumah sakit.
"Ini semua gara-gara kamu!" teriak Embun sambil menunjuk ke arah Pelangi.
Pelangi merasa sedih dan sakit hati mendengar apa yang dituduhkan oleh sang Kakak kepada dirinya. Diri sendiri tidak pernah merasa berbuat jahat kepada Embun.Â
Jika gara-gara Tama, maka kakaknya itu sungguh jahat. Laki-laki itu sangat mencintai dirinya, bukan kakaknya. Sejak awal juga Tama sudah menyukai Pelangi, bukan Embun.
"Sejak awal Kak Tama sudah menyukai aku. Dia pun berusaha agar bisa mendapatkan balasan akan perasaannya itu. Aku tidak pernah merebut Kak Tama dari Kak Embun. Oleh karena itu, Kakak harus hilangkan pikiran kalau aku sudah merebut laki-laki yang tidak pernah mencintai Kak Embun," balas Pelangi tidak mau disalahkan terus oleh kakaknya.
"Benar apa yang dikatakan oleh Kak Pelangi. Sejak awal Kak Tama itu suka sama Kak Pelangi, jadi tidak ada kata rebut merebut. Kecuali, jika memang awalnya Kak Embun dan Kak Tama pacaran dan bertunangan dengan Kak Pelangi, baru disebut merebut," jelas Lembayung.
Embun kembali dibuat malu oleh adiknya. Dia pun marah-marah kepada kedua adiknya. Bahkan menyuruh mereka pergi dari ruangannya. Senja pun menyuruh mereka pulang saja ke rumah.
***
Malam harinya Senja dan Pelangi duduk di ruang keluarga. Mereka bicara hanya empat mata. Untungnya Lembayung sudah tidur.
"Bisakah kamu mengalah demi kakakmu?" Senja berkata dengan perasaan ikut terluka.
Senja juga tahu hal ini akan membuat Pelangi bersedih. Namun, dia yakin kalau putri keduanya itu wanita tegar dan bisa bangkit lagi. Berbeda dengan Embun, yang selalu mendapat apapun yang dia mau. Tidak pernah mengalami kegagalan dan selalu berhasil dalam apapun.
Dokter tadi bilang kalau Embun sedang mengalami depresi dan bisa berbuat hal gila lainnya lagi. Jadinya, disarankan untuk ditangani oleh dokter ahli psikologi. Agar Embun bisa mengatasi depresinya dan itu perlu dukungan dari keluarga.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskan Kak Tama demi Kak Embun. Jika aku melakukan hal itu, maka aku menjadi seorang penjahat yang akan melukai banyak orang. Apa Ibu sudah benar-benar memikirkan hal ini masak-masak?" Pelangi bicara dengan tegas, tidak peduli dicap anak durhaka karena menolak permintaan ibunya.
Senja diam dan memikirkan kata-kata Pelangi. Dia membenarkan apa perkataan Pelangi. Akan ada banyak orang yang menjadi korban. Keluarga Tama dan Keluarga Pelangi. Bahkan Embun pun tidak menjamin akan bahagia jika pertunangan Pelangi dan Tama berakhir. Belum tentu juga Tama mau menerima Embun.
"Maafkan ibu, Pelangi. Ibu sudah salah kepadamu. Karena ibu tidak mau melihat Embun terus meraung ingin mengakhiri hidupnya," balas Senja dengan terisak.
"Aku juga mau bahagia, Bu. Bersama dengan orang yang aku cintai dan mencintai diriku. Izinkan aku juga untuk hidup bahagia," kata Pelangi sambil menangis.
"Ibu, aku juga anakmu. Anak yang seharusnya mendapatkan perhatian yang sama dengan saudara-saudaraku yang lain," lanjut Pelangi lagi masih dalam isak nangisnya.
Hati Senja ikut sakit dan perih. Dia pun lantas memeluk Pelangi dan meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan ibu. Maafkan ibu yang selalu membuat kamu merasa diperlakukan beda. Ibu tahu kamu adalah anak yang kuat dan tegar seperti yang sering dibilang oleh nenek. Makanya ibu percaya kamu bisa melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain," ucap Senja.
"Tapi, aku juga seorang anak yang ingin diperlakukan sama dengan yang lain. Aku ingin Ibu melihat diriku yang tidak kalah hebat dari Kakak atau Adek. Aku juga anak yang ingin dimanja oleh ibu." Pelangi mencurahkan semua isi hatinya pada sang ibu.
***
Dua tahun kemudian
Pelangi sedang mempersiapkan diri untuk hari bersejarah dalam hidupnya. Besok dia akan menikah dengan sang pujaan hati.
"Pelangi, pihak Wedding Organizer menanyakan apakah hasilnya sudah sesuai keinginan kamu?" Embun masuk ke kamar Pelangi.
"Tunggu aku ganti pakaian dulu," balas Pelangi yang sedang mencoba baju kebaya modern untuk digunakan besok di acara pernikahannya
Untuk menghormati dan menghargai perasaan Embun, Pelangi akan mengadakan pesta pernikahan di halaman rumah dan mengundang para tetangga dan teman-temannya saja. Tidak akan ada pesta di gedung seperti keinginan Anindita.
"Kak Embun, ini seragam yang akan kita pakai besok," ucap Lembayung sambil menyerahkan sebuah paper bag pada Embun.
"Terima kasih, Dek," balas Embun.
Setelah kejadian waktu itu, Embun ditangani oleh seorang dokter psikiater dan melakukan pengobatan selama tiga bulan. Dia bisa pulih dan menerima dengan keadaan orang-orang yang ada di sekitarnya.
***
Pernikahan Pelangi dan Tama berjalan lancar dan hidmat. Semua orang juga menikmati pesta itu walau dilakukan secara sederhana.
Meski Anindita merasa sedikit kecewa karena dia menginginkan pesta pernikahan putra satu-satunya itu secara mewah dan megah. Namun, dia menjadi orang yang paling berbahagia saat ini. Impian melihat putranya bisa menikahi gadis yang dicintai olehnya. mendapatkan menantu baik hati seperti idamannya.
"Apa kamu bahagia?" tanya Tama pada istrinya.
"Ya, aku sangat bahagia sekali!" jawab Pelangi.
Kedua pasangan pengantin itu pun saling melempar senyum dengan pancaran sinar mata yang penuh dengan suka cita. Para tamu undangan pun bisa melihat wajah yang berbahagia dari keduanya.
***
__ADS_1
TAMAT