Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Lorong bawah tanah


__ADS_3

Jalan yang di tempuh kini mulai mendekat ke titik tempat penyerangan , jalan menuju markas rusak parah dan terdapat pepohonan yang cukup besar dan berdempetan. Butuh waktu hampir 20 menit.


Sebelum mendekat ke area penyerangan terdapat serangan tiba-tiba dan tergolong masalah kecil.


Namun tetap waspada jangan sampai terlena.


Dor!!…


Peluru mencoba menembus kaca mobil tapi sayang nya setiap kaca mobil di lapisi kaca anti peluru dan retak.


Episode sebelumnya…


Kini ketiga mobil telah sampai di markas yang cukup luas. Para anak buah Joon Woo sebagian sudah sampai duluan dan berhasil melumpuhkan musuhnya.


Mayat para musuh bergelimpangan di setiap sudut-sudut markas , bau anyir kian mengusik Indra penciuman.


Sang bos Mafia Black King turun dari mobil dan di ikuti 5 anggota elit dengan pakaian serba hitam. 1 Anggota elite masih tertinggal di mobil ia mengawasi sekitaran markas menggunakan alat canggih nya. Tak lupa ia menyalakan 2 drone.


Joon Woo , Jhonatan serta destiya melangkah terlebih dahulu ke dalam mencari anak buah dari musuhnya yang masih hidup. Setiap ruangan terdapat musuh berjumlah 10 orang.


Joon Woo berhasil menghabisi 6 orang sekaligus menggunakan katana hitam. Sisa nya di habisi oleh Jhonatan dan Destiya masing-masing menggunakan senjata Desert Eagle Mark XIX Pistol dan Glock 45 GAP.



Joon Woo menyusuri tiap lorong-lorong yang udaranya terasa pengap.


Jhonatan dan destiya mengikuti perintah dari LILIY memalui earpiece. Sedangkan Reyhan , Samuel dan Bernard berjalan ke arah pintu belakang. Ia bertiga mengendap-ngendap agar tak menimbulkan suara dan pastinya mereka membawa senjata M4 Carbine , AK - 47 dan TrackingPoint Guns.


Di dalam mobil Liliy di sibukkan alat elektronik yang berada di depannya jari-jari lentik nya menari di atas keyboard tak lupa mata nya terus mengawasi anggota lainnya melalui tab.


*


Joon Woo mendekat ke arah pintu yang paling ujung.


Tak…


Yak…


Langkah kaki Joon Woo menggema di seluruh ruangan.


Jhonatan dan Destiya mengejar langkah tuannya. Dan sampai lah mereka di depan pintu yang ukuranya 2 kali lipat ukuran biasanya.


"Tuan , Jhonatan dan Destiya jangan mendekat ke arah pintu kayu besar warna hitam" perintah Liliy dari earpiece.


" Ada apa Liy" tanya Joon Woo.


"Di balik pintu terdapat jebakan dari tangan kanan" ucap Liliy .


" Kenapa kamu yakin di dalam ada jebakan ?" tanya Joon Woo


" Kalian kan menggunakan earpiece di dalam nya terdapat pendeteksi sinyal bahaya , jadi yang bisa melihat sinyal merah harus melalui media laptop.


" Semua mundur 5 langkah ke belakang jangan menoleh ke belakang maupun menoleh kanan kiri , dan destiya elu bawa bom mini yang udah gue siapkan?" sebelum memasuki ke dalam markas, Liliy memberi 2 buah bom mini ke destiya buat jaga-jaga.

__ADS_1


" Bawa Liy gue simpan di saku jaket. Terus gue apakan ini" Destiya mengeluarkan bom mini dari saku jaket.


Joon Woo dan Jhonatan mendekat ke arah Destiya.


" Bukannya bom ini di ruangan saya ,kenapa ada di tangan kamu Des" tanya Joon Woo.


" Saya tidak tau tuan , saya mendapatkan dari Liliy " jawab Destiya.


" Tuan bukanya bom ini tempat nya di lemari kecil dekat rak buku" Jhonatan menimpali jawaban dari Destiya.


" Kamu betul Jho pertanyaan saya kok bisa bom mini ini ada di tangan Liliy , sejak kapan Liliy mengambilnya" ucap Joon Woo.


Mereka bertiga mendengarkan kembali ucapan Liliy dari earpiece " Destiya tekan tombol warna merah ukuran kecil di bom yang kamu pegang"


Destiya mencari tombol yang di maksud Liliy. Setelah mencari-cari akhirnya menemukan.


" Sudah ketemu Liy trus gue apakan lagi " tanya Destiya.


" Tekan tombol sampai muncul angkanya kalau sudah lempar kan bom mini ke arah pintu. Hitungan 10 kalian harus menghindar dari serpihan batu berserta kayu" Liliy mengarahkan Destiya agar tak ada korban jiwa.


Destiya mengikuti perintah Liliy dengan benar dan bom mini di lemparkan ke arah pintu tua.


Blarr…


Pintu tua berhasil di ledakan hanya kurun waktu 15 menit serpihan batu kecil-kecil berserakan di bawah kabut asap mulai memenuhi ruangan.


Uhuk…uhuk… mereka bertiga ter batuk di karenakan menghirup kabut asap yang mereka buat ruangan tersebut hampir tak terlihat.


Di dalam tersebut sudah di pasang jebakan yang amat mengerikan untungnya dapat di cegah oleh liliy. Kalau tidak bisa di pastikan mereka bertiga mati mengenaskan di dalam.


" Untung kita selamat tuan berkat alat pendeteksi dari Liliy " Jhonatan ucap syukur di karenakan ia selamat dari maut.


" Ayo kita masuk ke dalam lagi cari tombol saklar siapa tau ada penerangan di dalam" ucap Joon Woo.


Kondisi ruangan amat gelap dan minim pencahayaan dan fentilasi udara.


Destiya dan Jhonatan membuka hp untuk mencari tombol senter pada hp mereka.


Setelah senter hp nyala baru lah mereka melanjutkan perjalanannya. Mereka menyusuri ruangan di dalam tidak ada barang bukti atau pun orang , hanya terdapat tumpukan buku-buku lama dan barang antik yang tak terawat.


Jhonatan merasa aneh terhadap lukisan besar bunga tulip yang di samping nya terdapat guci besar warna merah bata. Jhonatan mendekat ke arah lukisan tersebut.


Tak sengaja Jhonatan menyenggol batu besar tepat di sebelah guci , lemari yang berada di dekat meja bergerak dan alangkah terkejutnya ternyata di balik lemari kuno terdapat pintu rahasia menuju ruangan bawah tanah.


Dan lagi-lagi mereka bertiga di buat penasaran. Joon Woo , Destiya beserta Jhonatan memasuki ruangan bawah tanah yang kondisi nya sangat lembab.


Kalau tidak hati-hati bisa jadi terpeleset.


" Ruangan apa lagi sih kok aneh banget " gerutu Destiya.


Joon Woo tak menanggapi ocehan dari mulut Destiya justru ia makin penasaran yang berada di depannya. di setiap lorong akan di sekat oleh pintu besi.


Joon Woo mencoba membuka pintu yang ada di depannya tapi nihil tidak bisa di buka dan ternyata pintu nya di lapisi pelindung yaitu pola sidik jari.

__ADS_1


" Aaarrggh!!!… sial bodoh nya kenapa saya tidak mengetahui kalau pintu nya di sandi" geram Joon Woo atas tindakan bodohnya.


Jhonatan dan Destiya menautkan kan alisnya melihat aksi Joon Woo menendang pintu besi yang ada di depannya.


Tap…


Tap…


Terdengar suara langkah kaki yang berasal dari belakang mereka bertiga.


Mereka bertiga memasang kuda-kuda supaya tidak kecolongan.


Dan alangkah terkejutnya mereka ternyata suara langkah kaki berasal dari kaki Liliy. Mereka tak menyangka Liliy akan menyusulnya ke dalam.


" Ternyata elu Liy kirain siapa bikin kita dag Dig dung aja" ucap Jhonatan.


" Hehehe… sorry" ucap Liliy sambil cengengesan.


" Kenapa kamu kesini Liy? terus yang menjaga mobil mu siapa kalau kamu ikut kesini" tanya Joon Woo.


" Tenang tuan ada anak buah saya yang saya tugaskan menjaga mobil dan sebagian memantau keadaan sekitar" ucap Liliy .


" terus elu kesini ngapain" tanya Destiya.


" Sinyal dari earpiece lemah tidak bisa terhubung sampai bawah , terakhir gue lihat pas kalian berada di depan pintu tua selebihnya sinyal tidak ada"


" Gue putuskan mengikuti kalian kalau terjadi apa-apa sama kalian gue tidak bisa mendeteksi keberadaan dan kondisi kalian " ucap Liliy.


" Hmm baik lah saya ijinkan" ucap Joon Woo.


Liliy memandangi pintu besi yang berada di depan sambil membawa senter.


" Inikan pintu nya di sandi pakai sidik jari " Liliy mengamati pintu dan mencoba membukanya.


Butuh waktu 30 menit Liliy membuka pintu besi dengan alat seadanya.


Ceklek Liliy membuka pintu. Ia terkejut mengetahui di balik pintu besi.


" Guys lihat lah lorong bawah tanah ini di penuhi teka teki kita harus memecahkan teka teki ini pasalnya di balik pintu ini ada tangga menuju pintu selanjutnya" ucap Liliy.


Sontak mereka bertiga kaget atas ucapan Liliy.


Bersambung…


Bonus visual


Samuel



Bernard


__ADS_1


__ADS_2