
" Kalau restauran ini laris apakah anda akan buka cabang di daerah lainnya?" tanya mama Sinta.
" Kita lihat saja Tante perkembangan bisnis baru kita. Kalau peminat nya banyak. Akan saya buka cabang di kota kota lain nya" jawab Arsen yang turut mambantu menjawab pertanyaan dari istri om Rudy.
Episode selanjutnya…
" Tuan Joon Woo di manakah letak tanda tangan. Sedari tadi saya tidak menemukan" tanya Adit.
" Sebentar" Joon Woo sedang mencari map yang isi nya persetujuan kerjasama.
Setelah mendapatkan map, Joon Woo langsung menyerahkan map tersebut ke Adit berserta satu buah bolpoin.
Adit langsung membubuhi tanda tangan di atas materai tak lupa dengan papa nya juga ikut tanda tangan.
Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan dari kedua belah pihak. Baru lah Joon Woo memasukan map nya di dalam tas kerja nya. Setelah sampai di perusahaan baru lah ia menyimpan di lemari khusus dokumen.
Mereka semua berdiri dari duduk nya kemudian saling berjabat tangan tanda menyetujui kerjasama untuk membangun sebuah restauran.
" Senang berkerjasama dengan anda tuan Joon Woo" om Rudy berjabat tangan.
" Justru saya yang beruntung bekerjasama dengan om Rudy dan juga Adit" balas Joon Woo.
Setelah berdiskusi antar dua perusahaan. Mereka semua memutuskan kembali ke lantai satu.
Tak…
Tak…
Suara langkah kaki saling bersautan dari arah tangga.
Baru saja menginjakan kakinya di lantai satu. Adit melihat adek nya sudah tertidur di lengan Reyhan.
Adit mengendap ngendap mendekat ke Liliy yang masih terlelap.
" Udah tidur orang nya" batin Adit sambil mengusap kening Liliy dengan tangan nya.
" Kak. papa sama Mama pulang dulu , di jaga adek nya" pesan mama Sinta yang hendak keluar dari drom.
Adit hanya mampu memberi kode dua jempol ke arah mama nya.
Mama Sinta hanya mampu mengangguk pasrah atas kelakuan anak pertama nya. Papa Rudy tak ketinggalan juga ia malah menepuk jidat nya. Melihat hasil cetakan nya yang kelakuan nya hanya bisa geleng geleng kepala.
Arsen yang melihat tingkah Adit ke orang tua nya hanya bisa senyum tipis.
"Pindahkan Liliy ke kamar nya" titah Joon Woo yang baru turun dari lantai dua dan langsung melihat Liliy yang sudah tertidur di sandaran Reyhan.
__ADS_1
" Biar aku aja yang memindahkan Liliy ke kamar nya" usul Reyhan. Tapi langsung di patahkan oleh Adit.
" Tidak usah biar gue aja. Elu langsung istirahat"
"Hmm…ok "
Adit meraih tubuh Liliy ke dalam gendongan nya. Dengan hati hati agar tidak terusik tidur nya. Adit menggendong Liliy dengan gaya bridal style.
Saat berada di pertengahan anak tangga. Liliy setengah membuka mata dan mengeluarkan lenguhan khas bangun tidur "hmm… kak, Liliy mau di bawa kemana"
Dengan kedua tangan nya memeluk erat leher bagian belakang Adit dengan posisi wajah menghadap dada bidang berotot milik Adit.
" Udah jangan banyak gerak elu" oceh Adit sambil menggendong adik nya naik ke lantai dua menuju kamar tidur.
Tiba di depan pintu kamar. Adit kesusahan membuka kenop pintu karna kedua tangan nya menyangga tubuh Liliy agar tidak jatuh. Adit sejenak terdiam di depan pintu memikirkan gimana cara membuka nya tanpa menggunakan tangan.
" Liy bangun! tolong buka kan pintu, tangan gue kagak bisa" bisik Adit tepat di telinga Liliy. Namun sang empu tak menanggapi ucapan kakaknya.
Dengan terpaksa menggunakan salah satu kaki nya untuk membuka kenop pintu. Adit mundur tiga langkah ke belakang untuk mengukur panjang kaki nya agar nyaman waktu membuka pintu.
Kenop pintu kamar Liliy tidak berbentuk bundar, melainkan bentuk nya menyerupai huruf L. Jadi gampang sewaktu waktu membukakan menggunakan kaki.
Jgrek!…
Pintu kamar Liliy akhirnya terbuka walaupun membuka nya dengan cara tak wajar. Tapi tak apa lah yang penting orang bisa masuk ke dalam tanpa mendobrak.
Adit menyempatkan mengecup kening Liliy " baik baik elu di sini"
Setelah memastikan adek nya tidur dengan nyaman baru lah Adit keluar dari kamar. Sebelum kaki nya melangkah keluar dari kamar, tangan Adit mencari tombol saklar yang posisi nya dekat dengan pintu kamar.
Ctek…
Lampu utama telah mati tinggal lampu tidur yang di nyalakan agar kamar tidak terlalu gelap. Ia tutup pintu dengan hati hati agar tak menimbulkan suara.
" Liliy udah tidur kak?" ucap Destiya yang tiba tiba nongol dari arah belakang.
Adit membalikan badan "Astaga!" mengelus dada karna kaget dengan suara Destiya yang secara tiba tiba.
" Hehe… sorry kak" mengangkat dua jari nya membentuk huruf V dan jangan lupa menampilkan deretan gigi.
Menghela nafas pasrah " udah tidur orang nya. Emang kenapa?"
Destiya menggaruk pelipis kanan nya yang tidak gatal sembari melihat wajah Adit.
"Mmm… gue boleh tidur sekamar sama Liliy" ucap Destiya dengan suara lirih seperti orang yang bisik bisik.
__ADS_1
Adit menatap heran dengan permintaan Destiya. Bukan nya tidak boleh sekamar sama adek nya tapi kan sudah di atur sama Joon Woo bahwa setiap orang memiliki satu kamar plus kamar mandi di dalam.
" Bukan nya elu udah punya kamar sendiri?"
" Kamar gue di pinjam sama bang Arsen. Kata nya dia mau nginap di sini sama tuan Joon Woo" ucap Destiya menunduk sambil memainkan dua jari telunjuk.
" Sekamar?" tanya balik Adit yang masih berdiri di depan kamar Liliy.
Destiya menangguhkan kepala.
" Ya udah elu boleh tidur di kamar Liliy. Ingat jangan ganggu" Adit meraih gagang pintu kamar.
Jgrek…
Pintu kamar Liliy terbuka lebar " masuk lah dan istirahat "
Destiya masuk ke dalam kemudian menutup pintu dengan pelan dan segera menyusul Liliy ke ke dalam selimut tebal.
...***...
Adit telah sampai di lantai bawah tujuan nya mencari Joon Woo dan Arsen. Namun di tempat yang tadi sudah tidak ada orang sama sekali. Entah pergi kemana yang lainnya. Adit berfikir positif mungkin pada masuk ke kamar masing masing.
Adit berpindah haluan menuju dapur. ia raih teko kaca yang berisi air kemudian di tuangkan ke dalam gelas.
Glug…glug…glug…
Rasa kering yang melanda di tenggorokan telah tersapu bersih oleh air. Yang rasa segar nya mengalahkan air comberan.
" Ini pada kemana kok sepi. Baru aja gue pergi eh tau tau nya pada pergi juga" ucap Adit sembari meletakkan gelas.
Kring…
" Siapa tuh" Adit lari ke arah ruang depan.
" Oh elu. Kirain siapa" ternyata yang baru saja datang Arsen.
" Yang lain nya kemana?" tanya Arsen yang langsung membanting kan tubuh nya ke sofa.
" Mana ku tau" mengangkat kedua bahu.
" Kata nya Destiya elu mau nginep semalam di sini" tanya Adit yang masih berdiri yang tak jauh dari posisi Arsen.
" Betul…betul…" jawab Arsen dengan mata nya tertutup.
" Sama Joon Woo sekamar" tanya Adit.
__ADS_1
Bersambung…