
" Dan satu lagi Tan kata nya si tuan Yoon pernah melukai orang tua cewek itu dan cewek itu semasa kecil nya di bacok kepala nya hingga tewas di tempat. Mungkin arwah cewek tadi membalas dendam atas perbuatan tuan Yoon " ucap Destiya sembari mempraktekkan setiap adegan tanpa terlewat.
Episode selanjutnya…
" Apa tante dan om tau tuan Yoon pernah membunuh keluarga gadis tadi? " tanya Reyhan.
" Om sendiri tidak tau kehidupan sehari hari Yoon seperti apa di sana. Semenjak pergi dari rumah dan menetap di negara Jepang om sudah jarang menghubungi Yoon "
" Berarti musuh kita dari dulu paman nya sendiri " bisik Destiya ke Samuel.
" Benar "
Ayah Joon Woo berdiri dari duduk nya dan langsung di ikuti oleh istri dan anak nya " Baik lah sampai di sini. Kami harap tidak ada musuh lagi dan semoga karir kalian semakin cermerlang "
" Kalian boleh tidur ke kamar masing masing sudah jam empat pagi. Nanti siang kalian boleh ikut kami ke pemakaman " ujar Joon Woo yang berada di samping ibu nya.
Mereka semua memutuskan kembali ke kamar masing masing. Untuk mengistirahatkan badan yang sudah letih.
...**...
Matahari sudah menampakan diri dari ufuk timur. Tepat jam sepuluh pagi seluruh keluarga inti berserta anak buah Joon Woo mengikuti proses pemakaman secara tertutup. Paman dari Joon Woo menghembuskan nafas di usia lima puluh delapan tahun. Iring iringan mobil siap mengantarkan peristirahatan terakhir.
Dalam perjalanan semua tampak diam tak ada aktifitas suara, hanya terdengar deru mesin mobil yang menemani perjalanan.
__ADS_1
Kurang lebih lima km lagi mereka akan sampai di pemakaman.
Keluar dari jalan kota , kini mobil Joon Woo berbelok ke arah jalan kecil. Suasana nya sama seperti di desa , kanan kiri di tumbuhi dengan pepohonan. Udara masih sejuk dan bersih bebas dari asap kendaraan dan asap industri.
" Udara di sini masih bersih " ucap Liliy yang baru keluar dari mobil.
Mereka semua nampak memakai pakaian serba hitam serta tak lupa membawa bunga untuk menabur di atas pusaran makam.
Joon Woo berserta orang tua nya berdiri tepat di depan mobil jenazah , sewaktu peti mati di keluarkan ayah Joon Woo meneteskan air mata kesedihan yang amat mendalam.
Kini di dunia hanya seorang diri tak ada saudara kandung apa lagi kedua orang tua nya sudah lama meninggal dunia di tambah , ia melihat makam anak pertama nya yang lokasi nya bersebelahan dengan makam kakak nya.
Rasa hancur yang berkeping keping melihat peti mati yang berisi jenazah kakak nya yang sudah terkubur di dalam tanah.
Sang istri melihat suami nya menangis di samping kuburan kakak nya. Di dalam hati yang paling dalam ia juga merasakan apa yang di rasakan oleh suami nya. Namun balik lagi semua masalah berawal dari perbuatan kakak ipar nya, entah ini karma dia atau takdir Tuhan melalui peristiwa yang cukup tragis.
" Sudahlah sayang jangan berlarut dalam kesedihan semua sudah kehendak Tuhan " ibu Joon Woo memeluk pinggang suami nya dari arah depan untuk sekedar menyalurkan energi positif.
" Ayo kita pindah ke makam anak kita, sudah lama kita tidak menjenguknya " menarik lengan suami nya menuju makam anak pertama.
Sesampai di depan makam anak nya , ibu Joon Woo berjongkok di samping kanan makam sambil menaburkan bunga dan sedikit menyiramkan air di atas makam.
" Halo sayang maaf kan ibu yang sudah jarang ke rumah mu. Ibu di sini bersama ayah mu dan adek mu. Kami di sini selalu mendoakan mu agar kamu di sana tenang , apakah kamu di sana sudah bersama nenek dan kakek " sembari mengusap batu nisan.
__ADS_1
" Nak apa kabar kamu di sana. Ayah kangen kamu nak sudah lama tidak berjumpa , jangan khawatir kan kita di sini. Kami akan selalu menjaga satu sama lain. Ayah punya satu permintaan untuk mu jaga nenek , kakek dan juga paman mu di sana " ujar Ayah Joon Woo sembari membersihkan rumput liar yang berada di sekitaran batu nisan.
Joon Woo juga bergabung dengan orang tua nya untuk menabur bunga serta meletakan satu bingkai bunga mawar di dekat batu nisan.
" Kak dendam mu sudah aku balas kan sekarang kakak sudah tidak punya utang lagi , tenang di sana kak love you " Joon Woo cepat cepat mengusap air mata agar tidak jatuh ke makam kakak nya.
Pemandangan keluarga Joon Woo tak luput dari pandangan Jhonatan dkk yang berdiri tak jauh dari makam kedua keluarga nya.
" Seandainya kedua orang tua ku masih ada mungkin , gue merasa bahagia yang tak bisa di tukarkan oleh uang " lirih Samuel yang merindukan kedua orang tua nya yang sudah lama meninggal sewaktu Samuel umur lima belas tahun. Kini ia di asuh oleh nenek kakek nya dari ibu.
Rasa yang Samuel rasakan kini merambat ke Reyhan. Diri nya juga merasakan apa yang di rasakan oleh keluarga Alexander , tiba tiba ia teringat oleh adek nya yang sudah lama berpulang menghadap Allah SWT.
Reyhan menengadahkan kepalanya menatap langit langit yang berwarna biru cerah agar air mata nya tidak keluar dari celah celah kedua mata nya.
Siapa bilang anggota mafia tidak mempunyai perasaan dan berhati dingin , lihat lah sekarang anak buah Joon Woo sempat meneteskan air mata kesedihan dan kerinduan. Di balik sifat nya yang dingin terdapat hati yang hangat. Kalian tidak boleh melihat orang hanya melalui casing nya namun lihat lah sisi baik nya yang berada di diri orang tersebut. Rupa menawan belum tentu hati nya selembut sutra dan seluas samudra. Rupa menawan rata rata memiliki hati yang amat busuk, busuk nya melebihi bunga bangkai.
Sebaliknya yang mempunyai rupa yang tidak beruntung malah memiliki hati yang begitu baik dan bersih. Orang orang di luar beranggapan memilih rupa yang rupawan dari pada memilih rupa yang tidak beruntung. Jadi berhati hati lah memilih teman , sahabat atau pun rekan kerja.
Liliy melihat Reyhan yang sedang menahan sesak di dada mencoba memberanikan diri mengusap punggung Reyhan dengan lembut.
" Bersedih lah , di sini sangat cocok untuk melepas rasa sakit di dada. Keluarkan semua keluh kesah mu agar dada mu merasakan lega dan tidak merasakan sesak di dada " Liliy menatap mata Reyhan yang sudah berubah menjadi merah.
Destiya pun sama. Sama sama menenangkan Samuel yang punggung nya sudah bergetar pertanda bahwa di diri nya sedang menumpahkan rasa sesak di dada nya melalui air mata.
__ADS_1
Kedua perempuan sama sama menenangkan sahabat nya yang sedang berduka mengigat orang tersayang yang sudah lama meninggalkan nya.
Bersambung…