
Sang sopir langsung masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan pria gila itu.
Si pria memakai helm sama juga langsung menghampiri motor nya dan melanjutkan perjalanan, di tengah perjalan pria memukul stang motor " sialan gue kehilangan jejak".
Episode selanjutnya…
Joon Woo dan Arsen telah tiba di markas nya dan langsung di sambut anak buahnya yang berada di gerbang depan.
Mobil Joon Woo yang di kendarai oleh Arsen telah memasuki halaman markas.
" Dimana Jhonatan dan lainnya" tanya Joon Woo kepada penanggung jawab markas yang berada di Korea Selatan.
" Jhonatan dan rekannya masih di perjalanan menuju ke sini tuan" ujarnya.
Joon Woo segera masuk ke ruangan nya , sedangkan Arsen masih menunggu kedatangan Jhonatan dkk.
Selang beberapa menit mobil yang di tumpangi Jhonatan dkk telah sampai.
" Kau dan lainnya baik baik saja kan Jho?" Tanya Arsen sembari mengitari tubuh Jhonatan.
" Baik bang , eh bang tuan Joon Woo masih di dalam kan?" Jhonatan melepas masker yang berada di wajahnya.
" Ada di ruangannya" Arsen yang masih mengecek tubuh lainnya barang kali ada yang lecet atau cidera.
" Kalian tadi hebat. Melompat dari mobil ke mobil yang keadaannya sama sama berjalan di tambah keadaan jalan raya ramai dengan kendaraan. Gue aja belum tentu berani yang ada kaki gue gemetaran dulu" ucap Arsen ke Bernard.
" Elu kira kita semua berani gitu" ucap Liliy sambil melepas masker yang berada di wajahnya , tak lupa rambutnya dikibaskan ke kanan dan ke kiri.
" Aduh " rintih Samuel. " kira kira dong di belakang ada orang , rambut elu masuk ke mata gue " mengucek mata nya menggunakan jari telunjuk.
" Eh , sorry Sam gue enggak sengaja. Sini gue periksa mata elu" Liliy mendekat ke arah Samuel.
" Nunduk dong badan mu , gue nggak bisa nih " badan Samuel lebih tinggi dari Liliy yang mana sedari tadi Liliy jinjit.
" Makannya di beri pupuk biar cepat tinggi " ledek Samuel sembari menundukkan badannya agar Liliy tidak kesusahan.
Tangan Liliy mengucap mata Samuel yang terkena rambutnya dan benar saya, mata Samuel agak kemerahan. Liliy berinisiatif meniup mata Samuel.
" Fuuh… Fuuh… "
" Masih sakit enggak " Liliy menatap mata Samuel yang jarak nya hanya sejengkal tangan.
Deg…deg…
Jantung Samuel berdetak dengan cepat setelah memandang wajah Liliy dari dekat.
__ADS_1
( Jantung gue ) batin Samuel yang masih memandang wajah cantik Liliy dari dekat.
Plak…
" Dari tadi gue ngomong enggak di dengar masih sakit apa enggak. Malah bengong " geram Liliy.
" Aw " mengusap lengannya. Tubuh Samuel kembali ia tegakkan.
" Dahlah buang buang waktu ngomong sama patung , di ajak ngomong enggak merespon malah diam" melenggangkan kaki nya masuk ke dalam.
...**...
" Tuan Joon Woo oh tuan Joon Woo , kau di mana " teriak Liliy dan Destiya sembari mengelilingi ruang markas.
Joon Woo yang hendak mau keluar dari ruangan nya dikagetkan oleh suara Destiya dan Liliy.
" Ada apa?" tanya Joon Woo yang sudah berada di hadapan mereka berdua.
" Eh , tuan Joon Woo. Anu kami lapar hehehe… ada makanan di sini" tanya Liliy dengan tampang polosnya.
Joon Woo yang melihat cengiran di bibir Liliy pun berdecak sebal.
" Kau lihat sendiri di dalam kulkas masih ada apa enggak ?" ujar Joon Woo.
" Wah terima kasih tuan kau paling the best " ujar Liliy sembari mengacungkan ke dua jempol nya ke arah Joon Woo.
Tap…
Tap…
Tap…
" Permisi tuan…" anak buah Joon Woo membisikkan sesuatu ke tuannya.
" Hmm…" menganggukkan kepala. " Kau letakkan di mana dia? "tanya Joon Woo sembari melangkahkan kaki nya ke suatu tempat.
" Dia ada di ruang eksekusi tuan" anak buahnya tetap mengekor ke mana tuannya pergi.
" Bagus. Siapkan alat yang akan saya butuhkan di sana. Dan beri tau Jhonatan dan lainnya suruh mereka ke ruang eksekusi , sekarang!!!" Joon Woo terlebih dahulu memasuki ruangan eksekusi yang pencahayaan sangat minim. Dan bau anyir yang berada di mana mana.
Tak…
Tak…
Suara langkah kaki yang menggema di seluruh ruangan bawah tanah bisa di sebut ruang eksekusi. Di dalam ruangan tak hanya Joon Woo saja , melainkan ada dua anak buah nya yang di tugaskan menjaga tawanannya. Agar tidak kabur.
__ADS_1
Joon Woo langsung duduk di singgasana nya yang langsung menghadap ke tawanannya , tak lupa ia mengambil sebatang rokok yang ia selipkan di bibirnya dan langsung menyalakan Pemantik Api. Sembari menunggu kedatangan Jhonatan dkk.
Sekitar hampir 5 menit akhirnya Jhonatan dkk telah tiba di ruang eksekusi.
" Maaf kan kami atas keterlambatan tuan " ujar Jhonatan sembari membungkukkan badan dan langsung di ikuti oleh lainnya.
Joon Woo menoleh ke Jhonatan dkk " tidak masalah yang penting. Kita dapat mainan baru " Joon Woo melirik sekilas ke arah tawanannya.
Sontak mereka semua mengikuti arah pandang.
" Hohoho… jadi dia yang mau mencelakakan kita " Bernard sambil mengeluarkan Smirk.
" Benarkah tuan? " tanya Destiya.
Joon Woo hanya mengangguk.
" Wah… wah… lihat dia kawan. Tampang pas pasan tapi lagaknya sok nantang ke kita" ucap Destiya sambil mencekam dagu nya dengan kuat.
" Cih,,, di bayar berapa sama tuan mu" ledek Samuel.
" Hey!! dari tadi kita tanya loh. Kok enggak mau di jawab sih" tangan Liliy mengusap rambut belakang pelaku dengan lembut setelah itu. Liliy tarik rambutnya sampai terjengkang ke belakang.
" Atau jangan jangan anda bi*u? " ejek Liliy yang tangannya tak mau lepas dari rambut pelaku.
" Jawab b*engse* jangan diam saja" mendorong tubuh pelaku sampai terjatuh ke tanah.
Reyhan menghampiri Liliy " tenaga kan diri mu, jangan terburu-buru " Rey membantu Liliy agar berdiri.
" Sebentar mas , saya masih ada perlu sama dia " menunjuk menggunakan jari telunjuk.
" Gue masih ada perlu sama elu " berjalan perlahan ke arah korban yang mana masih setengah berbaring.
" Gue ingat nama elu Arif kan tangan kanan pak tua sialan itu" berdiri tepat di hadapan nya sembari melipat kedua tangannya di atas perut. " Kau yang membuat perusahaan papah gue di ambang kebangkrutan!! " teriak Liliy yang menjadi jadi.
" Untung nya gue masih bisa menyelamatkan dan merebut data perusahaan papah gue yang elu retas" Liliy menendang perut pelaku dengan keras.
Bugh!!… lagi lagi pria yang berada di depannya tersungkur ke belakang.
" Dan sekarang elu mau mencelakai kita semua dengan cara kono mu itu , hahaha… enggak mempan say. Kita semua lebih cerdik dari elu. So rencana mu jadi sia sia" menendang punggung sang pelaku dengan keras.
Yang sedari tadi hanya menonton , akhirnya Joon Woo buka suara " sudah Liy kau kembali ke tempat".
" Tapi tuan…"
" Kembali ke tempat. kalau kau siksa terus bagian kita tidak ada keburu dia mati. Kan jadi tidak seru " ujar Joon Woo sembari mematikan rokoknya menggunakan sepatu.
__ADS_1
Mau tak mau Liliy kembali ke tempat.
Bersambung…