
Yang dulu nya Adit kerja di perusahaan keluarganya sebagai CEO menggantikan papa nya, kini ia harus berhenti di karenakan permintaan sahabat nya sebagai road manager. Tapi tenang saja Adit tidak sepenuhnya melepas tanggung jawab dia, melainkan ada asisten nya yang menggantikan sebagain tugas nya dan sepenuh nya masih di kendalikan oleh papa nya yang mana , papa nya masih menjabat wakil CEO.
Awal nya Adit tak mau menjadi road manager untuk grup yang berisi anggota adek nya. Tapi desakan dari Joon Woo yang tak bisa di bantah. Alasannya hanya satu agar identitas mereka tetap terjaga.
Hanya dia yang tau seluk beluk Joon Woo dan Jhonatan dkk , maka dari itu Joon Woo memilih ia dari pada orang lain yang belum tentu bisa menjaga rahasia.
Episode selanjutnya…
Hingga tanpa terasa 25 menit telah berlalu dan mobil yang di tumpangi Jhonatan dkk telah sampai di tempat parkiran yang berada di dalam gedung Agensi.
Adit turun terlebih dahulu.
"Kajja!" titah Adit sembari membuka pintu mobil.
Mereka semua turun dari mobil satu persatu, dari kejauhan terlihat orang orang sedang berbaris sambil membawa kamera.
Untung nya di depan sana sudah ada penjagaan ketat agar orang asing , wartawan atau dll tidak bisa masuk.
Enam calon idol masih di anggap misterius oleh khalayak umum. Belum ada yang tau bahwa Agensi X akan mendebutkan enam anak muda yang berbakat, namun. Dari pihak Agensi belum ada konfirmasi resmi di karenakan ada sedikit kendala di bagian internal.
Maka dari itu enam orang tersebut dan juga para staf khususnya Social Media Marketing ,PR manager dan Akuntan di kumpulkan. Untuk membahas masalah yang belum terselesaikan.
"Annyeonghaseyo…" ucap mereka sembari membungkukkan badan sejenak. Mereka berenam masuk ke ruang meeting.
Tak lupa di situ ada Joon Woo yang sedang duduk di kursi besarannya seraya memegang kertas yang berisi jumlah data agensi nya. Ia terus membolak balik kertas tersebut sebelum ia tanda tangani.
"Saya rasa semua sudah berkumpul di sini" meletakan bolpoin dan juga meletakan kaca matanya.
"Mari kita bahas hari ini juga"
Arsen selaku asisten dan sekretaris mulai angkat bicara mengenai data data tersebut.
" Baik hari ini saya selaku perwakilan dari tuan Joon Woo ingin memberitahu mengenai marketing" ucap Arsen.
Semua nya tampak memperhatikan dan memahami presentasi yang Arsen sampaikan. Tanpa mengedipkan mata.
Meeting kali ini memakan waktu hampir dua jam, dua puluh menit bisa digunakan untuk istirahat. Tak hanya para staf yang mengajukan opini dan kritik, Jhonatan dan Bernard selaku perwakilan dari grupnya tak luput mengajukan opini mereka.
Dan hasil nya meeting tersebut grup mereka di ganti dengan nama Black Diamond yang bermakna akan bersinar terang di mana pun berada meskipun di tempat yang amat jauh.
Jhonatan sebagai ketua di grup menyetujui usulan tersebut.
"Sekarang semua nya boleh kembali ke tempat kalian" titah Joon Woo kepada seluruh staf yang ikut meeting tadi.
Dan masih tersisa grup Black Diamond di ruangan.
__ADS_1
"Tunggu…"
"Yang pertama kali mempunyai ide nama grup tadi siapa?" tanya Destiya ke Jhonatan.
"Siapa lagi kalau bukan yang berkuasa di sini" tanya balik Jhonatan.
"Haa…gimana?" ucap Destiya yang belum konek dengan pembahasan yang tadi.
Jhonatan langsung melebarkan bola mata ke arah Destiya. Tapi sang empu malah bingung dengan ekspresi Jhonatan.
"Apaan sih elu, biasa aja kali lihatnya. Gue congkel bola mata mu tau rasa" menyipitkan matanya.
"Wah…" seketika Jhonatan langsung migren setelah mendengar umpatan Destiya.
"Babo-ya…" ucap Joon Woo yang masih satu ruangan dengan Jhonatan dkk.
"Arsen jelaskan ke dia, seperti nya tadi tidak mendengarkan" tutur Joon Woo tanpa melihat ke arah Destiya.
Joon Woo sedari tadi mendengarkan ucapan Destiya dan Jhonatan , tapi ia enggan untuk menanggapi. Alhasil ia hanya mengumpat saja.
"Aish…"
"Kamu tadi malam tidur jam berapa?"
"Hmm… kayak nya jam satu dini hari" ucap Destiya tanpa rasa bersalah.
"Yang menyiptakan ide pertama kali tuan Joon Woo" ujar Arsen.
"Oh… pantes kata black terasa familiar ternyata dari tuan Joon Woo" menganggukkan kepala.
"Dasar telmi" cibir Bernard yang sedari tadi menahan kesal.
"Tuan" panggil Adit yang baru masuk.
"Ada apa gerangan memanggil diri ku"
Diam diam Joon Woo memanggil Adit lewat laptop agar tak ketahuan oleh orang lain.
"Duduk…"
"To the point" ucap Adit sembari menyimpan iPad nya di atas meja.
"Gaya mu sok sibuk" sahut Liliy.
"Perusahaan keluargamu akan saya akusisi menjadi anak usaha di Agensi ku. Bagaimana menurut pendapat mu?" tanya Joon Woo dengan sungguh sungguh.
__ADS_1
"Tuan Joon Woo boleh kah saya meminta waktu untuk memikirkan ini. Saya perlu berdiskusi dengan papa saya terlebih dahulu" usul Adit yang tak mau mengambil resiko besar.
"Baiklah saya tunggu kabar baik dari keluarga mu" Joon Woo mengerti akan ucapan Adit. Ia memperbolehkan kan Adit berdiskusi bersama papa nya.
"Terimakasih…"
"Untuk?" tanya Joon Woo sambil mengangkat kedua alisnya.
"Untuk semua" menampilkan deretan gigi rapinya.
" Sudah lah saya mau ke ruangan saya, dan antarkan mereka ke studio musik di lantai 4" perintah Joon Woo.
Gini amat nasib gue.
***
Sesampai di lantai 4 mereka masuk ke dalam Music production team.

Di sana sudah di tunggu oleh Produser ternama yang berada di Agensi X.
" Annyeonghaseyo" sapa Adit yang baru masuk.
"Oh annyeonghaseyo " balas sang produser sembari memutar kursi duduknya.
"Kalian dari grup Black Diamond?" tanya produser ke arah mereka.
"Benar kami dari Black Diamond yang akan debut tahun ini" ucap Reyhan perwakilan dari grupnya.
"Mohon bantuan nya tuan" ujar Liliy dengan menundukkan kepala sesaat.
"Haha…baiklah kalian akan tes vokal di sana satu satu. Agar saya dapat mendengar suara asli kalian seperti apa. Jadi bisa tau mau konsep apa musik dan Music Vidio…"
Di mulai dari yang paling tua yaitu Jhonatan. Dia mulai memasuki ruang tas vokal sembari menggunakan Headphone yang ia pasang ke kedua telinga.
Di depan Jhonatan terdapat microfon dan berbagai tombol. Dan di sebelah nya terdapat selembar kertas yang isi nya calon lagu mereka.
Jhonatan mulai menghidupkan microfon , tangannya mengulurkan menghidupkan tombol headphone. Di awal awal mendapatkan sedikit kendala berupa gugup.
" Jangan gugup yang rileks aja agar suara kamu terdengar jelas. Kalau kau masih gugup tarik nafas dalam dalam dan hembuskan secara perlahan" ucap sang produser.
"Baik produser"
"Mulai" sang produser menekan tombol on agar orang yang berada di luar bisa mendengarkan.
__ADS_1
Bersambung…