Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Syok


__ADS_3

Joon Woo menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Ia melangkahkan kaki nya menuju Arif.


Tap…tap…


" Segitu kah kemampuan mu hmm… mana kemampuan mu yang katanya tak terkalahkan" ucap Joon Woo dengan posisi jongkok sembari mendongakkan wajah Arif menggunakan Coping Blade.


Episode selanjutnya…


Arif mendongakkan wajah nya menatap Joon Woo" aku akan membalas mu ke*ara* " sembari mendorong tubuh Joon Woo sampai terjengkang kebelakang.


Bruk…


Arif langsung naik di atas tubuh Joon Woo sembari memukul wajah dia tanpa henti. Untung nya Joon Woo dapat melindungi wajah nya sendiri menggunakan kedua tangannya , ya walaupun masih terkena sedikit tapi sebisa mungkin melindungi wajahnya.


Samuel dan Bernard langsung mendekat ke arah Arif.


Drap…drap…


" Lepasin " ucap Arif yang sudah di cekal oleh Bernard dan Samuel.


Arsen langsung membantu Joon Woo berdiri " sekarang tugas mu. Saya mau istirahat" ucap Joon Woo sembari membersihkan pakaian nya.


" Dengan senang hati tuan" membungkuk badan seraya tersenyum ke arah Joon Woo.


Arsen membalikkan badan menghadap Arif yang kini sudah di rantai tangannya dengan posisi berdiri. Baju yang ia kenakan sekarang sudah berlumuran darah , terutama di daerah lengan dan juga daerah dada.


Sebelum mendekat ke arah Arif. Arsen terlebih dahulu mengambil cambuk yang sudah di siapkan sedari tadi oleh anak buah Joon Woo.


Biasa nya cambuk menggunakan semacam tali. Kali ini berbeda. cambuk yang Arsen bawa bukanlah cambuk biasa, melainkan menggunakan rantai.



Dari kejauhan Arsen meregangkan kedua tangannya sampai mengeluarkan bunyi " kreek…kreek…".


"Mari kita pemanasan kawan" ucap Arsen yang kini telah berada di hadapan Arif.


Tanpa menunggu jawaban dari Arif , Arsen langsung memukul tubuh Arif menggunakan cambuk yang ia bawa.


Ctess… ctess…


Tubuh Arif kini sudah berlumuran darah mulai dari bagian pinggang , punggung , lengan , dan kaki. Dan bagian lengan yang sudah terkena Coping Blade di tambah terkena cambukan yang tali nya di ganti dengan rantai , yang tadi nya lukanya tidak begitu terbuka. Kini luka nya tambah lebar dan tak ada yang niat membantunya selain dirinya sendiri.

__ADS_1


Arif sudah kehilangan begitu banyak darah dan tenaga. Bau amis memenuhi ruangan penyiksaan, di ruangan tak ada suara aktivitas manusia hanya suara cambuk yang terdengar.


Kini Arif tak bisa mendengar suara dan tak bisa melihat secara jelas , ia pasrah dengan keadaan sekarang. Mau berontak ia tak memiliki tenaga , mau minta tolong juga tak ada yang mau menolong nya. Tiba tiba penglihatan mulai kabur , kaki yang untuk menopang tubuh nya sudah tidak ada tenaga.


Dalam hitungan detik Arif menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi sangat tragis. Dan saat itu juga Arsen menyudahi permainan nya , ia segera membuang cambuk ke sembarang arah. Dengan nafas yang memburu.


" Haah… haah…" sembari berkacak pinggang.


" Cih,, kurang seru " Arsen berdecih seraya membalikkan badan menghadap Jhonatan dan Reyhan.


" Jhonatan dan Reyhan kemari lah" panggil Arsen sambil mengelap darah yang berada di lengan sampai pergelangan tangan menggunakan sapu tangan yang ia selalu bawa kemana pun.


" Iya" jawab Reyhan.


" Lepaskan mayat ini dan segera di makamkan dengan layak" tutur Arsen.


" Baik" ucap mereka serempak


Mereka berdua segera melepaskan ikatan tali dari pergelangan tangan Arif.


Bruk....


Tubuh Arif tergeletak di bawah dengan kondisi yang mengenaskan sekujur tubuhnya mengeluarkan darah ,mulai dari lengan , pinggang , punggung , bagian dada , dan juga kepala.


" Sam , Bernard bantuin kita angkat tubuh Arif" titah Reyhan.


Yang tadi nya Samuel dan Bernard sedang main Uno. Seketika terhenti setelah mendengar ucapan Reyhan. Tanpa berlama lama Samuel dan Bernard segera menyusul Reyhan dan Jhonatan yang dilihat sedang kesusahan.


" Kenapa?" ucap Samuel sembari menunjuk Arif menggunakan dagunya.


" Gue sama Rey di suruh Arsen buat pindahin mayat Arif , ya sekalian mengubur biar mayat nya tidak mengeluarkan bau busuk" jelas Jhonatan.


" Oalah , kirain ada apa. Ya udah kita sama sama angkat mayat ini ke dalam peti. Ngomong ngomong udah di siapin petinya?" tanya Bernard sembari mengikuti rekannya yang sedang jongkok.


" Belum" Jhonatan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


" Terus, bagaimana mau mindahin nya JHONATAN" geram Samuel.


" Hey!...hey!!... ngapain pada ribut" ujar Liliy yang baru datang bersama Destiya sambil mengangkat sebuah peti mati yang ia bawakan dari ruang sebelah.


" Nah ini baru bestie" wajah mereka tampak senang seakan akan mendapatkan undian.

__ADS_1


Duk...


Liliy dan Destiya menaruh peti tepat di samping mayat Arif.


" Apakah kalian berdua dukun?" tanya Bernard yang penasaran.


" Haa...dukun? siapa?" tanya balik Destiya.


" Iya, kalian berdua dukun kan atau paranormal yang berkedok berkerja di mafia. Kita semua dari tadi ribut nanya masalah peti, eh enggak tau nya kalian berdua masuk sambil bawa peti. Bukannya itu nama nya dukun" tutur Jhonatan.


" Sembarangan kalian ngomong nya. Kita itu tadi di suruh tuan Joon Woo suruh Carikan peti yang masih bersih dan kosong. Alhasil gue sama Destiya harus nyari peti di seluruh ruangan yang berada di dalam markas. Eh enggak tau nya ketemu di tempat penyimpanan senjata api , ya udah gue sama Destiya langsung angkut tuh peti dan sampai lah peti itu di sini dengan selamat tanpa cacat" ucap Liliy panjang kali lebar.


" Oalah gitu cerita nya" tanya Bernard.


" Ya lah. Dah lah cepat angkut tuh mayat ke sini" Liliy membuka tutup peti.


Serempak mereka berempat mencoba memindahkan mayat Arif ke dalam peti, hingga hitungan ketiga mayat si Arif seolah olah tak mau di pindahkan.


" Haah....haah... gila nih mayat berat amat. Lama lama encok nih pinggang gue" celetuk Reyhan.


" Lah iya, gue baru nyadar " sambung Jhonatan.


" Kok aneh. Perasaan setiap gue angkat para mayat musuh enggak berat berat amat" ucap Samuel sembari mengetuk dagu nya menggunakan jari telunjuk.


" Liliy coba kau bisikan ke korban tepat di telinganya katakan ( sudah ikhlas kan masalah ini. Ini takdir mu , kau tidak boleh berlama lama di alam manusia. Dunia mu sudah beda, pergi lah ikuti cahaya terang itu dan kau akan menemukan )" seolah olah Liliy mendapatkan bisikan yang entah asal suara nya dari mana.


" Des kau tadi ngomong sama gue" menunjukan dirinya sendiri.


" Enggak tuh, gue dari tadi enggak ngomong sama elu. Emang nya ada apa sih?" tanya Destiya.


" Eh,, enggak kok mungkin gue salah dengar Des" memalingkan wajah nya ke sembarang arah.


" Terus kalau bukan yang ngomong Destiya , jadi tadi siapa dong. Suara nya jelas banget cewek , enggak mungkin suara cowok. Apa gue ikuti kata barusan ya siapa tau berhasil" batin Liliy sembari menatap mayat Arif yang sudah tak bernyawa lagi.


Dengan berat hati Liliy melangkahkan kaki nya mendekat ke mayat si Arif yang sudah terbujur kaku disertai tubuhnya bersuhu dingin.


Sebelum menjalankan perintah tadi , Liliy menyempatkan menarik nafas dalam dalam dan ia keluarkan secara perlahan.


Fuuu....


Liliy berjongkok tepat di hadapan mayat Arif , tubuh Liliy sedikit ia condongkan tepat di samping telinga nya " waktu mu sudah sampai di sini , ikhlas kan masalah ini. Ini sudah takdir mu jangan terlalu lama di alam manusia. Alam mu sudah berbeda sekarang kau boleh pergi".

__ADS_1


Setelah membisikkan kata kata tadi Liliy mencoba menggerakkan tangan Arif percaya tidak percaya tubuh Arif yang tadi nya kaku. Sekarang bisa di gerakkan , semua orang yang berada di situ di buat kaget atas keajaiban yang berada di depan mata.


Bersambung...


__ADS_2