Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Penthouse


__ADS_3

" Nah kan elu dapat hadiah dari sang ketua , makannya jangan bercanda sama Jhonatan kena batu kan elu" Destiya tak henti hentinya menertawakan Liliy.


" Kan gue asal ceplos tadi. Eh ujung - ujungnya dapat hadiah dari bang Jho. Mana sakit lagi pipi gue " Liliy mengelus pipinya yang berwarna sedikit kemerahan.


" Lihat dulu sikon nya Liy kalau orang lagi bete jangan di ajak bercanda" nasehat Jhonatan.


" Iya iya bang gue minta maaf" ucap Liliy sambil mengerucutkan bibirnya.


Episode selanjutnya…


Kini mobil yang di tumpangi oleh Jhonatan dkk telah sampai di tempat tujuan. Jhonatan segera menghubungi kakaknya.


📞 " Halo kak "


📞 " Ada apa Jho ?"


📞 " Gue sama yang lainnya udah sampai di depan , ini kita mau kemana"


📞 " Oh udah nyampe bentar gue ke bawah "


Sambungan telpon di putus.


Datang lah seorang pria berpakaian jas rapi tengah menghampiri Jhonatan dkk , semua orang yang berada di situ di buat bingung dengan interaksi kedua orang tersebut.


Pria tersebut paham arah pandangan teman teman adeknya. Ia mulai angkat bicara.


" Gue sama Jhonatan adek kakak kandung jadi elu semua enggak usah mikir kemana mana " ujarnya.


" Haaa… apa!!,,, kak Arsen sama bang Jhonatan saudara kandung " ucap Liliy. Tak cuma Liliy yang baru mengetahui , mereka sama kaget nya atas pengakuan sang sekretaris bosnya.


" Jho yang di bilang Arsen apa benar ?" tanya Samuel.


" Benar kita saudara kandung" jawab Jhonatan.


" Kenapa elu enggak kasih tau sama kita Jho " sekarang gantian Bernard yang bertanya.


" Enggak penting " ujar Jhonatan.


Arsen segera merangkul sang adek untuk menuju ke dalam sebelum bos nya mulai marah marah.


Destiya menarik lengan Liliy agar mendekat ke dirinya " Liy wajah Arsen sama Jhonatan enggak ada sama nya".


" Mana ku tau , tapi kalau di lihat lihat bentuk mata hidung dan bibir sama yang membedakan bentuk rahang dan postur tubuh" ucap Liliy.


" Benar juga sih Liy , ya udah yuk ikuti mereka biar kita enggak kesasar ngeri cuy kesasar di bangunan yang luas ini" Destiya mengusap kedua lengannya yang nampak mulai ketakutan.

__ADS_1


*


" Astaga!! luas banget tempat ini" ujar Liliy sambil lari lari di dalam ruangan tersebut , tak lupa ia melihat pemandangan kota yang begitu indah dari atas gedung.


" Hadeh nih anak enggak bisa diam apa gimana , bikin gue malu aja. Taruh di mana wajah tampan gue ini" gumam Bernard. Setelah melihat tingkah kekanakan Liliy mood Bernard menjadi kacau.


Liliy masih asik melihat pemandangan kota dari atas , ia menempelkan pipinya di dinding yang terbuat dari kaca.


Reyhan dan lainnya menggelengkan kepala melihat tingkah Liliy ya maklum umur Liliy masih 16 tahun dan sebentar lagi ia akan memasuki dunia sekolah bersama Destiya.


Destiya celingukan mencari seseorang yang tak kunjung datang.


Samuel dan Bernard mendekati Destiya yang sedang mencari cari sesuatu , mereka berdua berinisiatif mengagetkan Destiya.


Samuel menginstruksi ke arah Bernard agar tak menimbulkan suara langkah kaki. Bernard bagian menghitung 1…2…3 dan Dor!!


Destiya terjengkang kebelakang udah tau Destiya lagi duduk santai sambil melihat interior yang berada di dalam ruangan tersebut dikagetkan dengan kemunculan 2 rekannya.


Bug…Bug…


Destiya mengeplak lengan kedua rekannya " gila ya elu berdua , kaget gue untung gue enggak menderita sakit jantung"


" Habisnya elu dari tadi gue perhatiin bengong melulu. Ya gue sama Bernard mendapatkan ide yang berlian dan hasilnya ini" di susul gelak tawa mereka berdua yang sukses mengagetkan Destiya.


Destiya merasa geram oleh tingkah kedua rekannya , ia bangkit dari sofa dan langsung menggulung lengan panjangnya yang ia gunakan sehabis dari acara syuting.


" Kita selamat bro lolos dari terkaman Destiya " bisik Samuel.


" Bener lo untung Joon Woo datang di waktu yang tepat" Bernard menimpali ucapan Samuel.Dan bertos ria.


" Kalian sudah datang rupanya" Joon Woo melangkahkan kakinya menuju sofa tak lupa di tangannya memegang gelas yang berisi red wine.


"Kemari lah jangan sungkan anggap aja rumah kalian sendiri" Joon Woo tau anak buah nya enggan duduk di sofa yang harganya setara 1 unit mobil Alphard.


" Baik tuan" ujar Bernard dan langsung di ikuti oleh rekan rekannya.


" Ada apa tuan memanggil kami ke sini?" tanya Reyhan.


" Begini " Joon Woo meletakan gelas di meja dan melanjutkan ucapan yang sempat terpotong , " dua hari lagi kalian akan berangkat ke negara I " .


" Ya tuhan!! kapan waktu istirahat nya " celetuk Liliy.


Joon Woo menoleh ke arah Liliy " apa kamu keberatan hmm…"


"Ti…tidak tuan " ujar Liliy dengan suara yang terbata bata.

__ADS_1


" Apa ada alasan di balik itu? " tanya Destiya.


" Tidak ada " ujar Joon Woo.


" Lantas kenapa anda kekeh mengajak kami untuk berangkat ke Negara I?" tanya Jhonatan.


" Apa kalian lupa waktu itu saya menyuruh membawakan desainer untuk membuat baju untuk kalian. Dan baju yang dia buat sudah selesai waktunya kalian untuk memakainya" ucap Joon Woo.


" Jangan bilang kita akan foto shoot di negara I " ucap Samuel.


" Katanya pak sutradara kita akan libur selama seminggu" protes Liliy.


" Emang benar yang di ucapkan oleh sutradara , tapi kalian belum melakukan kegiatan foto shoot. Itu sudah peraturan di agensi saya. Kalau kalian sudah melakukan foto shoot sebelum syuting di pastikan kalian akan libur selagi menunggu hasilnya" Joon Woo mengambil gelasnya yang di dalam nya masih tersisa red wine nya.


" Gini ya mau jadi idol belum apa apa udah capek" keluh Liliy.


" Ya mau gimana lagi Liy " ucap Samuel.


Tiba tiba Arsen berceloteh.


" Kalian lapar atau tidak ?" tanya Arsen.


" Ya jelas lapar lah kak " ucap mereka serempak.


" Buset kompak banget kalian " Arsen langsung memesan makanan lewat aplikasi pemesanan.


" Tuan pemandangannya di sini bagus ya " Destiya melihat pemandangan sore hari melalui dinding kaca.


" Iya tuan bagus pemandangan di sini , oh iya nama bangunan ini apa tuan?" tanya Liliy yang dari tadi penasaran nama bangunan ini.


" Bangunan ini namanya Penthouse yang letaknya di lantai paling atas sebuah gedung apartemen" ujar Joon Woo sambil menscroll layar smartphone nya.


" Kalau boleh tau , harga nya berapa tuan?" tanya Reyhan.


" Sekitar 64,7 miliar " ucap Joon Woo.


" Guys dompet kita menjerit setelah mendengarkan penuturan tuan Joon Woo" Ucap Bernard.


*


Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang , mereka makan bersama di penthouse Joon Woo.


Makanan sudah tertata rapi di atas meja dan penampilannya yang begitu menggiurkan.


" Hmm… bau nya kayak nya enak nih " Liliy langsung mencomot sepotong pizza yang di atasnya di kasih lelehan keju mozzarella.

__ADS_1


Dan jadilah mereka semua makan bersama dan bermalam di Penthouse.


Bersambung…


__ADS_2