
Adit pun ikut tersenyum ke arah keluarga nya. Sang papa menoleh ke arah Adit.
"Sini nak" papa nya mengkode anak laki nya untuk mendekat. Dan bergabung acara berpelukan.
Episode selanjutnya…
Jhonatan , Samuel , Reyhan , Bernard dan Destiya juga tak mau ketinggalan, mereka pun ikut bergabung dengan keluarga Liliy yang sedang berpelukan.
"Huhu...udah lama enggak ngerasain pelukan keluarga" gumam Jhonatan yang sudah lama merantau di negeri orang, seorang diri tanpa keluarga maupun sanak saudara.
Begitu juga dengan Bernard yang amat rindu kasih sayang dari orang tuanya. Tapi sayang nya orang tua kandung Bernard sudah lama pisah rumah. Tanpa ada kata cerai dari mulut ayah nya. Seakan ayah nya lari dari tanggung jawab. Ia dari kecil di asuh oleh ibu nya seorang diri dan di dampingi kakak kandung dari pihak ibu nya. Ayah nya entah pergi kemana hingga saat ini. Bernard belum menemukan sosok ayah kandung. Entah sudah tiada atau masih hidup, Bernard tidak tau pasti.
Tujuan Bernard masuk anggota mafia hanya satu yakni menemukan keberadaan ayah kandung , kalau pun Bernard berhasil menemukan ayah nya. Bernard akan mengajak ke kampung halaman untuk bertemu ibu nya berserta mengajak berbicara dari hati ke hati mengapa ayah tega meninggalkan ibu berserta aku yang masih bayi.
Tak terasa Bernard mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan. Walaupun di luar terlihat kuat yakin lah seorang anak pasti merindukan kasih sayang seorang ayah.
Samuel yang berada di dekat Bernard langsung menoleh ke sumber suara, ia mendengar Isak tangis seseorang dan ternyata Bernard diam diam menangis.
Samuel menepuk punggung kokoh Bernard "sabar pasti ayah mu akan muncul dengan sendirinya"
Bernard hanya bisa menganggukkan kepala.
Reyhan menengok ke arah belakang. Menemukan Bernard yang sedang menghapus sisa air mata sebelum di ketahui oleh yang lainnya.
"Ber" ucap Reyhan dengan lirih.
Bernard menatap sekilas ke arah Reyhan "tak apa"
Keluarga Liliy menyudahi acara pelukan begitu juga dengan lain nya.
Papa Liliy menangkap ada salah satu teman Liliy yang sedari tadi menundukkan kepala. Tak di sangka papa Liliy merangkul tubuh Bernard ke dalam pelukan hangat.
" Menangis lah. Luapkan semua emosi di dalam dada mu, anggap lah aku sebagai ayah mu nak Bernard" lirih papa Liliy.
"Om…" ucap Bernard dengan lirih.
"Kamu bisa menganggap ku sebagai ayah mu mulai sekarang" papa Liliy tak henti henti nya mengusap punggung Bernard yang sedikit bergetar.
__ADS_1
" Apa sampai sekarang ayah si Bernard belum ketemu?" tanya mama Liliy.
Liliy pun menjawab " belum mah, masih sama belum ada tanda tanda akan kehadiran ayah kandung Bernard" Liliy melihat Bernard sekarang yang sedang meluapkan emosi nya dalam pelukan papa nya.
Mama Liliy berjalan ke arah mereka berdua. Ia pegang pundak Bernard yang masih dalam posisi yang sama yaitu menangis.
" Nak, jangan berlarut dalam kesedihan. Ada seorang yang lebih kau perhatikan yakni ibu mu. Sayangi ibu mu , hormati ibu mu hanya itu orang tua mu yang masih bertahan di samping mu selagi senang maupun duka" nasehat mama Liliy dengan bijak.
Bernard yang mendengar perkataan mama nya Liliy. Perlahan melepaskan pelukan , kemudian menatap wajah mama Liliy dengan dalam.
" Terimakasih Tante atas nasehat nya"
Mama Liliy membuka kedua tangan nya seraya tersenyum ke arah Bernard dan Bernard langsung membalas dengan pelukan.
" Tidak usah berterimakasih ke pada ku" ujar mama Liliy sambil melepas pelukan.
" Apa kamu sudah menghubungi ibu mu? hanya untuk sekedar menanyakan kabar" mengusap lengan Bernard sebelah kanan.
Bernard menggelengkan kepala.
"Coba lah nak. Mungkin saat ini ibu mu sedang merindukan suara mu" sahut papa Liliy.
" Aku ijin kan kau menelepon ibu mu" Joon Woo mempersilahkan Bernard menghubungi orang tua nya.
Bernard mencari nomor ibu nya, setelah menemukan nomor. Ia langsung menghubungi melalui smartphone pribadi milik Bernard.
Tut… tut…
Nada panggilan masuk. Bernard sedari tadi mengetuk ngetuk smartphone bagian belakang.
Nada panggilan pertama tidak di angkat. Bernard mencoba lagi yang kedua, masih sama dengan nada panggilan masuk.
📞 : " Halo Bernard"
Akhir nya panggilan kedua di angkat oleh ibu nya.
📞 : " Halo ibu. Ibu tadi kemana kok panggilan pertama tidak di angkat" tanya Bernard sambil menatap wajah mereka.
__ADS_1
📞 : " Tadi ibu masak, hp ibu di dalam kamar jadi tidak kedengaran. Di sana kamu baik baik saja kan? ibu sudah lihat kamu melalui akun YouTub* kamu tambah ganteng sayang. Jaga kesehatan ya di sana"
📞 : " Bernard di sini baik baik saja bu, ibu jangan lupa jaga kesehatan juga. Jangan kerja terlalu keras, nanti kalau Bernard sudah dapat gaji pertama , Bernard akan kirim ke ibu"
📞 : " Ibu di sana sedang ngapain selain jaga toko kue"
Ibu Bernard mempunyai usaha di bidang kuliner, ibu Bernard mahir membuat berbagai macam kue dan di bantu oleh kakak nya. Kakak laki-laki sebagai koki dan tinggal satu rumah.
Sudah lama ibu Bernard membangun usaha kue hampir lima tahun, semenjak Bernard sekolah SMP.
📞 : " Oh, ibu hanya membantu paman mu yang sibuk membuat pesanan. Hehe… maklum akhir akhir ini banyak pesanan, jadi ibu sama paman sedikit kewalahan"
📞 : " Ibu ingat jaga kesehatan jangan terlalu di fosir tenaga nya. Apa Bernard carikan pegawai baru di sini atau koki yang mahir di bidang kue" tawar Bernard.
📞 : " Tidak usah anak ku. Biar ibu aja yang mencari pegawai di sini. Kamu fokus aja di sana, ibu harap kelak kamu jadi orang sukses" doa ibu kepada anak nya kapan pun dan di mana pun.
Bernard menyeka air mata sebelum menjawab ucapan ibu nya.
📞: " Iya Bu, aku tutup telpon nya ya. Dah ibu love you"
📞: " Love you too anak ku tersayang" tutur ibu nya sebelum menutup panggilan.
"Bagaimana Ber, sudah plong?" tanya Samuel.
"Iya nak bagaimana. Apa ibu mu baik baik saja" sela mama Liliy yang berdiri tak jauh dari Bernard.
" Ibu baik baik saja tan. Kata ibu akhir akhir ini banyak pesanan" ujar Bernard sembari menyimpan hp nya di saku celana.
" Wah ibu mu pasti sangat senang di campur kewalahan menghadapi banyak nya pesanan. Apa di sana ada yang bantu?" tanya Joon Woo yang sedari tadi menyimak obrolan.
" Pasti nya sangat senang. Di sana hanya satu orang yang membantu" ucap Bernard sedikit menurunkan kedua bahunya.
" Siapa?" tanya Arsen baru saja selesai membantu Adit memindahkan tas koper ke tempat asal nya.
"Paman gue. Siapa lagi kalau bukan paman gue sendiri"
" Gue tadi udah mengusulkan ide untuk mencari karyawan lagi untuk membantu membuat kue dan menjaga toko. Tapi di tolak sama ibu gue, jadi gue hanya mengiyakan" ujar Bernard yang ikut duduk lesehan di bawah bersama yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung…