
Liliy memandang lurus ke depan tepat di anak tangga paling ujung.
" Awak Dewe kudu merono, Saiki " seru Liliy dengan di ikuti lari menuju tangga.
Sontak mereka yang mendengar ucapan Liliy langsung mengejar sampai lantai atas.
Episode selanjutnya…
Sampai di atas mereka dikagetkan dengan kemunculan Mafioso yang berjumlah kurang lebih tiga puluh orang. Masing masing membawa sebilah pisau yang ukuran nya tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil, dengan bagian lancip nya terlihat sangat tajam.
Joon Woo dan Jhonatan dkk tak merasa ketakutan justru semakin gencar untuk menghabiskan Mafioso yang berada di hadapan nya.
Sorot mata Liliy menangkap sebuah pintu kayu yang di lapisi pintu besi yang letak nya paling ujung dari ruangan ini. Dengan langkah tegap nan santai ku hampiri pintu itu tapi sayang , Mafioso yang berada di situ hendak memukul ku menggunakan satu balok kayu yang sudah ia siapkan.
Dengan firasat yang tepat, Liliy dapat menghindari dari sarangan yang berasal dari arah belakang. Tak cuma satu orang, melainkan lima orang dengan tubuh yang besar sedangkan tubuh Liliy kecil mungkin. Tinggi nya mencapai batas dada para Mafioso.
Liliy memutar tubuh nya dengan kaki kanan nya ia angkat se tinggi tingginya hingga mengenai wajah musuh.
Bruk!!
Mafioso yang membawa satu buah balok kayu terhempas ke bawah dengan balok nya terlepas dari tangan.
Empat orang tak tinggal diam, ia mulai menyerang Liliy menggunakan tangan kosong. Dengan empat orang melawan satu orang dan itu perempuan. Secara logika empat orang menyerang satu orang, yang bakalan menang empat orang tersebut.
Tapi tidak dengan Liliy walaupun ia perempuan ia tetap bisa melawan musuh nya dengan trik tertentu.
Seorang pria bertubuh besar menyerang Liliy dari arah depan dengan cara lari sambil salah satu tangan nya mengepal seakan akan akan memukul nya.
Dari balik topeng penyamaran ujung bibir Liliy sedikit terangkat serta tatapan nya tajam. Hendak mau mem bogem wajah Liliy. Dengan santai nya Liliy menahan kepalan tangan yang berada di depan mata nya.
Dengan teknik yang ia kuasai, kepalan tangan tadi ia putar hingga ke belakang dengan cengkraman yang kuat. Tiga orang hendak membantu teman nya tapi dengan taktik yang licik tubuh pria tadi ia dorong menuju ketiga teman nya.
Alhasil empat Mafioso tertubruk hingga semua nya jatuh ke bawah.
__ADS_1
Dengan kesempatan ini Liliy hendak menuju pintu paling ujung. Tapi lagi lagi kaki kiri Liliy di tahan sama orang tadi yang terjatuh ke bawah.
" Mau kemana kau " ucap dia sambil menarik kaki Liliy hingga LilIy jatuh ke bawah juga.
Dengan cengkraman yang amat kuat Liliy menahan kesakitan di kaki nya. Tak berhenti di situ kaki yang satu nya ia gunakan untuk menendang wajah pria tadi dengan tendangan yang amat keras.
Bruk!!…
Bruk!!…
Pria tadi tergeletak di atas lantai semen dengan muka yang penuh dengan darah.
Jangan salahkan gue. Kalau gue akan menghabisi nyawa elu dengan tangan gue sendiri. " Sudah lama Hiatus badan jadi remuk semua" berdiri dari duduknya
Sisa nya mereka hendak membidik dada Liliy yang letak nya tepat di bagian jantung. Dengan refleks yang tepat Liliy mampu memukul peluru menggunakan balok kayu tadi.
Ctak!
Peluru tadi berhasil menancap di dinding. " Wow keren juga gue " memandang ke arah dinding.
Mata ekor Liliy menangkap bayangan peluru dengan laju yang cepat mengarah bahu bagian belakang. Gerak cepat yang Liliy punya mampu menghindar dari peluru tajam.
" Oh jadi kalian menyerang gue dengan menggunakan senjata api. Ok siapa takut kau yang memulai dan gue yang bagian mengakhiri dengan cara yang mengerikan ini " Liliy mengambil pistol nya yang berada di sabuk yang letak nya di pinggang sebelah kanan dan kiri.
" Kita mulai " gumam Liliy sambil memegang pistolnya yang mengarah ke mereka berdua.
Dor…
Dor…
Awalnya peluru milik Liliy meleset dari targetnya. Untung nya peluru ke tiga berhasil membidik di bagian dahi Mafioso dan ada juga yang mengenai perut.
Lima Mafioso tergeletak di bawah dengan seluruh tubuh nya bersimbah darah. Cepat cepat ia memasukan kembali pistolnya, kemudian ia menuju pintu paling ujung. Yang lainnya masih bertarung dengan musuh nya, kesempatan ini lah Liliy menyusup ruangan yang berada di balik pintu kayu.
__ADS_1
Tak memakan waktu lama kini Liliy telah tiba di depan pintu besi. Ia memandang terlebih dahulu ke arah pintu besi tersebut takut nya ada jebakan yang akan merugikan diri sendiri.
Liliy mengeluarkan alat pendeteksi yang berada di tas punggung yang selalu ia bawa sewaktu penyerangan. Bentuk alat seperti hp jadul.
" Hufft…aman " alat pendeteksi tak mengeluarkan suara berarti tak ada alat jebakan yang berada di pintu besi, ia masukan kembali ke dalam tas. Sesekali ia memandang ke arah jam tangan.
Liliy mengambil lainnya berupa obeng yang berada di dalam tas. Ia mencoba mengotak ngatik menggunakan obeng butuh waktu lima menit Liliy berada di depan.
Crak…
Pintu besi berhasil di buka menggunakan obeng. Ia memasukan kembali ke dalam tas. Pintu satu telah terbuka kini giliran pintu kayu yang masih tertutup rapat dari dalam.
Liliy mempunyai ide dari pada mencongkel menggunakan pisau lebih baik, ia memundurkan langkah nya menjauh dari pintu. Di rasa sudah cukup.
Liliy mengambil bom mini yang berada di saku celana nya , tak membutuhkan Pemantik api atau pun korek api. Bom mini itu tinggal di tarik ujung tali nya kemudian ia lempar ke arah pintu kayu tersebut.
Dalam hitungan detik pintu kayu berhasil roboh berserta puing puing dinding yang berhamburan ke mana mana.
Sebagian orang yang berada di dalam sana tersentak kaget begitu juga dengan pak tua yang berada di dalam berserta para jalan* yang bergelantung manja di tubuh pak tua.
Joon Woo berserta lainnya menghampiri sumber suara yang terdengar cukup keras.
Liliy yang hendak masuk ke dalam, tiba tiba tangan Joon Woo menepuk pundak Liliy.
" Kita masuk bersama jangan sendiri " pungkas Joon Woo.
Joon Woo dan Jhonatan dkk masuk ke dalam dengan kondisi ruangan yang berhamburan bau bom dan bau puing puing.
"Aaaa…" teriak para jalan* yang sebagian tidak memakai baju bagian atas. Hendak mau kabur tapi sayang nya sudah terbujur kaku di bawah dengan cairan merah yang terus keluar di sekitaran dada.
Pelaku penembakan yakni Liliy dan Destiya.
Jonathan dkk baru pertama kali melihat pak tua secara langsung yang wajah nya mirip dengan papa nya Joon Woo. Pantas saja Joon Woo sangat benci dengan kakak kandung papa nya. Rupa nya begini tingkah dia yang semakin tua semakin menjadi.
__ADS_1
Bersambung…