
" Masa sih dek. Kayak nya enggak deh" Reyhan mikir dengan ucapan Liliy.
"He'em coba deh cek sendiri kalau enggak percaya" langkah Liliy yang di percepat tidak seperti biasanya.
" Lah malah di tinggal" batin Reyhan sembari menatap punggung Liliy yang kian hilang di hadapannya.
Episode selanjutnya...
Di satu sisi....
"Emmpphh..." Bernard menghempas tubuh Arsen ke depan.
Brak...
Tubuh Arsen tergeletak di bawah tak lupa ia mengusap pantat nya yang terasa ngilu.
"Kau!! kenapa banting tubuh gue" Arsen mencoba berdiri sendiri tanpa bantuan dari Bernard. Tapi untung nya tidak ada luka di tubuh Arsen.
"Ngapain nutup mulut gue, waktu gue mau ngomong sama Joon Woo" Bernard berkacak pinggang di hadapan Arsen yang notabene sekretaris Joon Woo.
"Itu tidak penting" merapikan setelan jas sebelum melangkahkan kaki nya keluar dari ruang kerja Joon Woo.
"Eh..." baru saja Destiya memegang gagang pintu, tau nya dari dalam sudah ada yang menarik nya. Dan alhasil mereka berdua saling berhadapan.
Tanpa sepatah kata pun Arsen menjauh dari kerumunan Jhonatan dkk. Sebelum emosi nya meradang kembali.
"Mau kemana elu" tanya Reyhan yang baru sampai di depan ruangan CEO dan bertepatan itu pula Arsen mau berbelok kanan. Dan terjadi lah saling bertemu.
"Bukan urusan mu" jawab Arsen dengan nada datar nya.
"Aneh..."
" Dia kenapa?" tanya Reyhan yang sudah berada di dalam ruangan CEO.
"Entah lah, gue juga enggak tau mungkin sesajen nya masih kurang" ucap Bernard yang tidak ambil pusing.
"Btw kita sebentar lagi mau debut kurang tiga hari lagi. Rasa nya kok deg deg kan gitu. Elu semua pada ngerasain apa enggak?" sambung Liliy yang tegah memandangi kota Seoul dari atas dalam gedung.
"Apa gue akan bisa melewati ini semua" batin Liliy sembari memandangi kendaraan yang tegah berlalu lalang.
"Apa gue sanggup. Dan kalau suatu saat identitas gue terbongkar, gue harus ngomong apa ke orang tua gue dan para fans" Jidat nya terus ia bentur kan ke dinding kaca. Untung nya dinding kaca lapisan nya tebal jadi mau menggempur menggunakan batu , peluru dan sebagainya tidak akan mudah pecah. Tapi hanya satu alat yang bisa meretakkan lapisan kaca yang tebal yaitu car safety hammer.
__ADS_1
"Aw...pening juga lama lama jidat gue" gumam Liliy seraya membalikkan badannya. Dan bertepatan itu pula kedatangan oleh seorang pemilik agensi ini dan juga pemilik ruangan ini.
" Loh kenapa kalian kumpul di sini. Sana ke ruangan kalian sendiri!" usir Joon Woo menggunakan ujung bolpoin.
Joon Woo langsung mengambil jas kerjanya yang bergelantung di tempat gantungan baju, tak lupa mengambil tas kerja yang ia taruh di atas meja. Dan sesekali ia memantau jam yang berada di pergelangan tangan.
Aktivitas tersebut tak luput dari pantauan enam anak buah nya yang berada tak jauh dari meja kerja.
Sebelum melanjutkan langkah kaki nya. Ia sempat menoleh ke samping kiri" kalian cepat kembali ke ruangan kalian" gertak Joon Woo dengan nada sungguh sungguh tak ada raut wajah bercanda , santai atau kemarahan.
" Baik " ucap mereka serempak sembari bangkit dari duduk nya.
"Hari ini kenapa orang orang pada aneh" ucap Reyhan yang sedari tadi mengamati orang orang yang berada di sekitaran nya.
"Ya gue rasa begitu" sambung Jhonatan yang berada di barisan belakang.
"Kita mau kemana selain ke ruangan Joon Woo" sela Destiya dengan jalan yang di buat sempoyongan.
" Gue bosen nih. Enggak ada niatan ngajak aku jalan jalan gitu" kini Samuel yang angkat bicara.
" Yang ada tambah boros ngajak elu jalan jalan..."
"Haha...bisa aja elu Ber" Liliy tertawa lepas sembari bertepuk tangan.
Tanpa sadar mereka telah sampai di depan ruangan latihan. Sang ketua membuka kenop pintu terlebih dahulu setelah di rasa sudah aman baru lah rekan lainnya di persilahkan masuk.
"Liy" Samuel mencegah Liliy masuk ke dalam.
"Kenapa" menaikan kedua alisnya.
"Gu..gue mau ngomong sama elu berdua boleh" menoleh ke arah Jhonatan.
Dan Jhonatan pun mengiyakan.
"Ngomong apa? di sini juga bisa apa beda nya" ketus Liliy.
"Please..."
Mau tidak mau Liliy mengikuti langkah Samuel dari belakang.
"To the point" tutur Liliy yang tidak suka basa basi kalau menyangkut kepentingan.
__ADS_1
"Gue mau minta maaf tentang kemarin. Gue sudah minta maaf ke kakak elu. Sekarang giliran elu" Samuel menunduk enggan menatap wajah Liliy.
"Terus?" sambung Liliy yang tengah asik menggigit jari jari kuku nya sendiri.
"Gue salah waktu itu tidak bisa mengontrol emosi gue waktu itu. Gue janji akan selalu mengontrol emosi gue di mana pun itu...." sedari tadi Samuel masih menatap sepatu milik Liliy.
"Hey wajah gue di sini. Bukan di bawah, sedari tadi gue perhatiin kalau ngomong selalu menatap ke bawah. Sebenar nya di bawah ada apaan?" Liliy sedari tadi geregetan melihat Samuel terus melihat ke arah bawah.
"Lihat mata gue kalau ngomong..."
"Hehe...sorry Liy gue takut kalau elu marah marah. Serem" celetuk Samuel yang sudah berani menatap wajah Liliy.
" Nah gitu dong. Enggak sopan tadi, lain kali kalau ada orang ngomong tuh di tatap wajah lawan bicara nya. Kasihan yang lawan bicara nya kayak dia merasa tidak dihargai" keluarlah kata kata mutiara dari mulut Liliy.
" Iya Liy gue paham. Dan sorry yang tadi" ucap Samuel sembari tersenyum tipis.
"Hmmm..." Liliy hanya menjawab dengan deheman. Kemudian ia putar badan dan segera meninggalkan Samuel.
"Oii...tunggu!!" teriak Samuel yang semakin keras, karna Liliy sudah semakin hilang jejaknya.
"Ckk,, itu jalan atau melayang sih" gerutu Samuel yang sepanjang jalan tanpa henti.
...**...
"Ada apa manggil gue. Apa ada masalah penting sehingga gue di undang ke sini" tanya Adit yang baru sampai di salah satu cafe yang letak nya tak jauh dari gedung Agensi milik Joon Woo.
"Tentang kemarin" ucap Joon Woo yang mengkode Adit untuk duduk di sebelah Arsen.
"Wah kita ketemu lagi kawan" tutur Adit sembari mencolek dagu milik Arsen.
Sontak Arsen langsung bergidik negeri setelah di colek oleh Adit. "Horor elu"
"Horor?..."
"Iya horor. Gue tuh selalu merinding kalau dekat dekat dengan kau!. Sana jaga jarak sama gue huss...huss..." ucap Arsen.
"Heh....elu kira gue setan gitu. Jangan ngadi Ngadi kau!" sentak Adit yang tak terima dirinya di sama kan dengan makhluk halus.
"Sudahlah jangan memancing kegaduhan. Atau kalian semua mau saya potong lidah kalian masing masing"
"Oh jelas TIDAK dan terimakasih" menangkupkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Bersambung...