
"Aaaa…" teriak para jalan* yang sebagian tidak memakai baju bagian atas. Hendak mau kabur tapi sayang nya sudah terbujur kaku di bawah dengan cairan merah yang terus keluar di sekitaran dada.
Pelaku penembakan yakni Liliy dan Destiya.
Jonathan dkk baru pertama kali melihat pak tua secara langsung yang wajah nya mirip dengan papa nya Joon Woo. Pantas saja Joon Woo sangat benci dengan kakak kandung papa nya. Rupa nya begini tingkah dia yang semakin tua semakin menjadi.
Episode selanjutnya…
" Kenapa kalian bisa masuk kesini? " kondisi tubuh setelah telanjang hanya menyisakan celana pendek berbahan kulot.
" Serang mereka, jangan diam saja. Dan kerahkan para Mafioso yang berada di luar sana " pria tua itu terlihat panik saat ruangan nya hancur.
Di ruangan itu terdapat sepuluh Mafioso yang masih hidup, mereka langsung menyerang Joon Woo dan Jhonatan dkk. Perkelahian kian memanas dan tak dapat di kendalikan.
Dan lagi lagi yang berhasil mengalahkan yakni pasukan Joon Woo dengan alat lengkap yang mereka bawa.
Kini tersisa hanya lah pria tua yang masih terdiam di kursi.
" Hay tuan Yoon , lama tak berjumpa dengan ponakan mu ini " Joon Woo mendekat ke arah pria tua.
" Kenapa kalian bisa masuk kesini!! kemana anak buah ku" pria tua hendak pergi mencari anak buah nya yang tak kunjung kemari.
" Ahahaha… selamat malam tuan Yoon yang terhormat. Sudah lama saya mengincar nyawa anda, dan sekarang anda sudah di depan mata saya" sorot mata Liliy berubah menjadi warna coklat terang serta cara bicara nya sudah berubah tidak seperti Liliy.
Pria tua yang hendak pergi , ia urungkan setelah mendengar ucapan Ajeng.
Joon Woo serta lainnya di buat bingung dengan perubahan sikap dan cara bicara Liliy, seakan akan sudah kenal lama.
" Kau!! " yang berteriak bukan Liliy melainkan Ajeng yang menyusup ke dalam tubuh Liliy.
Ajeng berjalan menuju pria tua yang sedang di landa kebingungan. Sorot mata yang terus tertuju ke arah pria tua.
" Kenapa kau menatap ku seperti itu? "
" Hey! bocah jawab pertanyaan ku " Pria tua kesal karna sedari tadi Ajeng tak mau menjawab pertanyaan nya, malah diam membisu sambil menunduk.
" Kau harus membayar " lirih Ajeng sambil mendongakkan wajah nya dan berani menatap mata tuan Yoon.
__ADS_1
Yoon yang melihat tatapan Ajeng tak berani menatap balik , ia memilih membuang muka.
" Kau sudah membuat ku kehilangan orang tua ku di usia lima tahun dan kau sudah menganiaya ku yang masih kecil dengan cara keji. Apa salah orang tua ku!! "
" Hingga aku menghembuskan nafas terakhir setelah kau membacok kepala ku menggunakan pisau daging " ucap Ajeng sembari menggeser meja kayu jati yang sangat berat. Seorang diri.
Brak!!…
Suara hantaman yang begitu keras.
Lagi lagi tingkah Liliy mengundang banyak pertanyaan dan kebingungan.
" Penghalang sudah ku singkirkan, sekarang giliran mu yang akan aku hilangkan dari muka bumi " berjalan perlahan serta ekspresi yang menyeramkan. Layak nya singa yang tengah menahan kelaparan.
Pria tua yang berada di hadapan Ajeng , menampilkan ekspresi ketakutan yang amat tidak bisa di tutupi. Pria tua yang bernama Yoon mencoba melarikan diri menghindar tatapan Ajeng.
Baru beberapa langkah tubuh Yoon menegang layak nya terkena bongkahan es balok. Ia memutarkan kepala nya ke arah belakang , betapa kaget nya tangan Ajeng mencekam kuat di bagian pundak dekat dengan bagian leher.
Tangan Liliy begitu dingin layak nya orang yang sudah lama meninggal, ya dikarenakan tubuh Liliy sedang di pinjam atau bisa di sebut sedang di ambil alih oleh Ajeng.
" Le - lepaskan tangan mu dari pundak saya " ucap Yoon sambil menahan gemetaran.
Bukan nya di lepas, tangan Liliy justru mencengkeram sampai jari kuku tertancap ke dalam tubuh Yoon hingga darah yang tadi nya masih di dalam. Lama kelamaan darah segar keluar lewat lubang kecil yang berasal dari bekas jari kuku.
Yoon yang melihat pundak nya mengeluarkan darah langsung syok , menjerit ketakutan. Tak hanya pundak nya yang mengeluarkan darah , punggung belakang pun turut berdarah di akibatkan oleh cakaran yang amat panjang dan dalam.
" Aaa… " berderai air mata dan juga ketakutan. Kaki nya seolah terpaku tak bisa lari kemana mana.
Wajah Liliy mendekat sampai ke telinga Yoon. Mulut Liliy yang sedari tadi ia katupkan kini mengucapkan satu kalimat " mau lagi " bersamaan dengan udara yang terasa dingin. Dingin nya mengalahkan suhu AC.
Yoon berteriak sekencang kencangnya disertai gelengan kepala " tidak!! "
Yoon berhasil keluar dari ruangannya , ia hendak menuju lantai bawah melewati tangga yang letak nya sangat jauh. Ia berlari sambil melihat arah belakang , memastikan cewek tadi mengejarnya atau tidak.
Tanpa melihat ke arah depan ternyata Liliy sudah menunggu di sana dengan raut wajah datar dan pucat layak nya mayat hidup.
" Hey paman " ucap Ajeng dengan nada datar tapi terasa sangat lirih.
__ADS_1
Yoon yang merasa tak asing dengan suara nya ia memutar kepala nya menghadap ke arah depan dan lagi lagi Yoon dikagetkan dengan kehadiran Liliy yang secara tiba tiba.
Untung nya Yoon dapat menghentikan laju lari nya " mengapa kau bisa sampai sini "
Ajeng tersenyum miring " itu tidak penting , sekarang nyawa mu berada di ujung tanduk "
Bruk!!
Ajeng memukul wajah Yoon dengan kekuatan yang sebanding dengan pukulan tiga orang.
Yoon terhuyung ke belakang sambil mengusap hidung nya dan mulut nya.
" Tolong ja - jangan bunuh saya. Aku mohon " ucap nya sambil mengesot kebelakang tumpuan nya menggunakan kedua tangan nya serta kedua kaki nya ia tekuk dan mencoba berjalan mundur. Akan tetapi Ajeng terus berjalan mengikuti langkah mundur Yoon.
" Tolong… tolong!! jangan bunuh saya " teriakan Yoon tak di dengarkan oleh Ajeng.
Tangan Liliy tak tinggal diam , ia meraih rambut Yoon dan menjambak nya dengan kuat hingga wajah nya mendongak ke atas.
Plak!!
Plak!!
Tamparan yang suara nya cukup nyaring hingga wajah nya penuh dengan luka lebam.
Tangan Liliy berpindah di bagian dagu , ia mencekam dengan kuat hingga kedua pipi nya mendapatkan luka goresan.
" Sebentar lagi nyawa mu akan hilang. Ahahaha…" tangan Liliy perlahan melepaskan dari wajah Yoon. Ajeng membiarkan Yoon kabur dari nya akan tetapi di akhir hidup nya mendapatkan karma buruk nya.
Setelah terbebas dari cengkraman Liliy , Yoon memilih lari menuju tangga yang langsung terhubung ke lantai satu. Ia terus berlari tanpa henti dan melupakan rasa sakit yang berada di tubuh nya.
Tidak ada angin dan juga penghalang kaki kiri Yoon tersandung benda yang tak nampak oleh kedua mata , ia terjatuh dari lantai atas menuju lantai bawah dengan cara terguling guling sebanyak anak tangga.
Bruk!!!
Kepala Yoon menabrak tembok hingga mengeluarkan darah. Yoon tergeletak di lantai bawah dengan cara mengenaskan dan detik itu juga nyawa nya tidak bisa tertolong.
Posisi Yoon yakni terlentang di bawah lantai , kedua kaki terbuka lebar , satu tangan nya memegang perut satu nya tergeletak di bawah. Posisi kepala miring ke samping kiri menghadap tangga serta kedua mata nya terbuka lebar seolah olah sedang memelototi orang.
__ADS_1
Bersambung…