Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Hidup atau mati


__ADS_3

" Kerja bagus kalian semua. Malam ini kita gempur musuh kita agar tidak menjadi benalu di kehidupan kita yang akan datang" berdiri sembari berkacak pinggang tak lupa dengan senyum mengerikan yang sudah lama ia non aktifkan.


" Yoo… kita berburu malam ini" teriak Samuel secara menggebu.


Episode selanjutnya…


" Yakin malam ini " suara milik Adit yang baru bergabung.


" Tumben baru gabung kemari. Dari mana aja elu"


" Biasa Ar salah makan jadi nya bolak balik kamar mandi" lengan Adit menopang bahu Arsen yang masih fokus ke layar laptop.


Adit mengalihkan pandangan ke layar laptop sambil mengucek mata sebelah kiri. dengan kaki kiri nya ia majukan ke depan.


Lama kelamaan Arsen risih sendiri dengan polah Adit yang sedari tadi menopang lengan nya di bahu Arsen. Mana udara nya panas di tambah di Adit yang terus menempel.


" Duduk ke kursi atau gue lempar elu ke laut. Mumpung air laut lagi pasang " sindir Arsen namun tatapan nya masih ke layar laptop.


Adit yang tau sindiran Arsen mau tak mau ia mengalah dan duduk di kursi kosong yang bersebelahan dengan Destiya.


" Nah gitu dong dari tadi kan kerjaan gue cepat kelar " batin Arsen yang lega akhirnya Adit mau duduk di kursi kosong dari pada berdiri di belakang ku dan tidak ada kerjaan.


Setelah sekian lama hening tiba tiba suara bersin keluar dari mulut Reyhan yang suara nya mengalahkan suara speaker masjid.


Hacih!…


Suara bersin Reyhan menggema di dalam ruangan yang kedap suara.


" Sialan kaget gue " lagi enak enak nya menyalin Vidio dari laptop ke flashdisk Joon Woo. Arsen dikagetkan dengan suara bersin Reyhan.


Tanpa pikir panjang Arsen melempar paper cup alias gelas kopi kertas menuju Reyhan.

__ADS_1


Tuk!!


" Woo… kurang jajan untung enggak ada kopi panas di dalam "


Satu jam kemudian…


Mereka telah siap terbang menuju markas utama rival nya. Tepat jam sembilan malam mereka telah mempersiapkan segala keperluan nya mulai dari belati , senjata api berbagai ukuran , anak panah dan juga alat nya , dan lain lain.


Semua anak buah nya yang berjumlah dua ribu ikut serta membasmi musuh. Mereka semua telah berkumpul di halaman yang berada di dalam yang luas nya cukup menampung dua ribu orang. Semua ikut berbaris rapi menggunakan baju anti peluru serta alat pelindung kepala.


Joon Woo selaku ketua berdiri di atas panggung kecil menghadap ribuan anak buah nya, tak lupa dengan Jhonatan dkk turut serta berbaris bersama pasukan lainnya.


" Hancurkan semua yang ada di sana" titah Joon Woo kepada seluruh anak buah nya.


" Hati hati dengan musuh di sana jaga diri kalian. Keselamatan kalian yang paling utama "


Setelah menyampaikan pesan ke seluruh anak buah nya baru lah mereka berangkat menggunakan kendaraan yang sudah di sediakan oleh Joon Woo. Udara dingin di malam hari tak melunturkan kobaran semangat.


Di dalam angan mereka hanya satu antara hidup atau mati secara tidak wajar di sana.


Sisa nya ikut masuk ke dalam bersama Joon Woo siapa lagi kalau bukan enam sekawan yang masing masing mempunyai kemampuan dalam menyayat tubuh lawan , bela diri dengan tangan kosong dan ada juga ahli dalam membidik musuh dengan tepat sasaran.


Joon Woo masuk terlebih dahulu melalui pintu utama bersama Jhonatan yang siap mendampingi tuan nya. Sebelum masuk ke pintu utama Jhonatan dkk menghabiskan Mafioso yang di tugaskan menjaga pintu masuk maupun pintu gerbang.


Tak butuh waktu lama dua puluh orang yang di tugaskan menjaga depan telah di habiskan oleh enam Mafioso Joon Woo. Mereka menyerang musuh nya dengan taktik mereka sendiri. Joon Woo hanya diam memantau aksi Jhonatan dkk dari jarak lumayan jauh tapi tidak terlalu dekat juga.


Joon Woo menyeringai setelah berhasil mendobrak pintu masuk utama yang terbuat dari bahan besi yang full plat. Baru saja pintu berhasil terbuka dari arah depan terdapat lima belas Mafioso yang lari sambil membawa senjata tajam maupun senjata api.


Dengan langkah yang mantap Joon Woo dan Jhonatan dkk menerima sambutan selamat datang dengan cara saling memukul.


" Jhonatan , Samuel sama Destiya ikut saya masuk ke dalam biar yang sisa nya di urus lainnya " ucap Joon Woo yang baru saja menghabiskan tiga orang dengan cara tragis.

__ADS_1


Jhonatan , Samuel dan Destiya mengangguk mantap dengan nafas yang tidak beraturan.


" Kalian bertiga hati hati. Jangan termakan jebakan ini. Ingat ruangan sepi belum tentu sepi, melainkan ada sebagian anak buah nya bersembunyi di daerah sini. Tetap waspada saling melindungi" ucap Joon Woo menggunakan earpiece.


Dan benar saja ucapan Joon Woo baru selisih lima menit terdengar suara langkah kaki yang saling bersautan menuju empat orang ini.


Dengan langkah cepat Joon Woo men instruksi tiga orang untuk mengumpat terlebih dahulu sebelum ada nya aba aba dari Joon Woo.


Sepuluh orang yang berpakaian serba hitam terus memantau daerah ini yang bertepatan di dekat tangga menuju lantai dua. Mereka semua memantau sambil membawa pistol.


Jleb…


Jleb…


Delapan orang langsung mati seketika dengan tubuh yang mengeluarkan darah segar memalui punggung. Benda kecil nan tajam yang bentuk nya menyerupai bintang berhasil tertancap di punggung delapan orang.


Pelaku utama yang tak bukan dan tak lain yakni Liliy. Liliy , Reyhan dan Bernard baru menyelesaikan Mafioso tadi. Dikagetkan dengan sepuluh orang yang tepat di hadapan nya.


Untung nya sepuluh Mafioso tak melihat kehadiran Liliy , Reyhan dan Bernard. Kesempatan itu di pakai oleh Liliy, di bantu oleh dua rekan nya Liliy berhasil melumpuhkan delapan orang dan sisa nya biar dua orang yang bekerja.


" Semua boleh keluar dari persembunyian " ujar Liliy sambil mencabut kembali benda kecil nan tajam itu di tubuh Mafioso yang tergeletak di bawah.


Joon Woo , Jhonatan , Samuel dan Destiya keluar dari persembunyian dengan melihat kanan kiri , di rasa aman baru lah mereka bergabung bersama lainnya.


Dua Mafioso yang di habisi oleh Reyhan dan Bernard juga terbujur kaku di bawah dengan luka lebam di sekitar wajah.


Tanpa di ketahui oleh mereka sikap dan tatapan mata Liliy mulai berubah persis dengan sebelum nya dan timing nya juga tepat. Entah itu keberuntungan atau kesialan di malam ini.


Liliy memandang lurus ke depan tepat di anak tangga paling ujung.


" Awak Dewe kudu merono, Saiki " seru Liliy dengan di ikuti lari menuju tangga.

__ADS_1


Sontak mereka yang mendengar ucapan Liliy langsung mengejar sampai lantai atas.


Bersambung…


__ADS_2