
Joon Woo menyadari ada kotak kayu yang masih tersegel , langkah demi langkah Joon Woo mendekat ke arah kotak kayu dan segera ia ambil menggunakan sarung tangan agar tidak terjadi apa apa.
Joon Woo mengangkat kotak kayu tersebut untuk memastikan bahaya atau tidak. Di rasa sudah cukup baru lah ia membawa masuk ke dalam vila menuju kamarnya dan segera berdiskusi bersama Arsen dan Jhonatan dkk.
Episode selanjutnya…
Semua sudah berkumpul di kamar Joon Woo untuk membahas teror dan kotak misterius tanpa terkecuali.
Suasana di dalam tampak hening tidak ada yang berani membuka suara , mereka hanyut dalam pikiran masing masing.
Suara ketokan pintu mengalihkan perhatian menuju seseorang pria paruh baya yang baru masuk.
" Permisi tuan , ada yang bisa saya bantu? " pria paruh baya masih di ambang pintu.
" Masuk saja pak , saya mau mengobrol sebentar" Joon Woo mempersilahkan pria paruh baya untuk masuk dan bergabung bersama mereka.
Pria paruh baya duduk di sebelah Arsen dan Jhonatan.
" Ada apa tuan memanggil saya ?" menatap ke arah Joon Woo.
" Apa benar tadi bapak melihat seorang meletakan bangkai binatang di dekat kolam renang , kalau saya boleh tau ciri ciri nya bagaimana? " Joon Woo sedari tadi penasaran langsung mengucapkan to the point.
" Tuan bukan nya di sekitaran villa sudah di lengkapi cctv" bisik Arsen ke telinga Joon Woo agar semua orang tak kedengaran.
" Saya cuman memastikan dan mengetes bapak yang berada di depan jujur atau tidak " balas bisik ke telinga Arsen.
" hmm, tadi saya membersihkan taman belakang tidak menemukan hal yang mencurigakan tuan , saya hanya membersihkan dedaunan yang sudah gugur " ucap pria paruh baya tanpa menutup nutupi alias jujur.
" Bukannya bapak tadi sempat membersihkan air kolam renang. Apa tidak mencium bau yang tidak sedap" tanya Arsen.
" Saya tidak mencium bau apa pun tuan. Sebelum tuan dan rombongan datang di villa ini tidak ada kejadian apapun" ujar pria paruh baya.
" Terima kasih bapak atas waktunya , mari saya antar" ucap Arsen.
Semua orang berdiri tanda hormat ke pria paruh baya tersebut.
Sebelum kembali ke rumah nya pria paruh baya dan Joon Woo terlebih dahulu salaman tanda terimakasih.
Di rasa sudah aman baru lah Joon Woo membahas tentang kotak tersebut yang berada di hadapan para anak buah Joon Woo khususnya Jhonatan dkk.
Destiya dan Liliy menjauh dari kotak tersebut , mereka masih terbayang bayang kotak yang berada di ruang bawah tanah yang berisi otak manusia dan organ dalam yang masih utuh.
" Loh kenapa kalian di situ. Sini " ajak Arsen. Arsen yang tidak tau tentang kejadian di ruang bawah tanah di negara Singapura.
__ADS_1
Joon Woo paham atas perubahan sikap dua gadis cantik tersebut. Joon Woo membiarkan mereka agak menjauh dari pada menambahkan masalah baru.
" Biarkan aja mereka toh tidak akan mengganggu kita nanti nya".
" Ooo…gitu ya tuan ok lah , kalian berdua duduk di pojokan kalau tidak kuat lambaikan tangan ke kamera. Saya akan menjemput anda" goda Arsen.
" Heh!! kurang ajar emang kita mau uji nyali apa , mentang mentang kita duduk di pojokan elu asal ceplos. Mau mulut mu gue jahit biar enggak asal ngomong" ucap Liliy dengan nada ngegas.
" Galak bener neng" Arsen menahan tawa nya saat Liliy tengah nyerocos tanpa henti.
" Udah Liy biarin aja orang waras ngalah" ucapan Destiya mampu mengundang gelak tawa pada semua orang yang berada di dalam kamar Joon Woo.
" Hahahaha…rasain elu Sen kena omongan pedes dari Liliy dan Destiya " Samuel yang tak tahan melihat ekspresi wajah Arsen yang menahan malu.
" Diam kalian semua!! kapan ini mulai nya" gertak Joon Woo.
Setelah mendapatkan gertakan dari Joon Woo akhirnya mereka langsung diam seribu bahasa dan siap mendengarkan ucapan Joon Woo.
" Nah gitu dong baru anak buah saya , ok kita mulai bahas kotak yang berada di depan kalian" Joon Woo mendekat ke arah kotak.
" Jhonatan kau sudah membawa kapak" Joon Woo sebelumnya memerintah Jhonatan untuk mengambil kapak , untuk menghancurkan rantai berserta gembok nya.
" Sudah saya siap kan tuan" Jhonatan mengambil kapak nya yang berada di kolong meja. " Ini tuan" ucap Jhonatan.
Brak…
Brak…
Duk… Akhirnya kunci gembok berserta rantai nya sudah terputus.
Joon Woo meletakkan kapak nya di atas meja dan segera Jhonatan memindahkan kembali ke kolong meja agar aman.
" Arsen kau buka kotak itu " Joon Woo memerintah Arsen untuk membukanya.
Kreeek… kotak tersebut berhasil di buka. Di dalam kotak tersebut hanya selembar kertas lagi lagi tinta nya terbuat dari darah segar.
Mata Arsen terbelalak setelah melihat isi dalam kotak.
" Tuan di dalam sini hanya selembar kertas saja " Arsen menyerahkan kertas ke pada Joon Woo.
...isi surat...
Teruntuk Joon Woo tersayang jangan terburu buru mencari saya. Hahaha… saya tidak akan ke mana mana , saya tunggu kedatangan tuan Joon Woo terhormat.
__ADS_1
Kurang lebihnya isi dalam surat tersebut.
Tangan Joon Woo langsung meremas kertas yang tadi ia pegang menjadi tak berbentuk , dengan rahang yang tegas serta sorot mata yang tajam memandang ke arah depan.
" Kurang ajar si tua Bangka itu tidak ada kapok kapoknya , enggak anak enggak bapak sama aja kelakuan persis binatang. Cih!! " umpat Joon Woo yang masih terdengar jelas di telinga Jhonatan.
( Jadi dalang nya masih satu keluarga sama tuan Joon Woo ) batin Jhonatan.
Destiya dan Liliy mulai merasa kepo dan akhirnya mereka mendekat ke arah kerumunan agar mereka bisa melihat jelas isi kotak tersebut.
Setelah berhasil menerobos agar bisa melihat secara langsung , tiba tiba pupus sudah rasa kepo nya ternyata di dalam hanya selembar kertas.
" What cuman itu aja" celoteh Destiya.
" Emang itu aja , elu kira apaan? " tanya Jhonatan.
" Gue kira kayak yang kemarin itu jadi gue sama Liliy menjauh deh " ucap Destiya.
" Kirain apaan tau gitu enggak usah duduk selonjoran di bawah" sesal Liliy.
Liliy penasaran yang di pegang oleh Joon Woo sampai sampai kertas nya udah tak berbentuk.
" Husst… kenapa tuh Joon Woo" bisik Liliy ke Bernard.
" Gue aja enggak tau. Coba tanya ke Jhonatan" ucap Bernard.
" Oh ok ok" Liliy manggut manggut ke arah Bernard.
Liliy berjalan ke arah Jhonatan berada.
" Bang Jho " menyenggol lengan Jhonatan , Jhonatan pun menoleh ke arah Liliy " Apa?"
" Joon Woo kenapa?" bisik Liliy agar Joon Woo tidak kedengaran.
" Gue juga enggak tau , coba elu tanya langsung ke sumbernya pasti di jawab" bisik Jhonatan.
" Issh… bang Jho gue serius nih jangan di ajak bercanda" Liliy mengeplak lengan Jhonatan dengan pelan.
" Gimana sih tadi elu tanya , setelah gue jawab elu enggak percaya " suara Jhonatan se lirih mungkin.
" Auh ah bang gelap" Liliy kembali ke tempatnya.
( Maaf kan gue Liy terpaksa gue bohong ke elu , dugaan gue belum tentu benar ) batin Jhonatan sambil melihat ke arah Liliy.
__ADS_1
Bersambung…