
"Terimakasih ya kak nasehat nya tadi. Itu sangat membantu kami" ungkap Jhonatan.
" Kenapa harus terimakasih ke gue, gue cuman memberi kalian semangat dan semangat agar kalian bisa di kenal di dalam Korea maupun di luar negeri. Dan kalian bisa melakukan tur dunia. Itu kan yang kalian cita cita kan dari dulu" ucap Adit sembari merapikan microphone dan earphone ‘in-ear’ dan di masukan ke dalam wadah yang bentuk nya seperti koper kerja.
Episode selanjutnya…
"Habis dari sini kita mau kemana kak?" tanya Samuel. Yang berdiri tak jauh dari Adit.
"Bentar gue cek dulu, takut salah jadwal" Adit mengeluarkan tab dari dalam tas. Ia mengecek jadwal hari ini.
"Nanti siang ada acara di tv sebelah sampai sore. Malam nya kosong tidak ada jadwal" pungkas Adit yang baru selesai melihat jadwal.
"Hmm…ok lah" sahut Destiya dengan nada lesu.
Mereka semua langsung keluar dari gedung stasiun televisi, baru saja melangkahkan kaki di luar gedung para fans nya langsung menyambut ke datangan Black Diamond.
Di kira Jhonatan dkk fans nya sudah pada pulang sedari tadi , eh tidak tau nya para fans nya masih setia di luar ada yang masih berdiri dan ada yang sudah duduk di pinggir jalan.
Niat hati mau nyamperin fans nya hanya untuk sekedar menyapa dan bersalaman, tiba tiba langsung di hadang bodyguard kepala pelontos.
"Maaf lain kali kalian menyapa nya dan jangan terlalu berdekatan dengan orang asing takut nya ada yang melukai anda"
"Tapi om , kita hanya sekedar menyapa saja tidak lebih , mereka sudah menunggu lama di sini. Kami tidak enak hati. Kami mohon untuk menyapa para fans kami" ujar Jhonatan dengan salah satu ketua dari bodyguard.
"Tapi tuan kalau ada terjadi apa apa saya yang kena hukuman dari bos, mohon kerjasama nya"
Bodyguard yang menjaga bukan sembarang bodyguard, melainkan para mafiaso dan ada juga anak buah para Jhonatan dkk.
"Percayalah sama aku. Tidak akan terjadi sesuatu, ingat kalian jangan terlalu mengekang kami. Kalian hanya menjaga kami jarak jauh" ujar Jhonatan ke anak buah nya sembari menepuk pundak nya.
"Baiklah kami tidak bisa berbuat banyak"
Jhonatan hanya memberi jawaban dengan menganggukkan kepala.
Jhonatan langsung memberi kode kepada member lain.
"Kalian boleh menyapa mereka, ingat harus jaga jarak" titah Jhonatan kepada member lain nya.
Usai rundingan antara bodyguard dan Jhonatan membuah kan hasil , para member senang menyapa para fans nya dari dekat tanpa pembatas apapun.
" Uh…kalian so sweet banget. Terimakasih sudah menunggu lama di sini" ucap Liliy dengan rasa senang yang tak terkira.
__ADS_1
Bukan hanya Liliy saja yang merasakan senang. Member lain pun juga merasakan hal yang sama. Member Black Diamond memberi fan service sepesial khusus untuk fans yang sudah menunggu lama di luar gedung.
Setelah di rasa cukup baru lah para member kembali masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil salah satu member melambaikan tangan ke fans nya sebelum mereka benar bener pergi dari hadapan para fans.
Yang di tunjuk perwakilan dari Black Diamond ialah Bernard , ia melambaikan tangan ke arah mereka seraya berkata" Dah sampai jumpa, kita akan bertemu kembali. Tunggu kami dan jangan tinggalkan kami di saat susah maupun senang"
Ucapan Bernard di sambut dengan teriakkan fans dan tepuk tangan.
Adit langsung mendorong pelan tubuh Bernard agar segera masuk ke dalam " udah sono elu masuk ke dalam" bisik Adit agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Ck, iya iya ini gue mau masuk" umpat Bernard.
"Lama" sahut Adit yang baru selesai menutup pintu mobil dan Adit langsung masuk ke dalam mobil di bagian depan bersama pak sopir.
Mobil yang di tumpangi member Black Diamond berhasil keluar dari kumpulan fans dan ada sedikit wartawan yang masih di sana.
"Baru debut udah banyak aja fans kalian. Apa jangan jangan kalian sogok pakai uang" ungkap Adit yang secara tiba tiba.
Jhonatan dkk langsung unjuk protes" enak aja!! kita tidak akan pernah menyogok siapa pun untuk menyukai grup kami camkan itu"
Sopir pun hanya mampu menggelengkan kepala. Dan si tukang membuat masalah malah tidak menggubris perkataan member Black Diamond.
Adit malah asik memakai earphone sambil mengerjakan tugas kantor nya.
"Gue yang adek kandung aja udah gedek lihat tingkah laku kakak gue, so jangan di buat pusing" tutur Liliy yang terlihat santai.
"Huh!!" mulut Destiya langsung bersungut sungut kesal.
"Udah jangan ngambek nanti Aa Bernard kelimpungan nenangin elu yang tukang ngambek" goda Reyhan yang ikut menambah kan bumbu bumbu banyolan.
"Hey kenapa nama ku di seret seret" sahut Bernard.
Adit yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaan. Langsung ikut menimbrung obrolan para bujang.
Adit menoleh ke arah belakang kemudi "seret?" tanya nya sembari menaikan satu alis.
"Es serut bukan seret salah dengar elu" sanggah Destiya.
"Hmm…yakin nih es serut"
"Ya lah emang apa kalau enggak es serut" sambung Bernard.
__ADS_1
"Oh padahal speaker gue. Gue buat kecil jadi obrolan kalian terdengar jelas di telinga gue" senyum dengan kemenangan.
"Oh shi* " umpat Bernard.
"Bhahaha....."
"Makanya kalau jalan tuh di lihat ke depan ada orang apa enggak. Enggak main nubruk nubruk aja. Kan jadi bahan bullyan tiap hari jadi nya" ucap Samuel.
"Bisa enggak sih, jangan bahas itu" Destiya mencubit lengan Samuel.
"Oh…tentu"
"Tentu apa" menyipitkan kedua mata.
"Tentu tidak" ucap mereka serempak kecuali Bernard yang memilih memejamkan kedua mata nya.
Begitulah kegiatan sehari hari mereka tanpa adu baco* tidak menyenangkan.
...**...
Pulang dari stasiun TV Mnet langsung ke tempat drom bukan ke agensi.
Baru aja melangkahkan kaki nya masuk ke dalam dorm. Liliy di kejutkan oleh kehadiran orang tua nya berserta Joon Woo dan tentu nya ada Arsen yang selalu mengikuti langkah Joon Woo berada.
Liliy menatap kedua orang tua nya dengan tatapan rindu, senang dan terkejut manjadi satu. Liliy langsung lari menghampiri mama dan papa nya.
Drap…
Drap…
"Mah, pah. Liliy rindu" ucap Liliy yang di iringi tangis rindu yang terpendam sangat dalam. Terakhir berjumpa dengan mama papa nya waktu mengantar keberangkatan menuju Korea. Selepas itu tidak pernah bertemu secara langsung, namun secara komunikasi tetap berjalan dengan lancar.
Liliy memeluk tubuh kedua orang tua dengan erat seakan akan enggan untuk melepas.
"Kok bisa di sini. Kapan sampai nya mah, pah?" tanya Liliy dengan suara serak.
Tak hanya Liliy saja yang menangis mama nya pun juga mengeluarkan air mata, ia pun sama juga dengan anak terakhir nya. Sama sama rindu.
Adit pun ikut tersenyum ke arah keluarga nya. Sang papa menoleh ke arah Adit.
"Sini nak" papa nya mengkode anak laki nya untuk mendekat. Dan bergabung acara berpelukan.
__ADS_1
Bersambung…