
" Kalau lapar jangan banyak alasan tadi" sindir Arsen ke Liliy. Namun sang empu tak menanggapi ucapan Arsen melainkan asik makan potongan pizza.
Alhasil ucapan Arsen di cuekin oleh Liliy dan lainnya.
Episode selanjutnya....
"Heh...." Bernard menyenggol bahu Liliy yang sedang asik makan pizza.
"Hmmm..." hanya di balas dengan deheman saja oleh sang empu.
Posisi Liliy membelakangi Bernard alhasil. Si Bernard hanya bisa memandang tubuh Liliy dari belakang.
"Telinga elu masih sehat kan" Bernard memutar tubuh Liliy agar menghadap ke dirinya.
"Ih...apaan sih" menepis tangan Bernard dari bahunya.
"Orang lagi makan tuh jangan di ganggu nanti kalau tersedak bagaimana, elu mau tanggung jawab!" sahut Liliy dengan nada naik satu oktaf.
"Cih...di bilangin tuh jangan ngegas dulu" menyentil dahi Liliy dengan pelan. Namun sang empu masih merasakan kesakitan, ya walaupun enggak sakit banget yang nama nya juga cewek hal kecil di besar besarkan.
"Hiyah ...elu bisa enggak sih jangan nyentil dahi gue. Perih nih lama lama" gumam Liliy sembari memasukan pizza nya ke dalam mulut mungilnya itu.
Samuel dan Reyhan mendekati ke arah mereka berdua yang tengah asik bercanda gurau, tapi si Liliy menahan geram ke Bernard. Alhasil Liliy melampiaskan amarah ke makanan dari pada mengoceh tak jelas. Mending makan.
Dan sisi positif nya bisa menambah berat badan. Tapi tak apa yang penting hati senang perut pun kenyang.
Samuel mendekat ke arah Bernard dari arah belakang dengan cara mengendap ngendap agar tak ketauan oleh sang empu. Dan saat itu pula Samuel membekam mulut Bernard menggunakan tangannya yang belum sempat cuci tangan.
"Hmmpphh..." sontak Bernard kaget dengan tangan yang tiba tiba nongol dan menyasar ke mulutnya. Dengan dorongan yang kuat. Alhasil tangan Samuel terlepas dari mulut Bernard.
Saat tangan Samuel berhasil menjauh dari mulut nya, tiba tiba mulut Bernard merasakan pedas yang tak tertahankan.
"Huaahh!!..." Bernard bergegas mencari air agar mulutnya tidak merasakan pedas.
__ADS_1
Hahaha.....
Samuel langsung tertawa kecil setelah melihat ekspresi Bernard yang kepedasan.
"Elu tadi kasih apa ke bocah itu" ucap Reyhan sembari membawa jus anggur untuk di berikan ke Liliy yang sedang cegukan.
"Minum dulu dek" Reyhan menyodorkan segelas jus anggur.
Liliy yang sedari tadi cegukan hanya bisa pasrah Karena tak kunjung mendapatkan air. Setelah Reyhan menyodorkan segelas jus anggur langsung Liliy sambar dan menengguk hingga tandas.
Glug…glug…glug… ahh…
Mengusap bibir nya menggunakan punggung tangan.
"Thanks" ucap Liliy sembari menaikan gelas kosong ke arah Reyhan.
Reyhan menanggapi dengan anggukan serta senyuman tipis nan menawan.
"Tadi gue kan habis makan ayam krispi bumbu pedas, terus sisa bumbunya masih nempel di tangan gue. Ya gue jilat lah kan sayang bumbu nya masih sisa mana enak lagi..."
"Tapi kok bisa kepedasan sih dia?. Kan elu tadi ngomong udah bersihin sisa sisa bumbu pedas tadi pakai lidah mu, terus tadi apa dong?" sambung Liliy.
" Entahlah, mungkin masih ada sisa yang belum gue sapu" ucap Samuel sembari terkekeh.
"Ada ada aja lu tong" tutur Reyhan yang sama sama terkekeh.
" Aneh..." gumam Liliy seraya meninggalkan mereka berdua.
...**...
Esok hari nya mereka semua kembali beraktivitas seperti biasanya. Walaupun mata tidak bisa di bohongi , namun mereka tetap melakukan dengan profesional.
Setelah semalam habis makan bersama ala ala party di markas. Hari itu juga mereka langsung kembali ke drom atau bisa di sebut asrama. Dorm adalah asrama yang menampung semua member grup selain member grup ada juga sebagian para staff dan manajer yang tinggal satu atap agar koordinasi nya berjalan dengan lancar. Tapi tenang satu dorm akan di bagi setiap ruangan agar privasi satu sama lain tetap terjaga dan terhindar dari para bahaya yang tidak di inginkan.
__ADS_1
Dorm atau asrama yang mereka tempatkan bukan sembarang dorm biasa. Melainkan tempat mereka berada di daerah Yongsan, Seoul. Semua fasilitas di sana tidak perlu di ragukan lagi. Dengan penjagaan yang ketat drom yang berlokasi di Yongsan, Seoul di bandrol dengan harga yang fantastis.
Kembali ke topik utama.
Mereka sampai di drom malam hari jam 11 lewat 10 menit. Di karenakan ada kendala di jalan raya.
Suasana pagi hari di drom lebih tenang di banding dengan suasana di mansion Joon Woo yang terletak di negara Singapura. Suasana yang tenang tanpa ada keributan yang tidak jelas di karenakan semua penghuni asrama masih terlelap belum ada yang bangun.
Matahari perlahan mulai tampak yang semula masih malu malu terbitnya. Kini sinar matahari memancarkan terik yang begitu panas. Tepat jam 10 pagi, mereka semua sudah kumpul di satu ruangan yang mana di dalam ruangan tersebut terdapat Model sofa yang berbentuk setengah lingkaran , meja bundar yang berada di tengah-tengah sofa , karpet bulu yang super lembut, di tambah tv dengan ukuran di atas 42inch. Dengan mengusung ukuran layar selebar 43-inch.
Mereka duduk bersama di sofa tidak ada yang mau membuka obrolan, mereka asik dengan dunia nya sendiri. Tanpa di sadari di ambang pintu terdapat sesosok manusia yang tengah bersandar di daun pintu seraya menggelengkan kepala.
Kedatangan ia kali ini tidak di sambut antusias oleh mereka.
" Paket!" teriak Joon Woo yang mana berhasil memalingkan wajah mereka untuk menghadap ke Joon Woo. Setelah itu melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi.
" Oh ****!!…" gumam Joon Woo.
Dengan berat hati Joon Woo melangkahkan kaki nya masuk ke dalam.
" Hey…hey… kenapa kalian semua kompak bermalas malasan hari ini" tegur Joon Woo selaku CEO agensi yang menaungi mereka saat ini.
" Kita semua letih, lesu dan tidak bertenaga hari ini tuan" jawab Destiya sembari mengecilkan volume suara pada tv.
" Jadi kita hari ini lagi charger tuan" sambung Jhonatan.
"Terserah kalian hari ini mau ngapain, yang penting besok harus fit kembali tubuh kalian agar semangat mengais rezeki" nasehat Joon Woo sambil duduk bersama di sofa.
"Tumben tuan hari ini kesini?. Biasanya Arsen yang selalu ke sini ya walaupun sebentar, ya setidaknya pernah main ke drom kita" tanya Liliy yang sedang fokus ke arah tv. Namun lirikan ekor mata tertuju ke Joon Woo.
" Apakah harus ada alasan mau kesini?" tanya balik Joon Woo.
"Itu terserah tuan mau kesini apa enggak. Tapi kok tumben amat ke sini biasa nya kalau kesini karna ada hal yang penting yang mau di bahas" tutur Bernard.
__ADS_1
Bersambung…