Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Kena karma


__ADS_3

" Issh… bang Jho gue serius nih jangan di ajak bercanda" Liliy mengeplak lengan Jhonatan dengan pelan.


" Gimana sih tadi elu tanya , setelah gue jawab elu enggak percaya " suara Jhonatan se lirih mungkin.


" Auh ah bang gelap" Liliy kembali ke tempatnya.


( Maaf kan gue Liy terpaksa gue bohong ke elu , dugaan gue belum tentu benar ) batin Jhonatan sambil melihat ke arah Liliy.


Episode selanjutnya…


" Ngapain tuh bibir mu di buat maju mau jadi mulut bebek" ejek Bernard.


" Bodo amat " Liliy tak menghiraukan perkataan Bernard.


"Jhonatan bawa teman teman mu keluar dari sini dan jangan lupa besok pagi sudah siap siap " Joon Woo mendudukkan di sofa sambil memijit pelipisnya. Masalah kemarin belum selesai sekarang di tambah isi surat yang tak ada nilai yang berbobot.


Jhonatan paham akan situasi ini " Baik tuan". " Ayo kita istirahat di kamar masing masing" ajak Jhonatan kepada yang lainnya.


Mereka mengangguk setuju meninggalkan Joon Woo dan Arsen yang tengah meneguk red wine.


Di tengah perjalanan Samuel menghadang Jhonatan " Gue mau ngomong berdua sama elu" Jhonatan mengiyakan ajakan Samuel.


" Mereka mau kemana? ,kata nya suruh istirahat" Celetuk Bernard.


" Entahlah gue bukan emak nya" ucap Destiya yang langsung ngacir agar terhindar dari semprotan pedas dari Bernard. Dan meninggalkan Liliy ,Reyhan dan Bernard yang masih di belakang.


Seketika di dalam otaknya terlintas ide jail untuk Destiya yang tadi sempat tertunda. Ujung bibir terangkat sedikit sambil tangan kanan di masukan di saku celana pendeknya.


Langkah kaki kian cepat untuk mengejar Destiya yang jalannya super cepat. " Mau kemana neng cepat banget jalannya" memegang pundak Destiya dari belakang.


" Oh , gue mau beres beres dulu sebelum rebahan" Destiya menoleh ke arah Bernard yang sekarang tepat di sebelahnya.


" Gue minta bantuan elu ,Des" ujar Bernard sambil mengeluarkan mimik wajah yang di buat cemas agar Destiya percaya dan bisa masuk ke perangkap.


" Bantuin apa Nard?" Destiya memperhatikan langkahnya. Ia tidak curiga dengan tatapan Bernard yang tiba tiba meminta bantuan. Biasanya dia paling jarang meminta bantuan kepada siapapun.


" Udah ikut gue sekarang nanti elu akan tau" Bernard menarik lengan Destiya agar si umpan tidak meloloskan diri.


" Heh!!!… pelan pelan dong jalannya kayak di kejar hantu aja " ucap Destiya.


" Biar cepet sampai nya udah elu diam aja" yang tadi nya menggandeng lengan Destiya sekarang di ganti merangkul kedua pundak Destiya dari jarak dekat.


Setelah sampai di depan kamar nya Bernard langsung membuka pintu kamar dan langsung menarik Destiya agar bisa masuk ke dalam. Tapi tenang pintu nya tidak ditutup di biarkan terbuka lebar agar tak terjadi di luar kendali.


" Eh,, kok gue di ajak masuk sih" Destiya melepas rangkulan dari Bernard. " Jangan macam macam sama gue" Destiya langsung memeluk dirinya bentuk pertahanan diri agar tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Tak!! Bernard menjitak kening Destiya.


" Aduh , sakit tau" mengusap keningnya sendiri.


" Pikiran mu jangan terlalu negatif sama gue " ucap Bernard sambil melipatkan kedua tangannya di atas dadanya.


" Habis nya elu ajak gue ke dalam kamar elu jadi negatif thinking deh" cibir Destiya.


" Kebanyakan bergaul sama si bebek jadi nya otak elu rada geser" ucap Bernard.


" Haa… bebek perasan gue enggak main sama bebek" Destiya mengingat sejak kapan dirinya bergaul sama binatang bebek.


" Ck!! lupakan yang tadi " umpat Bernard. " So gue di sini mau minta bantuan dari elu untuk cari burung gue yang hilang entah kemana".


" A…apa bu…burung enggak salah dengar gue" pipi Destiya terlihat merah merona menahan malu.


Ppfft… Bernard menahan tawa melihat perubahan wajah Destiya.


" Iya burung emang kenapa Des" Bernard semakin gencar menggoda Destiya.


" Muka mu jangan terlalu dekat" Destiya memundurkan langkahnya tapi sebaliknya Bernard semakin maju langkahnya.


" Ayo Des tolong gue please" menangkupkan kedua tangannya di hadapan Destiya.


" Tapi kau mundur sana dulu , bikin dadaku sesak " mendorong tubuh Bernard sekuat tenaga.


Bernard mengangkat satu alisnya " syarat?" tanya balik.


" Ya syarat nya gampang kok , bikinkan gue pasta yang kayak dulu itu" senyum ceria di wajah Destiya.


" Ok kita deal " Bernard berjabat tangan ke Destiya tanda sepakat.


" Ciri cirinya apa Nard? " tanya Destiya yang sudah mulai mencari barang yang di maksud Bernard.


" Dengerin ya , ciri ciri nya bentuk nya panjang kalau di pegang enggak gampang komplain pas di genggam " ujar Bernard yang tidak tau malu di hadapan Destiya.


" Haa… Benda apa tuh , emang ada benda yang di pegang enggak gampang komplain? gue baru dengar loh" ujar Destiya dengan polosnya.


Di balik tembok kamar Bernard terdapat Liliy dan Reyhan yang sedang menguping sedari tadi tanpa sepengetahuan oleh dua orang.


" Pfft… mau aja di bohongin sama si beruang kutub" lirih Liliy.


" Benar juga kau kata dek , mungkin cuman akal akal an si Bernard" bisik Reyhan.


Reyhan dan Liliy menguping di balik tembok luar kamar Bernard. Mereka berdua kembali menguping.

__ADS_1


" Coba cari di sekitaran koper gue Des warna nya Biru muda" Bernard menunjuk menggunakan dagunya.


" Gue udah cari di sekitaran koper elu tapi enggak ketemu" Destiya mulai frustasi dengan barang yang tak kunjung dapat.


" Dimana sih kau barang!!! muncullah sekarang barang sialan!! pusing nih gue" umpat Destiya.


( "Nih anak dasar nya polos apa gimana yak heran gue. Duh kasihan gue sama calon suaminya dapat istri yang polosnya kelewatan ") batin Bernard.


" Duh perut ku kenapa sih kok mendadak mules" berjalan ke kamar mandi sambil memegang perutnya.


10 Menit berlalu…


" Fiuhh… laganya perut gue" keluar dari kamar mandi sambil menepuk nepuk perutnya.


" Lah kemana tuh anak gue tinggal bentar udah hilang" Bernard mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Eh enggak taunya si umpan tengah terduduk sambil menekuk kedua lututnya , dan tak lupa rambutnya berantakan dengan wajah yang begitu mengenaskan.


" Hey are you okay?" mencolek pipi Destiya.


Destiya mendongakkan kepalanya menghadap wajah tampan Bernard " sorry Nard barang nya belum ketemu gue istirahat sebentar terus gue cari lagi".


Seketika tawa Bernard pecah. " Hahahaha…" tawa Bernard yang begitu menggelegar seisi kamar.


Destiya mengerutkan keningnya " elu kenapa ketawa" Destiya di buat bingung oleh tawa Bernard.


"Hahaha… sorry Des" ucap Bernard sambil tertawa, ia mengusap air mata gembira di ujung mata dan sesekali memegang perutnya yang sudah kram akibat tawanya yang berlebihan.


Destiya mulai curiga dengan Bernard yang tiba tiba tertawa tak jelas.


" Sekali lagi sorry Des , yang gue maksud tadi bolpoin warna biru di atas nya ada gambar burung Pipit" Bernard mengambil bolpoin yang berada di atas meja dekat laptop.


" Apa!! kau bilang Nard berarti dari tadi gue di kerjain sama elu gitu. Berani berani nya sini gue robek mulut mu biar enggak bisa ketawa lagi" Destiya bangkit dari duduknya dan langsung peregangan otot supaya kalau menghajar orang tidak gampang capek.


" Hehe… santai Des tadi gue bercanda habis elu tadi ninggalin gue sama koper elu. Gue akan menebus sorry ke elu dengan cara masak pasta yang elu mau , setuju" Bernard menautkan jari kelingking nya ke arah Destiya.


" Dah basi gue enggak lapar " sebelum meninggalkan kamar Bernard , terlebih dahulu Destiya menendang kaki Bernard.


Duk!!


" Aw… kok elu nendang kaki gue" rintih kesakitan.


" Biarin impas kan kita" mengacungkan jari tengah ke arah Bernard.


" Wah neng Destiya merajuk nih ceritanya , terus nasib pasta nya bagaimana " teriak Bernard yang berada di ambang pintu.


" Udah kenyang bye!,," ujar Destiya yang sudah berada di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2