Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Kesiangan.


__ADS_3

Kobaran api kian membesar dan di susul ledakan kecil yang berasal dari dalam bawah tanah.


Ketiga mobil sudah meninggalkan kawasan hutan belantara. Butuh waktu hampir 2 jam bisa sampai di mansion Joon Woo untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah kelelahan.


Di dalam mobil suasana hening hanya terdengar suara deru mesin tak ada percakapan mungkin tenaga nya sudah terkuras habis.


Liliy menyetir dengan satu tangan dan tangan satunya lagi menopang kepalanya dengan keadaan tenang , sekali-kali ia menguap.


Tepat jam 3 dini hari ketiga mobil memasuki halaman mansion Joon Woo.


Episode sebelumnya…


POV Liliy.


sebelum berangkat ke markas musuh , Liliy di ajak Joon Woo ke ruangan kerjanya. Di sana ia di suruh Joon Woo melacak keberadaan seorang gadis cantik yang berada di hp Joon Woo.


Di dalam otak nya ia bertanya tanya ada hubungan apa gadis cantik yang ada di foto dengan Joon Woo. Liliy merasa aneh dengan tingkah tuannya tidak biasanya dia melacak keberadaan seorang wanita.


( setau gue Joon Woo kan anti yang namanya lawan jenis tapi kok ini , ah sudah lah entar gue tau sendiri ) batin Liliy.


" Liy kenapa bengong? cepat cari keberadaan gadis ini. Saya akan memantau dari sini" Joon Woo berdiri tepat di belakang Liliy.


" siap tuan" Liliy segera mencari keberadaan gadis itu melalui komputer.


butuh waktu 20 menit Liliy melacak. Dari data yang ia dapat bahwa gadis itu telah mati 5 tahun yang lalu tepat di umur 19 tahun.


Ada keanehan data kematian gadis tersebut. Tidak ada info jelas kapan meninggalnya , motif meninggal nya ( tabrak lari , bunuh diri atau karna sakit ).


"Tuan hanya ini yang saya peroleh selebihnya tidak ada" ucap Liliy.


Joon Woo meneliti hasil data yang diperoleh dari Liliy.


" Tuan saya boleh bertanya" ucap Liliy sekilas memandang Joon Woo namun ia memalingkan wajah nya kembali menatap layar komputer.


"Tanyakan" Joon Woo semula berdiri di belakang Liliy akhirnya ia memilih duduk di sofa yang tak jauh dari meja komputer.


" Tapi ini tentang gadis ini tuan" ucap Liliy sambil menunjukan foto yang ia maksud.


Sebelum menjawab pertanyaan Liliy . Joon Woo menarik nafas dalam-dalam untuk mencari ketenangan supaya tidak terpancing emosi.


" Dia cinta pertama saya waktu umur 17 tahun di daerah Seoul , tapi naas lima bulan kemudian ia menghilang bak di telan bumi".

__ADS_1


"Saya sudah mencari nya mulai daerah ibu kota sampai pelosok pedesaan".


" Andai saja dia tidak menghilang mungkin umur nya tak beda jauh dengan umur saya , dan bisa jadi dia dan saya sudah menikah. Sungguh memilukan kisah cinta ku" ucap Joon Woo.


Liliy mendengarkan kisah cinta tuannya hati nya merasa teriris, andai saja ia menjadi Joon Woo mungkin hidup nya di penuhi rasa kerinduan yang amat dalam.


Liliy berdiri dari duduknya dan melangkah menuju Joon Woo untuk sekedar menenangkan.


Tangan Liliy mengelus pundak tuannya dan berkata" yang sabar tuan mungkin dia belum jodoh mu , bisa jadi Tuhan akan mempertemukan seseorang yang amat baik dan tepat berada si sisi tuan. Percayalah takdir tuhan itu indah".


" Hmm… kamu benar Liy mungkin Tuhan masih mempersiapkan sesuatu buat saya. Terimakasih Liy atas nasehat mu" Joon Woo tersenyum ke arah Liliy dengan senyuman tulus tanpa di buat-buat.


" Tolong rahasiakan ini dari siapa pun kecuali Jhonatan , dia sudah tau" ucap Joon Woo.


" Kenapa harus di rahasiakan tuan? lambat laun pasti akan terbongkar dengan sendirinya. Dan kenapa hanya Jhonatan yang tau? " tanya Liliy.


" Tidak masalah rahasia ini terbongkar dengan sendirinya toh saya tidak mempermasalahkan biar kan saja seperti air mengalir. Untuk Jhonatan dia teman kecil saya jadi dia sudah tau" jawab Joon Woo.


" Baik lah kalau keputusan tuan begitu, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik buat tuan dan sekeluarga" Liliy kembali duduk di depan komputer.


Joon Woo tersenyum mendengar ucapan Liliy ia beruntung mempunyai anak buah yang begitu peduli dengan kondisi saat ini.



Joon Woo mengerjakan deadline yang sudah menumpuk , sedang kan Liliy belajar menulis lirik lagu di sofa.


...*****...


Dreet… Dreet…


Ponsel Liliy berbunyi terus menerus tapi yang mempunyai hp masih terlelap. Sampai panggilan ke lima baru Liliy bangun dari tidur nya.


📞" Halo siapa ini? " ucap nya dengan suara serak khas bangun tidur. Liliy tak mengetahui yang menelepon kakaknya.


📞" Pasti elu baru bangun kan , buka mata elu sebelum mengangkat telpon" gertak Adit.


( siapa sih pagi-pagi ngomong ngegas ) batin Liliy.


Dengan terpaksa Liliy membuka mata selebar lebarnya betapa terkejutnya ternyata yang menelepon kak Adit.


📞" Baru sadar elu hmm… dasar anak perawan jam 10 baru bangun!!" teriak Adit dari sebrang telpon.

__ADS_1


📞" Masa sih kak bukannya masih jam 7 pagi" Liliy bangkit dari tidurnya dan memposisikan diri duduk di tepi ranjang.


📞" Astaghfirullah Liliy!! buka mata mu nak sekarang sudah jam 10 pagi menjelang siang. Elu tidurnya jam berapa sih? heran gue" Adit mengomeli adek nya melalui telpon persis emak-emak.


Menjauhkan telpon nya dari kuping nya. Liliy melirik ke jam dinding.


📞"Aaaa… kakak kenapa enggak kasih tau sih" merengek ke kakaknya.


📞"Serah dah capek gue jelasin ke elu, btw gue mau kasih kabar bahwa papah lagi di rumah sakit" ucap Adit.


📞"Apa!! kok bisa kak? papah sakit apa terus kondisi nya bagaimana? papah di sana sama siapa" Liliy terus mencecar pertanyaan.


📞"Tenang papah cuman kelelahan baru tadi pagi pingsan di kamar.Sekarang gue sama mamah ada di sini" ucap Adit.


📞" Alhamdulillah gue kira kena apa kak , ya udah habis ini gue mau ke situ jangan lupa Sherlock ok kak"


📞 " Gue mau mandi dulu bye kak muah 💋"


sambungan telpon terputus.


Liliy berjalan ke arah balkon untuk mengambil handuk nya yang ia jemur, setelah mengambil handuk dan baju ganti baru lah ia memasuki kamar mandi.


Setelah 10 menit Liliy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh. Ia berjalan menuju meja rias agar wajah nya tidak terlalu pucat.


" Ok udah selesai waktunya pergi" Liliy mengobrol dengan dirinya melalui pantulan cermin yang berada di meja riasnya.


Dengan semangat yang membara Liliy keluar dari kamarnya menuju garasi yang berada di lantai bawah.


Baru aja mau menginjak anak tangga Liliy mendengar suara tak asing di kupingnya. " Elu mau kemana" tanya Samuel yang tak sengaja melihat Liliy berpenampilan rapi.


" Mau ke rumah sakit sam" ucap Liliy.


" Elu kambuh lagi" tanya Samuel.


" Gue udah sembuh total yang sakit papah gue , dah ya gue mau pergi" Liliy buru buru turun ke bawah dan tak mendengar ucapan samuel.


" Ck kebiasaan tuh anak belum selesai ngomong dah cabut" Samuel memutuskan berjalan menuju kamar Bernard.


Tit… Tit… ( anggap aja bunyi remote mobil )


Liliy memasuki mobil kesayangan nya dengan gaya anggunnya. Sebelum berangkat di pastikan dulu memakai sabuk pengaman dan kaca mata hitam biar penampilan makin sempurna.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2