
Langit yang cerah dan berawan kini perlahan berganti dengan warna hitam yang mulai sedikit demi sedikit bergandengan tangan. Langit yang berwarna pekat disertai suara bergemuruh tak lupa di selingi suara angin yang begitu mengerikan. Kilatan yang begitu dahsyat nya yang silih berganti seolah olah sedang ada pesta di negri atas awan. Angin yang bertiup dari arah Selatan di balas dengan tiupan dari arah Utara yang tak kalah mengerikan itu. Seolah alam semesta sedang tidak baik baik saja.
Angin yang terus menerus menyapu habis yang berada di atas daratan.
Wuzzz....wuuzzz....
Kini tepat di Benua Asia Timur suasana sedang di landa badai hujan yang secara tiba tiba. Begitu juga dengan cuaca malam hari.
Hujan rintik rintik yang begitu menyegarkan di sambung dengan kilatan yang berwarna merah dan di akhiri dengan suara gemuruh. Suara ranting pohon yang saling bersahutan menambah suasana malam hari terlihat syahdu.
Begitu pula seorang gadis manis berambut panjang sedang menikmati suasana malam hari di balik kaca besar , ia sangat menikmati cuaca hari ini dengan di temani segelas coklat panas tak lupa ia duduk manis di sofa kecil menghadap pemandangan sungai Han yang begitu indah di malam hari.
Tok...
Tok...
Gadis manis itu menengok ke arah pintu yang sedari tadi tidak ia kunci.
"Masuk" ucap gadis yang sedang menikmati suasana hujan lewat jendela kaca kamar tidur nya.
"Liy" panggil Destiya seraya menutup kembali pintu kamar Liliy.
"Kau sedang apa kawan?"
Liliy tak merespon ucapan Destiya, ia asik dengan dunia nya sendiri.
Destiya berjalan perlahan ke arah jendela kaca yang mana di situ ada Liliy yang sedang melamun ke arah sungai Han.
Tanpa permisi Destiya langsung duduk di sofa yang masih kosong. Mereka berdua sama sama menghadap ke arah sungai Han.
Hening itu lah suasana mereka berdua yang berada di dalam kamar Liliy di tambah dengan pencahayaan yang di buat redup. Tapi tenang saja kamar Liliy tidak sepenuh nya gelap karna mendapatkan sorotan cahaya dari luar.
"Liy" Panggil Destiya seraya menghadap ke arahnya.
"Hmmm..."
"kau marah?" tanya Destiya dengan suara lirih.
"Tidak" jawab Liliy yang sedang membetulkan selimutnya.
" Kalau tidak mengapa jawaban mu singkat singkat dari tadi"
"Haha...Destiya Destiya apakah orang marah harus jawab dengan singkat " mengambil cemilan roti yang berada di atas meja.
"Huh...lupakan pertanyaan ku tadi" membuang muka ke arah kaca.
__ADS_1
"Eaa...elu kenapa Des? merajuk kah" bangkit dari sofa lalu berjalan ke arah kamar mandi.
**
Pagi hari nya mereka semua berkumpul bersama di meja makan berserta kak Adit dan juga Arsen yang baru sampai.
"Adek gue kemana?" tanya Adit yang sedang mempersiapkan kegiatan hari ini.
Adit langsung lari ke lantai dua. Ia takut terjadi sesuatu ke adek satu satunya. Setelah sampai di depan kamar adek nya tanpa permisi ia nyelonong masuk kedalam tanpa mengetuk pintu.
"Dek yuhuu...elu di mana?" menengok ke segala arah.
"Dek!" teriak Adit sembari mengacak ngacak tempat tidur Liliy sampai sampai seprei , selimut bahkan bantal turut di buang ke sembarang arah.
Yang tadi nya kamar Liliy rapi sekarang bagaikan kapal pecah.
Adit bingung mencari kemana di tempat tidur tidak ada , kolong tempat tidur tidak ada tanda tanda kemunculan Liliy bahkan lemari sudah ia buka. Tetap tak menemukan Liliy.
Setelah sepersekian detik terdengar gemericik air di dalam kamar mandi pertanda bahwa ada manusia di balik pintu kamar mandi.
Adit memutuskan menunggu di atas kasur empuk milik adek nya sembari main game di ponsel nya.
Beberapa menit kemudian muncullah seorang di balik pintu kamar mandi dengan tampilan rambut yang di gulung menggunakan handuk kecil, di pundak nya terdapat handuk yang ia kenakan tadi.
Setelah meletakkan handuk di luar, Liliy memutuskan kembali ke kamar nya untuk mengeringkan rambut nya yang basah karna habis keramas.
Baru melangkahkan kaki nya empat langkah seketika tubuh Liliy mematung di tempat, yang awalnya kamar nya bersih dan rapi kini berubah seperti kapal pecah yang tak terawat.
"Aaaa...." teriak Liliy mampu mengangetkan Adit yang sedang asik main game.
"Astaghfirullah"
Duk...
Ponsel Adit terlepas dari genggaman nya.
"Liliy!" Adit langsung menghampiri adeknya yang tengah menahan geram.
"Eitss...." meletakkan tangannya ke wajah Adit yang sepertinya akan memeluknya.
"Why?" menaikan kedua alisnnya.
"Kak sepertinya hari ini kau turun pangkat menjadi cleaning servis" membalikkan tubuh kakak nya menghadap tempat tidur Liliy yang sudah berantakan.
"Hmmm...itu..itu"
__ADS_1
"Apa kak?" bersidekap dada.
Adit terus mencoba berfikir cara untung melarikan diri namun, di saat hendak memajukan kaki kiri nya. Sang adek langsung memelintir tangan kakak nya ke belakang.
"Jangan coba coba lari dari tanggung jawab kak" ucap Liliy sembari melirik menggunakan ekor matanya.
"Ok kak, muach..." mengecup pipi Adit sebelum diri nya mengeringkan rambut nya.
Liliy berhasil membuat kakak nya terdiam tak bergerak.
Liliy melangkah kan kaki nya menuju meja rias guna mencari hair dryer. Ia duduk tepat di meja rias yang terdapat cermin besar yang di dalam nya terdapat pantulan bayangan diri nya yang sedang mengeringkan rambut nya.
Wiing....wiing....
Rambut Liliy tertiup angin yang berasal dari lubang hair dryer, selesai mengerikan rambut langkah selanjutnya membersihkan wajah nya menggunakan micellar water dengan bantuan kapas. Langkah berikutnya menggunakan serangkaian produk skincare dan langkah terakhir menggunakan make up yang sesuai dengan usia nya yakni make up natural.
Sekitar lima belas menit kemudian Liliy memutuskan turun ke lantai satu.
" Kak jangan lupa bersihkan kamar gue sampai bersih, rapi kayak semula okay" ucap Liliy yang berada di ambang pintu kamar.
"Hmm..." sahut Adit sambil merapikan tempat tidur nya.
Tap..
Tap..
"Kakak mu kemana Liy?" tanya Arsen yang sedari tadi menunggu ke datangan Adit.
"Oh, dia masih jadi cleaning servis di kamar gue" menghampiri kursi yang masih kosong.
"Cleaning servis?" sambung Reyhan yang sedang mengaduk jus jambu nya.
"He'em..."
"Kakak elu berulah lagi" tanya Destiya.
"Ya begitu lah" ucap Liliy dengan santai nya.
" Ini bukannya pesanan kemarin" batin Liliy yang masih melihat hidangan yang ada di depannya.
Samuel yang sedari tadi mengamati Liliy dari jarak jauh enggan untuk bertegur sapa saat ini. Dirinya masih tidak berani memulai pembicaraan karna Liliy lebih bisa menerima dengan cara logika
Bersambung...
Jangan lupa klik tombol favorit , jangan lupa like dan jangan lupa kasih setangkai bunga mawar. Agar author semangat membuat cerita.
__ADS_1