Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Tinggal nama


__ADS_3

Posisi Yoon yakni terlentang di bawah lantai , kedua kaki terbuka lebar , satu tangan nya memegang perut satu nya tergeletak di bawah. Posisi kepala miring ke samping kiri menghadap tangga serta kedua mata nya terbuka lebar seolah olah sedang memelototi orang


Episode selanjutnya…


Joon Woo dan lainnya bergegas menuju asal suara. Mereka berhenti di ujung tangga sambil melihat ke arah bawah.


Mereka saling berbisik sembari melirik ke arah bawah.


" Waduh belum di apa apain udah tamat " ucap Bernard sambil mengusap kedua lutut nya yang merasakan ngilu setelah melihat jasad paman Joon Woo.


" Terus si Liliy enggak bisa tanya dong ?"


" Ha? tanya ke siapa" tanya Bernard.


Samuel menepuk jidat nya sendiri " kan keluarga Liliy ada sangkut pautnya dengan paman nya Joon Woo. Kalau meninggal enggak bisa menggali informasi lagi "


" Benar juga ucapan elu " sahut Jhonatan.


Joon Woo memandang paman nya yang sudah terbujur kaku di bawah sana dengan senyum yang puas kini ia tak perlu repot repot ingin membalaskan dendam nya.


Sebelum keluar dari markas ini Joon Woo terlebih dahulu menghubungi anak buah nya yang berada di luar untuk sekedar menanyakan keadaan sekitaran markas masih ada musuh atau tidak.


Yang lainnya tampak tenang, berbeda dengan Destiya yang sedari tadi uring uringan tak jelas.


" Duh si Liliy kemana sih " menggigit jari kuku nya sendiri sambil mondar mandir.


Destiya tak tenang karna Liliy sedari tadi belum bergabung dengan lainnya, ia cemas kalau terjadi sesuatu yang kita tak tau keberadaan dia sekarang.


" Kalian lihat Liliy apa enggak " Destiya menatap bergantian ke arah mereka.


Bernard menghela nafas berat seraya menyentil kening Destiya


Ctak!…


" Elu itu kalau lihat orang pakai mata apa pakai sikut hah!! noh lihat orang nya di sebelah Reyhan "


Destiya memutar tubuh nya mengarah Reyhan yang sedang merapikan rambut Liliy yang sedikit berantakan.


...**...


Setelah Yoon berguling di anak tangga dan mengakibatkan kematian, qorin Ajeng keluar dengan sendiri nya. Beberapa detik kemudian tubuh Liliy tak mampu menopang berat badannya. Lemas tak berdaya yang kini di rasakan oleh Liliy.

__ADS_1


Reyhan yang sedari tadi mengikuti kemana pun Liliy berada dengan sigap menahan tubuh Liliy agar tidak jatuh.


Reyhan membopong tubuh Liliy menjauh dari tempat kejadian. Di dalam gendongan , Liliy sudah tak sadarkan diri dikarenakan seluruh energi nya terkuras habis.


Reyhan memposisikan Liliy duduk selonjor di bawah dengan tangan nya ia gunakan untuk menyanggah kepala Liliy agar tidak terjatuh. Reyhan terus menepuk pipi Liliy agar cepat sadar.


" Bangun dek " sambil di pancing dengan wewangian minyak ka*u puti* di bagian antara bawah hidung dan atas bibir.


Lima belas menit kemudian Liliy tersadar dari pingsan nya , ia memegang kepala nya yang terasa berat serta badannya terasa lemas.


" Kok aku disini " melihat sekeliling yang penuh dengan sarang laba laba dan bau debu.


Reyhan melihat Liliy sadar langsung di berondong berbagai pertanyaan. Hingga LilIy kesusahan menjawab pertanyaan yang mana dulu yang ia ingin jawab.


" Yang mana dulu yang mau ku jawab "


Reyhan berdiri dari duduknya kemudian menyalurkan tangannya ke arah Liliy.


" Ayo segera ke lantai bawah , masalah pertanyaan tadi bisa di bahas lain hari "


Liliy yang masih linglung mau tak mau segera menerima uluran tangan Reyhan agar kasus ini cepat selesai. Ia berjalan menuju pagar dinding yang bisa melihat secara langsung kondisi di bawah sana.


Lainnya pun juga sama melihat kondisi di bawah sana. Gue melihat Joon Woo tersenyum samar sambil melihat ke arah lantai bawah.


Lalu gue menoleh ke Reyhan yang sama baru saja melihat ke arah paman Joon Woo " mas dia sudah meninggal "


Reyhan menjawab dengan anggukan kepala seraya mengelus rambut Liliy yang sedang berantakan.


Kembali ke topik awal.


Joon Woo jalan ke arah Jhonatan dkk seraya posisi tangan di belakang, tangan sebelah kiri menggenggam pergelangan tangan sebelah kanan. Tangan sedikit diangkat setinggi pinggang. Layak nya sedang di borgol.


" Kita pulang hari ini. Besok akan saya jelaskan mengenai asal usul saya, paman saya berserta keluarga Liliy "


" Baik tuan "


Jhonatan dkk segera turun ke bawah melewati tangga yang menjadi saksi bisu peristiwa meninggal nya tuan Yoon.


Baru menginjakan kaki nya ke anak tangga paling akhir, semua saling menatap sekejap ke arah Yoon yang terbujur kaku. Kemudian melanjutkan jalan nya menuju pintu keluar yang berada di depan.


Drap…

__ADS_1


Drap…


Ternyata semua anak buah Joon Woo sudah kembali berkumpul di halaman markas dengan kondisi sehat dan selamat.


" Dimana tuan? " ucap salah satu di antara mereka.


Jhonatan dan lainnya saling menoleh ke belakang dan benar Joon Woo tidak bersama mereka sewaktu keluar dari markas.


" Bukan nya tadi di belakang kita. Kok jadi enggak ada" ujar Samuel.


" Kan sebentar lagi bom nya akan meledak " sambung Jhonatan sambil mainkan jam tangan.


Liliy yang hendak balik kanan ia urungkan karna orang yang ia cari sudah berdiri di tengah tengah daun pintu.


Joon Woo menghampiri anak buah nya yang sedari tadi menunggu nya.


" Sekarang kita tinggalkan tempat ini sebelum bangunan ini meledak "


Semua orang yang berada di halaman markas segera lari menjauh dari bangunan ini agar tidak terkena puing puing bangunan.


Mereka semua lari menuju alat transportasi yang mereka pakai. Jarak lari mereka sudah menempuh sepuluh kilometer.


Joon Woo memerintah Jhonatan untuk meledak bom yang sudah ia nyalakan dan sudah ia sebarkan di beberapa titik.


Dalam hitungan sepuluh detik bom yang sudah ia aktifkan seketika meledak sampai bunyi nya memakan telinga dan juga menggetarkan tanah di sekitaran markas. Kumpulan asap membentuk vertikal yang panjang nya lebih dua puluh meter.


Jhonatan dkk bisa melihat secara langsung walaupun dengan jarak yang cukup jauh, mereka sekarang berada di dalam helikopter yang di kendarai oleh Joon Woo.


" Seperti kembali di masa perang dunia kedua " ujar Destiya sambil melihat ke arah jendela.


" Emang elu udah pernah ke jaman di mana ada perang dunia ke dua " sahut Liliy sembari mengabari kakak nya.


Destiya membalikan tubuh nya menghadap Liliy sambil cengengesan.


" Hehe… ya mana bisa lah Liy gue kan belum lahir " sembari menggaruk tengkuk nya yang tidak merasa gatal.


" Guys… guys… " Bernard menepuk kedua tangan nya.


" Elu semua udah dengar berita yang lagi hangat hangat ini "


Liliy menggelengkan kepala nya " belum "

__ADS_1


" Jadi gini jenazah paman nya tuan Joon Woo akan di kebumikan di sebelah kakak kandung Joon Woo " lirih Bernard agar tak kedengaran di telinga Joon Woo.


Bersambung…


__ADS_2