Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Tidak sengaja.


__ADS_3

Yang sedari tadi hanya menonton , akhirnya Joon Woo buka suara " sudah Liy kau kembali ke tempat".


" Tapi tuan…"


" Kembali ke tempat. kalau kau siksa terus bagian kita tidak ada keburu dia mati. Kan jadi tidak seru " ujar Joon Woo sembari mematikan rokoknya menggunakan sepatu.


Mau tak mau Liliy kembali ke tempat.


Episode selanjutnya…


Dengan langkah gontai , ia berjalan ke arah Destiya.


" Uluh uluh dedek Liliy sini sini sama neng Destiya" membuka kedua tangannya ke arah Liliy. Liliy paham kode yang di maksud Destiya. Dengan langkah di percepat.


Drap…Drap…


Sek…


Grep… Liliy memeluk tubuh Destiya dari depan. Tak lupa tangan Destiya mengelus rambut Liliy seraya " dah jangan lesu , kayak enggak pernah makan 1 bulan aja" .


Sontak Liliy melepas pelukan " heleh lambe mu " sembari memutar bola mata.


Husst… husst…


Liliy menoleh ke arah belakang yang di mana Bernard sedang memanggil dirinya. Yang mana cara memanggilnya dengan bahasa tubuh.


" Apa?" ujar Liliy tanpa bersuara.


Bernard tetap mengkode dengan bahasa tubuh.


" Apaan?" yang sudah berada di samping Bernard.


" Bukannya elu tadi habis ke injak tai ayam yang berada di depan?" ujar Bernard dengan suara pelan tepat di belakang telinga Liliy.


" Lah iya " menepuk jidat. " Kenapa elu baru kasih tau" tangan Liliy memegang pundak Bernard.


" Ngapain tangan elu di lengan gue" melirik ke arah tangan Liliy.


" Buat pegangan. Gue mau cek sepatu gue barang kali masih nyangkut tai nya" tangan kiri mengangkat kaki kanan " enggak ada". Ganti kaki kiri " loh sisa nya cuman sedikit".


" Atau jangan jangan…" menoleh secara bersamaan.


Mereka berdua menatap lelaki yang tadi Liliy siksa.

__ADS_1


Pufft… mereka berdua menahan tawa.


" Kasihan sekali pria itu, badan udah remuk semua di tambah mendapatkan hadiah gratis yang bau nya melebihi bau kentut belalang. Ck ck" menggelengkan kepala nya seraya menahan tawa.


"Ya itung itung tambah wangi badannya"Liliy pun menanggapi ucapan Bernard yang terlihat tidak masuk akal. "Gue ke toilet dulu mau bersihin sepatu gue" langsung ngacir ke toilet.


...**...


Kini giliran Joon Woo yang langsung turun tangan menghadapi hama yang berkeliaran di sekitaran dirinya.


Sang pria bernama Arif mencoba bangkit dengan sekuat tenaga, tanpa bantuan kedua tangannya sebab kedua tangannya diikat menggunakan rantai sepeda yang telah berkarat.


Drap… drap…


" Hey Arif lama tidak berjumpa" posisi Joon Woo jongkok menghadap Arif yang penuh amarah. Wajah dia merah semua bertanda menahan amarah. Tak lupa sorot mata nya mengintimidasi.


" Lepaskan aku ke*ara*!!" berontak Arif.


" Haha…tidak semudah itu saya melepaskan mu dari sini. Jangan harap!! camkan itu" Joon Woo memandang remeh Arif dari ujung rambut sampai ujung kaki tak lupa dengan senyum mengejek.


" Oh ya saya kasih tau bahwa nanti anda akan mendapatkan hadiah yang sangat sepesial hari ini. Bagaimana? baik kan saya" ujar Joon Woo sembari bangkit dari jongkoknya.


" Atau kita pemanasan dulu , supaya tidak tegang nanti" ucapnya sambil memasukan tangannya ke saku celana.


" Cih,,, jangan sok belagu anda" Arif meludah ke arah sepatu Joon Woo.


Arif mencoba berdiri walaupun badannya hampir remuk.


" Hey paman!!! " teriak Reyhan dari kejauhan.


" Badan udah mau tumbang , masih aja nantang. Ckckck… miris gue lihatnya dah lah menyerah aja enggak akan rugi deh. Ya walaupun ujung ujung nya sudah tidak bernyawa".


" Diam kau bocah!!" melotot ke arah Reyhan. " Kau enggak tau apa apa , jadi jangan sok ikut campur"geram Arif.


" Wah ide bagus itu paman mumpung cuaca lagi panas enak nya minum es campur , ya kan bestie" sorak Reyhan.


" Betul…betul" sahut Arsen yang tak jauh dari mereka.


Grrrrr… pria yang menjadi tahanan merasa geram atas sikap anak buah Joon Woo yang tak tau malu. Kedua tangan mengepal kuat sampai sampai uratnya kelihatan.


Joon Woo hanya menanggapi dengan senyum tipis , ia sudah tau betul sifat anak buah nya. Suatu ketika Joon Woo pernah memarahi anak buahnya khususnya Jhonatan dkk. Ia memarahi kesana kemari namun hasilnya ocehan Joon Woo tidak di tanggapi oleh mereka hanya angin berlalu bagi mereka. Tapi di balik sifat mereka , mereka bisa menjalankan tugas dengan baik.


" Woy…woy…woy Liliy comeback mana tepuk tangan nya" ujar Liliy dari arah belakang.

__ADS_1


Sontak semua orang tutup telinga kecuali pria yang masih di tahan.


" Habis dari mana elu? lama amat di kamar mandi" tanya Bernard.


" Hehe… habis dari kamar mandi gue mampir dulu ke ruangan sebelah" tutur Liliy.


" Lah markonah ngapain di situ , orang orang pada ngumpul di sini" sambung Samuel.


" Eh , gue kasih tau" kembali ke mode julid. Ia melambai lambaikan tangannya ke arah Jhonatan , Destiya , Samuel , Bernard dan Reyhan.


Mereka berlima menghampiri Liliy dengan formasi lingkaran kecil tak lupa Arsen ikut masuk ke dalam lingkaran kecil itu.


" Elu semua pada merasa mencium bau tai apa enggak?" tanya Liliy ke mereka.


Mereka semua menggelengkan kepala kecuali Bernard yang sudah tau.


" Enggak tuh" sahut Jhonatan.


" Emang ada apa dek? " ucap Reyhan.


Liliy menyodorkan jari kelingking nya ke arah mereka"janji jangan kasih tau ke siapa siapa".


" Cepetan deh ngomong nya, penasaran nih gue" jawab Destiya.


" Sabar ngapa sih" memukul pelan lengan Destiya. " Gini tadi kan gue sebelum masuk ke dalam gue sama Destiya sempat foto foto dulu tuh di depan. Terus gue enggak sengaja injak tai ayam. Nah gue lupa tuh belum gue bersihin. Dan elu tau enggak ending nya bagaimana? " ucap Liliy yang sedikit keras yang mana bisa di dengar oleh Joon Woo dan Arif.


" Enggak tau" jawab Arsen.


" Tai nya pindah di baju pak Arif " cicit Liliy. " Sumpah gue enggak sengaja tadi suwer dah" mengangkat kedua jari nya membentuk huruf V.


" APA!!!" ujar mereka berbarengan.


" Hustt…" menempelkan jari telunjuk ke bibir nya sendiri. " Jangan keras keras ngomong nya takut kedengaran dia" Liliy mengintip ke arah Arif yang mana ia menatap mereka dengan tatapan mengerikan.


" Ish… jorok banget sih elu , terus tuh sepatu udah elu bersihin ulang?" ujar Destiya sembari menutup hidung mancung nya menggunakan dua jari.


" Udah baru aja. Kalau enggak di kasih tau Bernard mana sadar gue" Liliy memundurkan kepalanya.


" APA!!,," Arif yang sedari tadi menguping pembicaraan anak buah Joon Woo.


Sontak mereka semua menoleh ke arah Arif.


" Mampus elu Liy ketauan sama orangnya" goda Samuel.

__ADS_1


" Lah kan emang gue enggak sengaja" bela diri sendiri.


Bersambung…


__ADS_2