Idol Or Mafia Elite Member

Idol Or Mafia Elite Member
Memancing kegaduhan


__ADS_3

"Heh....elu kira gue setan gitu. Jangan ngadi Ngadi kau!" sentak Adit yang tak terima dirinya di sama kan dengan makhluk halus.


"Sudahlah jangan memancing kegaduhan. Atau kalian semua mau saya potong lidah kalian masing masing"


"Oh jelas TIDAK dan terimakasih" menangkupkan kedua telapak tangannya tepat di depan wajahnya.


Episode selanjutnya...


Segala hidangan telah tiba di meja makan yang sudah di booking oleh Joon Woo.


"Wadau..." mata Adit melotot seolah olah akan keluar dari cangkangnya.


"Biasa kali mantap nya" ujar Arsen sembari mengusap kasar wajah Adit.


"Ihh...tangan elu udah bersih apa belum haa!!. Kasihan nanti wajah ganteng gue luntur gara gara tangan elu yang kotor itu iyuhh" oceh Adit seraya menatap layar ponselnya untuk mengecek keadaan wajah nya setelah di basuh oleh tangan Arsen.


"Cih, ribet amat hidup elu" umpat Arsen yang tidak terima dengan ocehan Adit yang kian hari kian


menyebalkan.


Tanpa di sadari oleh Arsen dan Adit. Tiba tiba Joon Woo melempar pisau makan ke arah mereka berdua.


Klontang!...


Suara nyaring berhasil menyita perhatian para pengunjung. Namun sang pelaku tidak menanggapi tatapan dari pengunjung, ia memasang wajah datar nya dan melanjutkan makan yang sempat terganggu.


Baru aja mereka akan melayangkan unjuk rasa protes, namun langsung di patahkan oleh tatapan Joon Woo yang membuat lawan bicara mati kutu tak mampu mengucapkan satu kata.


Adit dan Arsen langung menikmati sajian yang baru datang, dari pada di usir oleh Joon Woo. Kan enggak banget.


Sesekali Adit melayangkan tatapan permusuhan ke Arsen. Tetapi sang empu tetap melanjutkan makanan nya, ia tidak peduli dengan sekitarnya.


Setelah menyelesaikan hidangan pembuka dan utama kini mereka bertiga bergeser ke hidangan penutup berupa salad buah , Milkshake dan custard.


"Sekarang ceritakan tujuan elu bawa kita ke sini " tutur Adit yang sedang melahap salad buah yang dia pesan.


"Tentang waktu itu. Kau sudah berdiskusi dengan orang tua mu?"


" Waktu itu? yang mana" mengetuk jidat nya menggunakan gagang sendok.


" Iya. Apa kau lupa hmm...." ucap Joon Woo sembari memiringkan kepalanya.


"Yang mana sih gue lupa" ucap Adit yang tak kunjung datang ingatan nya.


Duk!!


Arsen menendang sepatu Adit.


"Apa?" ucap Adit dengan mode gerak bibir.


"Otak lu perlu di laundry" bisik Arsen.

__ADS_1


"Kepara*" umpat Adit secara spontan.


"Ehmm!!..." Joon Woo sengaja berdehem agak keras supaya dapat di dengar oleh keduanya.


"Apa perlu saya kasih kata kunci nya?"


" Ya tentu dong. Masa enggak" Adit memajukan kursi nya supaya bisa mendengarkan cerita Joon Woo. Dengan posisi tangan nya di sandarkan di ujung meja. Dan tangan satu nya merangkul punggung kursi.


" Akusisi" satu kata terucap dari bibir Joon Woo.


Sedetik kemudian Adit baru menyadari arah pembicaraan Joon Woo.


Brak!!...


Memukul meja dengan satu tangan" gue baru ingat"


Arsen dan Joon Woo serempak memutar kedua bola mata malasnya.


"Tentang perusahaan keluarga gue kan" Adit bangkit dari kursinya kemudian ia memindahkan kursi nya. Mendekat ke arah Joon Woo.


Dan jadi lah kursi Adit berdekatan dengan kursi Joon Woo.


"Kau! menjauh dari ku tiga langkah" gertak Joon Woo.


"Oh ok ok..."


nyata nya Adit menggeser hanya sedikit kira kira satu langkah dari kursi Joon Woo.


"Astaga" pekik Arsen.


" Siapa yang kau panggil Jo" tanya Joon Woo sambil melahap es krim rasa choco mint.


"Kau lah siapa lagi"


Pfftt... Arsen menggosok batang hidung nya supaya tidak menimbulkan suara tawa.


Mau marah tapi percuma saja, mau membanting tubuh Adit itu tidak mungkin. Bisa bisa sang adek langsung turun tangan dan itu pun langsung di balas tanpa pandang bulu.


Joon Woo berulang kali menghela nafas.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Jo" ucap Joon Woo.


"Terus apa dong, enggak mungkin dong manggil elu wo, bisa bisa yang punya nama asli marah sama gue. Kan jadi ngeri" mengusap kedua lengannya seraya menengok kanan dan kiri.


"Maksud elu apa Dit?" tanya Arsen.


"Ck,, maksud gue tadi, kalau gue manggil Joon Woo dengan panggilan wo. Bisa saja lidah gue keseleo jadi nya manggil Wowo. Kau tau siapa Wowo itu?" memainkan kedua alisnya seraya bergantian menatap Arsen dan Joon Woo.


"Wowo. Siapa itu?" Arsen di buat penasaran.


"Dengar gue baik baik. Pasang telinga kalian dengan benar dan jangan ada yang memutus omongan gue. Paham?".

__ADS_1


"Hmmm..."


"Wowo itu..." Adit sengaja menggantungkan ucapannya dan sebelum melanjutkan ucapannya, ia melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa.


"Cepat!!" sentak Joon Woo.


"Astaga..." ucap Adit yang beneran kaget.


"Wowo itu genderuwo yang badan nya besar banget seluruh tubuh nya di penuhi bulu" ucap Adit yang sedikit di kecilkan volume nya.


"Haaa...." Arsen di buat bengong.


"Apa maksud perkataan mu barusan!!" mata Joon Woo seketika melotot ke arah Adit.


"Sabar sobat jangan marah marah nanti tidak laku" ucap Adit seraya menampilkan cengirannya.


"Tambah panjang urusannya" batin Arsen.


"Serius atau saya patahkan leher kamu" ucap Joon Woo yang penuh dengan ancaman.


"Hehe...serius dong bro. Jangan ngambek dong nanti ..."


Joon Woo langsung memegang pisau kecil yang ia selalu bawa kemana pun, tepat di depan mata Adit.


Adit langsung memundurkan tubuh nya "jangan gitu bro. Ngeri gue taruh dulu itu pisau nya. Gue janji akan serius kali ini"


"Silahkan bicara" perlahan pisau yang berada di genggaman , ia lipat menjadi kecil. Kemudian ia taruh tak jauh dari nya.


" Gue udah berdiskusi sama keluarga gue , dan hasil nya ingin berkerjasama secara normal tidak ada yang nama nya di akusisi. Supaya keuntungannya bisa di bagi menjadi dua. Dan hasil nya 50% di agensi mu dan 50% di perusahaan keluarga ku"


" Bagaimana setuju. Kalau tidak ya tidak masalah" ucap Adit dengan serius.


"Ok saya setuju dengan pendapat mu. Dan saya sangat membutuhkan kerjasama kali ini, kalau masalah pendapatan tenang biar Arsen yang menyelesaikan"


" Dan satu lagi. Apakah saya harus terbang ke negara Indonesia atau orang tua mu yang akan datang kesini?" tanya Joon Woo yang tak kalah serius.


" Maksud mu surat persetujuan dan tanda tangan" ucap Adit sembari mengetik pesan yang di tujukan untuk papa nya.


"Iya, lebih cepat lebih baik" jawab Joon Woo .


"Atau mau surat resmi biar Arsen yang membuatnya"


"Tidak usah bro. Kau lupa siapa aku hmm..." menampilkan Smirk nya.


" Ya...ya kau menang hari ini" sambung Arsen yang sedang mengerjakan tugas yang baru saja di beri oleh Joon Woo.


Lima menit kemudian.


" Orang tua ku akan ke sini, sekalian mau melihat ke adaan adek ku"


" Baik lah akan saya siapkan jet pribadi ku. Mau hari apa?" tanya Joon Woo seraya menyandarkan punggung nya di sandaran kursi.

__ADS_1


"Dua hari lagi akan ke sini"


Bersambung....


__ADS_2