
"Yaa toh masih ada kamar yang kosong dan juga bisa tidur di depan tv, beres kan"
"Apa ada hal penting" tanya Arsen.
"Ada makan nya aku butuh bantuan Jhonatan dkk, biar masalah ini selesai sampai ke akar akar nya. Dan juga ini akan membahas perusahaan mu. Kau jangan ke mana mana"
Episode selanjutnya...
Setelah selesai menghabiskan hidangannya, mereka berkumpul di ruang tengah tepat nya di depan tv.
"Kenapa kita masih di sini" bisik Liliy ke Jhonatan. Yang mana posisi duduk mereka bersebelahan.
"Mungkin masalah perusahaan atau enggak…"
" Atau enggak apa?" mencondongkan wajahnya.
"Mafia" ujar Jhonatan.
"Nah gue baru demen yang kayak gini" tangan Liliy tak sengaja menabok punggung Jhonatan.
"Sttt....diam semua singa jantan mau berkokok" celetuk Adit.
"Wkwkwk…udah berubah suara singa nya Dit " sambung Reyhan.
Kenapa Adit bisa berani berbicara begitu, karna Joon Woo masih mencari barang nya yang berada di dalam kamar pribadi nya.
Setelah berhasil menemukan yang di maksud. Joon Woo langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju depan tv.
Bruk!…
Joon Woo menaruh kardus dengan cara di banting.
"Biasa aja kali" sindir Arsen sambil menghisap rokok elektrik.
"Itu sudah biasa, kalian aja yang gampang kaget" ujar Joon Woo sembari duduk di recliner yang baru kemarin ia belinya.
"Isi nya apa sih jadi kepo" ujar Liliy sembari mendekat ke meja. Perlahan ia buka tutup kardus dengan garpu berkas makan mie goreng.
Perlahan ia buka nya dengan satu tangan nya. Dan satu tangan nya untuk menutup muka nya.
Srek…srek…
"Haaa… ini maksud nya apa. Kok di dalam isi nya cuma kaos lengan pendek doang, mana ada bagian yang robek" memperlihatkan kaos lengan pendek warna oren, di sisi lengan, kain nya sudah robek seperti di robek paksa oleh seseorang.
"Kak ini kayak nya cocok buat mu" Liliy melempar kaos nya dia pegang ke arah Adit.
"Enak aja. Ini cocok nya buat membersihkan kompor atau juga bisa mengelap mulut mu yang bau nya seperti selokan" di lemparkan kembali ke arah Liliy.
Gggrrr!!!.....
Liliy menatap Adit seolah olah ingin mencakar mulut sang kakak.
"Stop kakak beradik bertengkar nya di pending dulu. Saat nya saya mau menjelaskan maksud tujuan saya membawa kaos itu" potong Joon Woo sambil memundurkan tubuh Liliy ke semula.
__ADS_1
" Kau tau ini kaos punya siapa" mengangkat ke atas.
Semua orang hanya menggelengkan kepala.
" Kaos ini ada sangkut paut nya sama staf kamu Dit " menoleh ke arah Adit.
" Apa hubungannya?" sahut Adit yang tidak paham maksud Joon Woo.
" Kau tau musuh ku yang akhir akhir ini sering meneror kelompok mafia ku"
" Oh jangan jangan si tua Bangk* itu" ucap Destiya.
" Bukan. Kali ini rival berasal dari negara Amerika"
"Amerika" ucap Samuel yang mengulangi kata yang baru saja di ucapkan oleh Joon Woo.
" Kaos lengan pendek - staf perusahaan Adit - Amerika" Ujar Arsen seraya menyilakan kedua kaki nya ke atas sofa.
" Pak bos jangan membuat kita mikir yang terlalu berat. Hidup ku sudah berat jangan menambah beban lagi " Ucap Reyhan sambil makan kacang atom.
" Punya anak buah kok pada gini" batin Joon Woo yang meratapi nasib nya yang mempunyai anak buah yang minim pengetahuan + akhlak.
"Jangan bilang staf perusahaan kak Adit sudah di tahan di lantai bawah markas" usul Liliy secara tiba tiba.
Destiya , Reyhan dan Jhonatan menoleh menghadap Liliy dengan raut wajah yang bingung.
"Kenapa elu bisa menyimpulkan bahwa orang itu ada sangkut paut nya dengan rival Joon Woo" Arsen bertanya ke Liliy.
" Itu sangat mudah untuk di tebak. Dan di kaos lengan pendek itu terdapat kata kunci yang sangat kecil. Hanya orang orang yang tau letak kata kunci nya berada" ujar Liliy seraya memainkan satu alisnya tak lupa mengedipkan sebelah mata nya ke arah Joon Woo.
"Tunggu" cegah Jhonatan.
" Pak Joon Woo terhormat tolong beri tau kita sejelas jelasnya apa yang sebenar nya terjadi dan apa hubungan nya dengan kaos itu" memijat pangkal hidung nya.
" Kau mau tau"
" Tentu" ucap Jhonatan dengan yakin.
"Baiklah akan saya bongkar satu persatu agar kalian tau"
"Dit kirim semua biodata karyawan dan karyawati di perusahan mu saat ini, jangan sampai terlewatkan" titah Joon Woo.
"Baik" Adit langsung memberitahu sekretaris nya.
Destiya penasaran dengan ucapan Liliy bahwa di kaos itu terdapat petunjuk, lantas ia mengambil kaos tersebut di atas meja.
"Mana enggak ada tuh" terus membolak balik koas sampai dua kali.
"Liy elu bo'ong ya" ucap Destiya seraya mendelik ke Liliy.
"Kalau gue bo'ong kenapa Joon Woo menanggapi" ucap Liliy seraya bersandar di punggung sofa.
"Hmm…ya juga sih. Kan tipe Joon Woo kalau enggak bener pasti diam aja" menggaruk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
"Nah itu elu tau" ucap Liliy sambil menganggukkan kepala.
"Terus sebelah mana yang elu maksud tadi" Destiya duduk di sebelah Liliy dan berhasil menyingkirkan Reyhan yang berada di samping Liliy.
"Huss… huss… sana elu" usir Destiya.
"Cih,, merepotkan" umpat Reyhan yang berhasil pindah duduk di dekat Arsen.
" Lihat baik baik. Buka tuh mata elu biar jelas"
Liliy mengambil kaos yang berada di tangan Destiya.
"Nih lihat ada bercak darah kan dekat sobekan" menunjukan lokasi bercak darah.
"Kok bisa ada di situ. Gue tadi udah cari di sekitaran situ" bengong Destiya.
"Ya mana gue tau, mungkin elu tadi lihat nya sambil merem jadi enggak kelihatan" menaruh kembali kaos ke dalam kardus.
...**...
"Gue udah dapat data nya Jon!" teriak Adit yang mana Joon Woo ada di sebelah nya.
"Berisik"
Joon Woo langsung mengambil hp Adit tanpa izin dari sang empu.
"Kerja bagus, cepat kirim lewat email ku" memangku laptop nya.
Ting!…
"Udah" tanya Adit yang baru mengirim.
"Hmm…"
Joon Woo langsung melancarkan aksi nya meretas data pribadi karyawan dan karyawati. Aksi tersebut sudah lama tidak ia jalankan , biasa nya menyerahkan tugas tersebut ke Liliy. Yang notabene nya ahli dalam IT.
Tidak sampai hitungan jam , Joon Woo berhasil mendapatkan data pribadi karyawan yang ia inginkan.
"Ternyata dia kerjasama sama tua Bangk* itu" batin Joon Woo sembari mengeluarkan Smirk.
"Udah dapat, gimana hasilnya" Arsen langsung menimbrung ke arah Joon Woo dan Adit.
"Kok bisa kebetulan gitu"
"Ya kurasa sudah lama bekerja sama nya" sahut Adit yang terlihat santai.
Arsen yang memandang Adit biasa saja lantas membuka suara.
"Kenapa kau bisa sesantai itu" tanya Arsen.
"Kan ada kalian kenapa harus bingung" mengangkat kedua bahunya.
Bersambung…
__ADS_1
REDITYA SAPUTRA ( Adit )