
Destiya pun sama. Sama sama menenangkan Samuel yang punggung nya sudah bergetar pertanda bahwa di diri nya sedang menumpahkan rasa sesak di dada nya melalui air mata.
Kedua perempuan sama sama menenangkan sahabat nya yang sedang berduka mengigat orang tersayang yang sudah lama meninggalkan nya.
Episode selanjutnya…
Destiya terus mengusap punggung Samuel , tak ketinggalan Bernard menyodorkan satu gepok tisu.
" Cup…cup… jangan nangis terus nanti ganteng nya luntur kena air " goda Destiya layak nya menenangkan anak kecil.
Samuel menatap wajah Destiya dengan kondisi wajah sembab di tambah hidung nya mengeluarkan ingus.
" Ck, kayak anak kecil aja " ucap Samuel dengan suara serak.
Bernard yang melihat ingus Samuel cepat cepat mengeluarkan tisu dan langsung jaga jarak. Diri nya tipikal menghindar dengan orang nya kotor dan jorok. Bernard termasuk orang yang suka menjaga kebersihan.
Cepat cepat Samuel membersihkan ingus nya.
Sroott!!…
Bernard menatap jijik ke arah Samuel. Samuel yang mempunyai sifat jahil , ia lemparkan tisu bekas ingus nya ke Bernard. Alhasil Bernard berteriak sejadi jadi nya. Teriakan Bernard mengundang perhatian orang, termasuk orang tua Joon Woo dan Joon Woo nya sendiri.
" Ada apa teriak teriak? " tanya Joon Woo yang baru tiba.
Di kira ada apa ternyata cuman ulah keisengan Samuel.
" Sudah sudah kita pulang sekarang hari sudah mulai sore " sambung ayah Joon Woo.
Mereka semua langsung pergi meninggalkan tempat pemakaman dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Jhonatan dkk memilih menggunakan mobil terpisah. Jadi satu mobil di isi dua orang di tambah satu sopir. Mobil Joon Woo berada di depan sebagai pemimpin arah jalan , di dalam di isi tiga orang yakni Joon Woo duduk di balik pengemudi Arsen duduk di depan samping sopir sedangkan Adit bertugas sebagai pengemudi.
Di belakang mobil Joon Woo ada mobil orang tua nya dan barisan selanjutnya di isi dengan mobil Jhonatan dkk.
Suasana di dalam mobil Liliy.
" Udah enakan " menoleh ke samping kanan.
" Udah. Makasih " ujar Reyhan sambil menatap wajah Liliy dari dekat.
__ADS_1
Liliy menaikan satu alis " buat? "
" Buat segala nya " menampilkan senyum tulus yang jarang ia tunjukan.
Dari pada pusing memikirkan ucapan Reyhan lebih baik Liliy mengiyakan. Liliy menganggukkan kepala dan juga membalas senyum dari Reyhan.
" Mas " panggil Liliy.
Hmmm… balas Reyhan karna ia sedang asik main game di hp.
Hening tak ada jawaban.
" Mas? "
" Hmm…"
" Mas!! "
Reyhan langsung menatap tajam ke pelaku si pembuat berisik. Reyhan langsung menghentikan main game di hp nya, ia taruh hp nya di samping tempat duduk secara asal. Kemudian Reyhan langsung memiting leher Liliy dengan gemas.
" Mas udah dong sakit nih " Rajuk Liliy.
" Hahaha… sakit mas , lepas ih " Liliy menggerak gerakan kepala nya ke kanan ke kiri.
...**...
Sebelum kembali ke markas Joon Woo. Rombongan mobil Joon Woo memilih mampir dahulu ke rumah makan hanya untuk sekedar mengisi perut.
Sesampai di lokasi rumah makan suasana sudah menjelang sore warna langit berubah warna menjadi Oren kemerahan.
Joon Woo sekeluarga dan Jhonatan dkk memilih tempat kosong yang berada dekat di pinggir kolam ikan.
" Silahkan kalian mau pesan apa. Hari ini saya traktir sampai puas " ucap Joon Woo sembari membuka buku menu makanan.
Satu jam kemudian rombongan Joon Woo sudah meninggalkan area rumah makan, kini mobil Joon Woo tetap sebagai penunjuk arah.
Beberapa jam kemudian sampailah di markas Joon Woo tepat setelah Maghrib. Semua turun dari mobil masing masing, kemudian masuk ke dalam markas.
" Joon Woo " panggil Ayah Joon Woo.
__ADS_1
" Ya ada apa yah? " menutup pintu kamar kembali , kamudian membalikan badan.
" Bisa bicara sebentar" tanpa persetujuan anak nya. Ayah Joon Woo langsung berjalan ke arah balkon.
" To the point " ujar Joon Woo ketika sudah berada di balkon.
" Ck,, sama orang tua enggak ada sopan sopan nya " menghela nafas.
" Bagaimana laju perkembangan perusahaan mu. Apakah lancar? "
Joon Woo menganggukkan kepala sebagai jawaban.
" Kamu udah mencari bukti yang benar tentang kasus yang menimpa Black Diamond "
" Sudah yah, masalah itu sudah beres tinggal upload ke media sosial dan Vidio lama akan saya dan Liliy mencoba menghapus secara permanen dari dunia sosial " ujar Joon Woo sambil menatap lurus ke arah lautan bebas.
" Semoga berhasil nak. Kasihan baru menikmati karir nya sudah ada berita yang tidak mengenakan , untung ke enam anak buah mu mempunyai mental kuat. Dan ayah bangga dengan hasil kerja nya mereka terlihat gesit dan tanggap dengan beberapa situasi "
Ayah Joon Woo berjalan menuju batas pinggir pagar bersamaan dengan anak nya yang sedang menikmati suasana laut di malam hari. Mereka berdua sama sama menatap lurus ke arah lautan dengan di hiasi milyaran bintang di atas sana.
Beberapa menit kemudian ayah Joon Woo membuka suara setelah dari tadi diam tak bersuara.
" Andai kakak mu masih hidup. Mungkin dia merasa bangga atas pencapaian mu saat ini " menatap lurus dengan pandangan kosong.
Joon Woo menoleh sesaat, setelah itu kembali menatap germelap bintang di atas sana " lihat lah bintang di atas sana yah " menunjuk menggunakan jari telunjuk.
Ayah Joon Woo mengikuti arah pandang.
" Lihat lah ayah ada bintang satu yang cahaya nya sangat terang. Mungkin itu kakak yang sedang melihat kita dari atas. Kakak sudah bahagia di atas sana tidak capek capek memikirkan dunia apa lagi memikirkan pekerjaan "
" Ikhlas kan kakak yah, walaupun ikhlas itu sangat berat percayalah perlahan akan terbiasa tanpa kehadiran kakak. Ayah harus fokus menjaga ibu , walaupun kakak memilih menempati rumah baru percayalah suatu saat kita akan berjumpa dengan kakak di atas sana, kita bisa berkumpul kembali "
" Ada anak mu yang masih di sini yah. Aku akan melindungi orang orang yang tersayang walau sampai titik penghabisan " menepuk kedua pundak ayah nya.
" Kau sekarang sudah menjadi dewasa nak " terkekeh sembari mengusap kedua mata nya yang mulai mengembun.
" Walaupun sifat dan perilaku dengan kakak sangat jauh. Ketahuilah bahwa di dalam hati ku yang paling dalam aku sangat menyayangi ayah dan ibu. Kau lah sumber kekuatan ku di saat aku terjatuh dan terpuruk. Kalian dengan sabar menghadapi sifat ku yang kaku, terimakasih sudah membesarkan aku dengan sejuta kasih sayang yang entah kapan aku bisa membalas nya. Di saat aku terpuruk ke hilangkan kakak kalian lah memberi kekuatan dan secara suka rela menyalurkan tangan dan juga memberikan senyum yang sangat hangat ke pada ku. Terimakasih ayah kau lah pahlawan ku sedari kecil sampai sekarang dan ibu sebagai sumber kekuatan " Joon Woo memeluk erat ayah nya dan menumpahkan semua keluh kesah nya yang ia tahan selama ini.
Bersambung…
__ADS_1