
" Apakah harus ada alasan mau kesini?" tanya balik Joon Woo.
"Itu terserah tuan mau kesini apa enggak. Tapi kok tumben amat ke sini biasa nya kalau kesini karna ada hal yang penting yang mau di bahas" tutur Bernard.
Episode selanjutnya…
"Kamu benar" jawab Joon Woo sembari menyilangkan kaki nya.
"Ja- jadi…"
"Saya mau menginformasikan hal penting hari ini, jadi saya harap kalian tetap diam jangan ada yang banyak protes" mengeluarkan smartphone nya dan mulai mencari nomor kontak yang dituju.
"Mau ngomong apa dia?" tanya Destiya dengan suara lirih.
"Mana gue tau" Jhonatan hanya menanggapi dengan mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Cih,,…" umpat Destiya seraya memalingkan wajah ke sembarang arah.
Setelah menyelesaikan acara telponnya. Baru lah Joon Woo angkat suara.
"Sebentar lagi dia akan datang ke sini. Tolong etika nya di jaga" melirik ke arah arloji.
Selang beberapa menit datanglah seorang anak muda yang tengah ngos-ngosan setelah mengejar waktu yang telah ditetapkan oleh Joon Woo.
Hos…hos…
Joon Woo menoleh ke arah dia seraya berkata" kau telat lima menit"
"Haaa!…apa!!… gila kau ya. Gue mati matian ngebut ke sini terus elu se enaknya ngomong cuman telat lima menit" teriak orang tersebut
Sontak semua orang membalikan badan lantara terdengar suara teriakan dari arah pintu. Dan ternyata yang membuat suara kegaduhan yaitu…
"Aaa… kakak" Liliy loncat dari sofa untuk hanya sekedar menghampiri kakak nya yang tiba tiba datang ke negara Korea.
"Stop!" ucap Adit yang sudah tau kalau sang adek mau loncat ke arah dia, namun naas ucapan Adit tidak di dengar oleh Liliy. Alhasil tubuh Adit sedikit terhuyung kebelakang akibat loncatan yang secara tiba tiba dan tanpa persiapan.
Posisi Liliy sekarang sedang bergelantungan manja di gendongan sang kakak.
"Kak Adit…" ujar Liliy dengan girang , dengan kaki menendang nendang ke udara persis seorang anak kecil yang sedang merengek meminta mainan.
__ADS_1
"Ck" sesekali Adit menghela nafas pasrah.
"Bisa turun enggak elu…"
"Enggak" ujar Liliy seraya menggelengkan kepala di dalam ceruk sang kakak.
"Turun sendiri atau gue banting"
" Iya iya gue turun sendiri" mau tidak mau Liliy terpaksa turun dengan wajah yang di tekuk.
"Nah gitu dong"
Adit meninggalkan Liliy seorang diri tanpa menoleh ke belakang, ia berjalan sambil meregangkan tubuh nya akibat ulah adek nya yang tak tau malu.
Joon Woo menatap Adit dengan tatapan tajam seolah ingin mencabik nya saat ini juga.
"Bisa enggak elu menatap orang tuh biasa aja" ucap Adit sambil menyoyor kepala Joon Woo tanpa rasa takut.
Yang lainnya melongo melihat kejadian yang barusan terjadi itu tepat di depan mata. Jarang jarang seorang ketua mafia di tempeleng kepala nya oleh sahabatnya sekaligus rekan kerja.
Dan anehnya Joon Woo diam saja tanpa melawan beda cerita kalau anak buah nya yang melakukan. Bisa jadi detik itu juga menjadi malapetaka.
"Wah benar benar sohib pertemanan mereka, gue jadi terhura" tutur Destiya.
"Gue…" nunjuk diri nya sendiri.
"Tuh tanya langsung ke Joon Woo" ucap Adit sembari menunjuk Joon Woo yang masih di sebelahnya.
Joon Woo melirik sekilas ke arah sahabatnya " dia akan menjadi road manager kalian"
"Apa!!…"
"Sstt… kecilkan suara kalian. Gue enggak bude*" ucap Adit sambil main game di hp.
"Kenapa harus dia! kenapa enggak orang lain aja" protes Liliy yang tak terima kakak nya menjadi manajer di grup.
"Ya karna saya udah kenal sama Adit. Saya tidak mau orang lain atau orang asing menjadi road manager kalian bisa jadi identitas kalian lambat laun akan terbongkar"
"Tapi…"
__ADS_1
"Mulai dari sekarang Adit akan tinggal di sini" Joon Woo beranjak dari duduk nya.
Sang empu hanya senyum senyum saja tanpa menimpali ucapan Joon Woo.
"Yah… jadi enggak bebas dong gue" ucap Liliy sambil memanyunkan bibirnya.
...***...
Setelah menghabiskan waktu libur yang bisa di bilang singkat. Mereka kembali melakukan aktivitas sebagai mestinya. Selangkah lagi mereka akan menjadi bintang yang akan bersinar terang di gelapnya malam hari.
Esok nya mereka berangkat pagi pagi ke agensi yang menaungi mereka.
"Ayo semuanya siap siap turun ke bawah!" teriak Adit dari lantai bawah seraya membawa iPad.
"Iya!…"
Semua pada turun dengan tergesa gesa ada yang sedang memasang anting anting sambil jalan , ada yang sedang makan selembar roti dan ada juga sedang memakai jaket denim seraya mengunyah permen karet.
"Sudah siap semuanya?" Adit memeriksa mereka dari atas sampai bawah menggunakan kaca mata.
"Let's go…"
Mobil van yang mereka tumpangi sudah terparkir sempurna di depan dengan tampilan sangat mewah di dalam tapi di lihat dari luar tampilannya biasa. Di dalam di lengkapi LED tv berukuran 21.5-inci plus sistem audio sound lengkap dengan fasilitas karaoke, Wifi dan TV tuner digital. Tak tanggung tanggung kursi penumpang di buat senyaman mungkin agar di perjalanan penumpang tidak merasakan bosan dan lelah.
Jalur pintu sliding door standar dari mobil ini di upgrade dengan sistem sliding elektrik.
Sungguh mewah mobil yang mereka tumpangi.
Di mulai dari Adit yang berada di depan yang sekarang menjadi road manager. Tak hanya Adit saja yang berada di depan melainkan ada sopir yang selalu siap mengantarkan kemana pun penumpang pergi.
Di belakang Adit atau bisa di sebut barisan nomor dua di tempati oleh Jhonatan sebagai ketua dan sebelah nya kiri nya ada Samuel.
Barisan nomor tiga di tempati oleh perempuan yaitu Liliy dan Destiya. Dan yang paling terakhir yaitu barisan nomor empat di tempati oleh Bernard dan Reyhan.
Mereka semua nampak menikmati pemandangan perkotaan dari dalam mobil.
Yang dulu nya Adit kerja di perusahaan keluarganya sebagai CEO menggantikan papa nya, kini ia harus berhenti di karenakan permintaan sahabat nya sebagai road manager. Tapi tenang saja Adit tidak sepenuhnya melepas tanggung jawab dia, melainkan ada asisten nya yang menggantikan sebagain tugas nya dan sepenuh nya masih di kendalikan oleh papa nya yang mana , papa nya masih menjabat wakil CEO.
Awal nya Adit tak mau menjadi road manager untuk grup yang berisi anggota adek nya. Tapi desakan dari Joon Woo yang tak bisa di bantah. Alasannya hanya satu agar identitas mereka tetap terjaga.
__ADS_1
Hanya dia yang tau seluk beluk Joon Woo dan Jhonatan dkk , maka dari itu Joon Woo memilih ia dari pada orang lain yang belum tentu bisa menjaga rahasia.
Bersambung…