
" Siapa?" tanya Arsen baru saja selesai membantu Adit memindahkan tas koper ke tempat asal nya.
"Paman gue. Siapa lagi kalau bukan paman gue sendiri"
" Gue tadi udah mengusulkan ide untuk mencari karyawan lagi untuk membantu membuat kue dan menjaga toko. Tapi di tolak sama ibu gue, jadi gue hanya mengiyakan" ujar Bernard yang ikut duduk lesehan di bawah bersama yang lainnya.
Episode selanjutnya…
" Aha…gue punya ide" semua orang menatap ke arah Destiya dengan raut wajah penasaran.
" Ide?" tanya balik Arsen.
" Ya ide. Ide gue tuh, bagaimana kalau ibu sama paman nya pindah ke sini kan si Bernard bisa bantu bantu di sana" menebarkan senyum dengan mata nya di kedip kedip kan serta jari nya membentuk huruf L yang di tempelkan di bawah dagu.
" Sembarangan apa mau ibu gue pindah kesini" tolak Bernard.
Reyhan langsung memukul tengkuk leher bagian belakang.
Plak!!
"Woy curut!! kenapa elu geplak kepala gue" Bernard mengusap bekas geplakan Reyhan.
" Biar otak elu encer aja" ujar Reyhan yang tidak punya salah.
Joon Woo langsung melerai dengan cara membenarkan ide Destiya " ide Destiya ada benar nya. Apa salah nya kau mencoba merayu ibu mu agar mau pindah ke sini"
Hufft"-"
" Baiklah akan saya coba bicara kepada ibu dan paman"
Liliy mengacungkan dua jempol ke arah Bernard. Bernard mampu menyunggingkan senyum.
Joon Woo berdiri menghampiri orang tua Liliy yang masih duduk di bawah.
" Mari kita bahas kerjasama di ruang sebelah. Anak anak biar istirahat di sini" ucap Joon Woo yang langsung di ikuti oleh Arsen dan Adit.
" Mah mau kemana?" Liliy menarik jari kelingking.
" Ada urusan bisnis sama tuan Joon Woo. Kamu istirahat saja di sini, mama sama papa enggak lama kok" mengelus kepala anak bontot nya.
__ADS_1
"Ok mah"
Mama Liliy menyusul suami nya yang sudah jalan terlebih dahulu.
Adit menyusul nya belakangan, ia masih menghubungi sekretariat nya yang berada di negara Indonesia.
Setelah menghubungi sekretaris nya, baru lah Adit bergegas menyusul mereka ke lantai dua tak lupa membawa laptop.
Sebelum menginjak anak tangga Adit menoleh menghadap Liliy " doakan ya dek, kerjasama kali ini berjalan dengan lancar. Biar uang jajan mu makin lancar"
" Pasti nya dong kak. Emang kerjasama apa kak…kak Adit" Liliy bergegas ingin menghampiri kakak nya tetapi langsung di cegah oleh Jhonatan. Sedangkan kakak nya sudah lari duluan ke lantai atas.
" Jangan ganggu mereka. Nanti juga di kasih tau sama kak Adit" ucap Jhonatan.
" Tapi gue penasaran kerjasama apaan? setau gue kak Adit jarang sekali ngurus perusahaan papa ku" ku tekuk bibir bawahku.
Sahut Samuel " mungkin yang mengurus kerjaan kakak mu sekretaris nya atau enggak asisten. Enggak mungkin dong kak Adit langsung lepas tanggung jawab secara kan perusahaan keluarga mu ada banyak cabang dan di penerus perusahaan papa mu satu satu nya"
" Atau elu aja yang menggantikan pekerjaan kak Adit yang sesungguhnya"
" Oh tidak terima kasih" menyilang kan kedua tangan nya yang berbentuk X.
Liliy memilih duduk di samping Reyhan. Kepala nya ia sandarkan di lengan Reyhan yang mana Reyhan memakai baju singlet. Lengan otot milik Reyhan terlihat jelas.
" Karna gue enggak mau terlalu banyak tugas dan banyak aturan" ucap Liliy sambil memejamkan kedua mata nya.
" Kan jadi idol atau artis juga banyak peraturan bukan nya sama aja. Atau jangan jangan elu males mikir dengan dokumen dokumen yang sangat membosankan itu" ucap Destiya yang ada benar nya juga.
Liliy membenarkan ucapan Destiya " ya gitu deh. Papa gue pernah ngomong sama gue, kalau gue gagal di tahap training dan gagal jadi idol K-Pop. Gue akan di pilih menjadi direktur perusahaan papa gue yang berada di negara Thailand "
" Tapi Dewi keberuntungan masih memberi kesempatan gue untuk meraih cita cita gue dari kecil. Dan jadi lah sekarang gue berada di bagian grup Black Diamond" membuka kedua matanya tapi kepalanya masih menyandar di lengan Reyhan.
Reyhan membantu membenarkan anak rambut yang menghalangi wajah Liliy. Ia selipkan di belakang telinga dan membenarkan kepala Liliy agar nyaman bersandar di lengan Reyhan.
" Lambat laun para fans lu akan tau kalau elu anak konglomerat yang berkedok menjadi idol" tutur Bernard.
" Gue tambah" Samuel mengacungkan diri.
Liliy memiringkan kepala.
__ADS_1
" Mafia berkedok idol" ucap Samuel.
Liliy langsung melempar bantal sofa yang berada di bawah kaki nya.
" Gue nya aja yang rada risih dengar kata anak konglomerat. Cukup anak dari kalangan orang mampu udah itu sudah cukup bagi gue" ucap Liliy.
...**...
Lantai dua.
Orang tua Liliy , Adit , Arsen dan Joon Woo sudah berada di ruangan yang khusus untuk membahas kerjasama antar dua perusahaan besar. Yakni perusahaan entertainment dan perusahaan industri makanan.
" Begini om Rudy, saya ingin mengajukan kerjasama dengan perusahan om. Apakah om bersedia berkerjasama dengan perusahaan saya" Ucap Joon Woo sambil menerangkan poin poin yang berada di layar monitor mini yang ia pantulan ke arah dinding.
"Ar, coba bawa sini proposal yang sudah saya tandatangani" Joon Woo meminta map proposal kepada Arsen.
Arsen segera menyerahkan proposal yang sudah rampung kemarin malam.
Setelah menerima proposal dari Arsen. Joon Woo langsung menyerahkan ke om Rudy.
" Ini om rincian dari poin poin tadi. Di dalam sini lebih jelas" ujar Joon Woo.
Om Rudy langsung membuka isi poin poin tersebut hingga akhir.
" Saya setuju isi di dalam proposal kamu" om Rudy memindahkan proposal ke Adit. Agar Adit tau isi di dalam nya.
" Hmmm… saya sih yes aja. Tapi udah proses pembangunan apa belum dan letak nya apa sudah tepat sesuai dengan pemikiran mu" tanya Adit yang baru membaca setengah dari isi proposal.
" Kalau masalah lahan sudah saya beli jauh hari dan tepat nya lebih strategi. Tempat nya tidak jauh dari kota. Kalau masalah porses nya, masih tahap perataan tanah dan sebagian baru mendirikan pondasi bangunan"
" Apa perlu saya suntikan dana lagi?. Agar proses pembuatan lebih cepat dan kondusif" tawar om Rudy.
" Oh tidak masalah om, saya menerima bantuan anda dan juga bangunan ini sebagian milik anda juga. Jadi jangan sungkan membantu kami" ucap Joon Woo dengan nada formal.
Adit yang baru memahami isi proposal langsung di kembalikan ke papa nya. Diri nya juga akan membantu dana untuk kesuksesan pembuatan restauran yang isi nya makanan khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
" Kalau restauran ini laris apakah anda akan buka cabang di daerah lainnya?" tanya mama Sinta.
" Kita lihat saja Tante perkembangan bisnis baru kita. Kalau peminat nya banyak. Akan saya buka cabang di kota kota lain nya" jawab Arsen yang turut mambantu menjawab pertanyaan dari istri om Rudy.
__ADS_1
Bersambung…