
Fuuu....
Liliy berjongkok tepat di hadapan mayat Arif , tubuh Liliy sedikit ia condongkan tepat di samping telinga nya " waktu mu sudah sampai di sini , ikhlas kan masalah ini. Ini sudah takdir mu jangan terlalu lama di alam manusia. Alam mu sudah berbeda sekarang kau boleh pergi".
Setelah membisikkan kata kata tadi Liliy mencoba menggerakkan tangan Arif percaya tidak percaya tubuh Arif yang tadi nya kaku. Sekarang bisa di gerakkan , semua orang yang berada di situ di buat kaget atas keajaiban yang berada di depan mata.
Episode selanjutnya…
"Cepat angkat mayat ini dan taruh ke dalam peti" titah Liliy sembari berdiri dari jongkoknya.
Semua orang masih diam sambil bengong menatap mayat itu.
"Ish… malah bengong enggak jelas, buruan gih angkat mayat nya keburu kaku nanti" melangkahkan kaki nya menuju pintu.
Blam…
Semua orang yang tadi nya masih bengong, sekarang terperanjat kaget.
" Lah Liliy kemana?" Destiya celingak-celinguk mencari keberadaan Liliy.
"Yaah… gue di tinggal" menghentakkan kaki nya tak lupa bibir nya di maju kan sedikit. "Hay cowok berempat gue tinggal dulu, bye urus tuh mayat gue enggak ikut ikut" melenggangkan kaki nya menuju pintu keluar.
Empat cowok itu saling memandang kemudian mengangkat kedua bahunya.
"Yuk…" ajak Jhonatan.
...**...
Drap…drap….
Langkah suara kaki memenuhi segala penjuru ruangan.
Brak…
Bernard membuka paksa pintu kamar tidur. Sedangkan orang yang berada di dalam terperanjat kaget hingga menjatuhkan sepasang alat makan. Dan untung nya mereka berdua lagi asik nonton Netfli*
Klontang…
"Ish!!… ngagetin aja kerjaan elu" geram Liliy yang tadi nya sebelum ada kekacauan , dirinya lagi asik makan sembari menonton film.
"Hehehe…sorry" ucap Bernard sambil menampilkan deretan gigi rapinya.
Tak hanya Bernard saja yang masuk ke kamar Destiya. Melainkan ada Jhonatan,Samuel,dan Reyhan yang berada di belakang.
Pluk…
"Hey…hey… siapa yang nyuruh elu duduk di sofa gue" Destiya langsung bangkit dari selonjoran dan langsung berkacak pinggang.
"Sttt… diam gih, pegel badan gue. Gue mau numpang tidur di sini" ujar Bernard. Yang tadi nya mau selonjoran tidur dan sudah menata bantal tiba tiba di tarik paksa oleh Destiya. Alhasil Bernard tengkurep di atas karpet bulu.
Bruk…
__ADS_1
"Ck,, gue mau tidur ya Destiya, kenapa sih ganggu orang mau tidur bisa enggak elu sehari aja enggak ngoceh" mengusap kening nya yang sedikit benjol.
Semua orang enggan berkomentar, semua asik menonton film yang sedang tayang sambil memakan cemilan yang sudah tersedia.
"Kau kan barusan habis angkat mayat jadi…" tutur Destiya.
"Jadi?…" sambung Bernard yang kini sudah berada di hadapan Destiya sembari mengangkat satu alis.
"Hmm… ja-jadi badan elu masih bau amis" ucap Destiya sembari memalingkan wajahnya.
"Udah lah Des, mereka udah mandi sebelum kesini ya kali bau amis langsung main nyelonong masuk kemari" sela Liliy.
"Nah cakep tuh" memiringkan kepala menghadap Liliy.
"Udah clear kan permasalahan nya. Jadi gue boleh kan numpang tidur di sini" ujar Bernard sambil memainkan kedua alisnya.
"Terserah" akhirnya keluar juga kata kata keramat kaum wanita salah satunya Destiya. Ia langsung membalikkan badan menuju kasur nya yang di samping terdapat Liliy yang sedang makan cake.
Destiya melirik sekilas ke arah Bernard yang sudah terlelap.
"Mau?" tawar Liliy.
"Nanti, gue masih kenyang" tolak Destiya namun pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh ke Liliy.
"Hmm… ok" menganggukkan kepala.
"Mas?" panggil Liliy sembari menggoyang lengan Reyhan.
"Mau cake enggak?" menyodorkan piring yang ia bawa ke pangkuan Reyhan.
"Eh,, terus kamu…"
"Enggak habis makan sendiri. Toh aku udah kenyang" sela Liliy.
"Kamu mah gitu makanan enak di makan sendiri, terus kalau makanan enggak enak baru di kasih ke yang lain" ucap Rey sembari menekuk wajahnya.
"Uluh…uluh bayi besar lagi ngambek nih" Liliy mengusap rambut Reyhan dari belakang.
"Bang Jho lihat nih. Si Rey ngambek kayak anak perawan aja, wkwkwk…"
Jhonatan memutar kepala nya ke arah Liliy yang sedang menggoda Reyhan yang sedang ngambek.
"Wah…wah…gitu aja ngambek Rey" ledek Jhonatan.
"Hiya… anak perawan Joon Woo ngambek nih cerita nya" Samuel nimbrung yang habis dari kamar mandi.
"Ck,, auh ah gelap" Rey memutuskan makan cake dari pada menanggapi ocehan yang tidak jelas.
"Hahaha…eeaa…eeaa…" ledek Samuel sambil mencolek dagu Reyhan.
"Hmmm berisik" Bernard menutup kuping nya menggunakan bantal.
__ADS_1
"Oh ya gue hampir lupa" menepuk jidat nya sendiri. "Eh Liy gue mau tanya?" tanya Samuel yang sudah berada di hadapan Liliy dengan kedua kaki nya ia lipat ke depan.
"Tanya apa?" kini Liliy balik tanya ke Samuel, tak lupa ia memangku boneka beruang kado dari kakaknya.
"Tentang tadi. Kok bisa elu seperti itu" kini mimik wajah Samuel terlihat serius tanpa memperlihatkan wajah bercandanya.
Yang awal nya sebagian menonton film kini teralihkan ke topik pembicaraan Samuel dan Liliy , begitu juga Bernard yang terbangun akibat suara bising.
"Huft… gue sendiri juga enggak tau Sam"
"Maksud mu?" tanya Samuel.
"Gue tadi dengar suara tepat di telinga gue. Gue pikir si Destiya yang ngomong ternyata Destiya enggak ngomong apa apa ke gue" ucap Liliy sembari minum air putih yang berada di atas nakas.
"Terus suara nya perempuan persis suara Destiya tapi ini agak medok kayak orang Jawa tengah ngomong nya. Ya udahlah gue dengerin sampai selesai, dan elu tau dia ngomong apa?" Liliy mengawasi sekitarnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ngomong apa dek?" sambung Reyhan.
Liliy memberikan kode ke semua orang agar mendekat"sini, nanti enggak kedengaran.Gue enggak mau ngomong nya keras keras".
"Ish…" Destiya mencubit kecil ke paha Liliy.
"Aw…" Liliy mendelik ke arah Destiya sembari mengusap pahanya sendiri mengunakan kaki boneka.
"Apa sih!" geram Liliy.
Liliy kembali melanjutkan ucapan tadi yang sempat terjeda " si suara cewek itu : "sudah ikhlas kan masalah ini. Ini takdir mu , kau tidak boleh berlama lama di alam manusia. Dunia mu sudah beda, pergi lah ikuti cahaya terang itu dan kau akan menemukan".
Wusshh… wusshh… wusshh…
Seketika kamar Destiya terasa dingin , sedingin di dataran tinggi. Bukan hanya itu korden jendela yang tadi nya diam tiba tiba bergerak dengan sendiri nya tanpa ada sentuhan tangan manusia. Begitu pula suhu AC kamar Destiya berada di suhu 25°. Tidak mungkin angin AC bisa menggerakkan korden yang cukup berat itu.
"Des besarkan dong suhu AC elu, dingin nih badan gue sampai merinding nih bulu kuduk ku" Jhonatan memperlihatkan bulu tangan nya berdiri sendiri.
"Oh… ok ok Gue cari remote AC" Destiya beranjak dari tempat tidurnya untuk mencari remote AC.
" Loh ini kan suhu nya udah gue ubah ke 25° ya kali dingin nya mengalahkan suhu 17°" tutur Destiya.
"Haa… masa sih Des, coba sini remote nya" ucap Jhonatan menghampiri Destiya yang kelihatan sedang kesusahan.
"Liy tadi elu ngomong apa sih. Kok perasaan gue jadi enggak enak elu ngegosip alam sebelah apa gimana sih" ujar Bernard sembari menutup tubuh nya menggunakan selimut tebal sampai batas leher.
" Apa iya" Liliy langsung mencari bantal untuk menutupi telinga nya.
Tiba tiba
Tok…tok…tok…
Semua orang yang berada di kamar Destiya langsung menjerit histeris.
Bersambung…
__ADS_1