
Happy reading 😘😘😘
Di dalam benak, Alif tak henti-hentinya melangitkan rasa syukur kepada Illahi karena telah meng-ijabah doa-doanya yang selalu ia lantunkan di sepertiga malam.
Rasa bahagia yang membuncah, membuat Alif sejenak terlupa pada ujian yang sudah bersiap menghadang perjalanan cinta mereka ....
Binar di wajah Alif seketika meredup kala terbayang kejadian satu tahun yang silam. Kejadian yang membuatnya terpaksa mengucap janji akan menerima, menjaga dan melindungi seseorang. Meski sekalipun, ia tidak pernah menyentuh orang itu. Menyentuh dalam artian 'bersenggama'.
Dan kini, janji yang dulu pernah ia ucapkan malah menjadi boomerang. Sungguh, Alif tidak berniat mengkhianati hatinya. Hati yang selalu mencinta dan setia pada satu wanita, dia ... Ayunda Chayra Putri. Bahkan sampai saat ini dan mungkin sampai kelak dunia berhenti berputar, hati Alif hanya untuk Chayra. Tidak akan pernah terbagi untuk wanita lain. Andai bisa memutar waktu, Alif ingin berubah menjadi seorang pria yang egois. Sehingga ia tidak perlu memperdulikan seseorang yang akan bunuh diri di hadapannya dan membuatnya terpaksa melisankan janji.
Alif menatap sendu wajah teduh Chayra. Ia usap pipinya dan berkali-kali melabuhkan kecupan di kening.
Ingin rasanya, Alif membagi beban yang tengah membelenggu jiwa. Namun, ia terlalu takut jika Chayra akan kembali terluka dan teramat kecewa padanya. Sungguh, membayangkannya saja Alif tak sanggup. Apalagi jika Chayra benar-benar kembali terluka dan kecewa.
Yaa Allah, yaa Robb ... ampuni hamba-Mu ini. Hamba mohon, beri petunjuk-Mu agar hamba tak kembali salah langkah. Sungguh, hamba hanya menginginkan Chayra dan hanya mencintainya. Kuatkan dan tegarkan hatinya jika tabir yang tertutup rapat itu mulai terbuka. Yaa Allah, jadikanlah Chayra satu-satunya bidadari dunia yang akan menjadi sayap bagi hamba untuk terbang menuju jannah-Mu kelak ....
Kalimah pinta ia langitkan untuk merayu Sang Maha Cinta dengan harapan ... ter-ijabah.
Rasa yang kembali berkecamuk di dalam dada, memaksa setetes embun lolos dari telaga bening dan jatuh membasahi netra yang masih terpejam. Mengusik jiwa yang tengah terbuai di alam mimpi.
Perlahan, Chayra membuka kelopak mata. Ia terkesiap saat melihat kedua sudut netra Alif terbingkai titik-titik embun. Terbesit tanya di dalam hati, mengapa suaminya itu menangis.
"Hubby ...." Chayra menyapa Alif dengan suaranya yang terdengar lembut. Lantas ia beranjak dari posisi berbaring dan menyandarkan punggungnya pada hearboard.
"Kenapa bangun, Yang? Pingin lagi ya?" candanya disertai seutas senyum untuk menutupi kesenduan.
__ADS_1
Bukannya menjawab kalimat tanya yang dilisankan oleh Alif, Chayra malah berganti melisankan tanya. "Bie, kenapa kamu menangis?" Chayra menatap heran. Ia ulurkan tangan untuk menyeka kedua sudut netra Alif yang basah.
"Hmm, ini tangisan bahagia Yang. Mas Alif teramat sangat bahagia karena telah memiliki Sayang seutuhnya," kilahnya sembari membelai rikma nan hitam dan melabuhkan kecupan singkat di bibir.
"Benarkah?"
"Heem, tentu benar Sayang. Kamu adalah sumber kebahagiaan mas Alif." Direngkuhnya tubuh Chayra lantas dibawanya ke dalam pelukan. Hanya dengan memeluk sang pujaan hati dan menghirup aroma tubuhnya, Alif kembali merasa tenang.
"Bie, aku mau mandi --"
"Sudah larut malam Yang. Pasti airnya dingin banget."
"Nggak pa-pa Bie, 'kan ada air hangat. Jadi nggak bakal kedinginan."
"Memangnya, boleh ya mandi junub dengan menggunakan air hangat?" Alif melisankan tanya dan sedikit merenggang pelukan. Sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya. Hanya saja, Alif ingin menguji dan mendengar jawaban yang akan terlisan dari bibir Chayra, seorang guru Sekolah Dasar yang memiliki pemikiran cerdas.
Chayra tersenyum. Ia usap pipi suaminya dengan jemari tangannya yang lembut. "Boleh Bie. Berdasar literatur yang ada, tidak ditemukan ayat-ayat al-Quran dan sunah Nabi yang menyatakan bahwa tidak sah mandi junub dengan air hangat yang telah dipanaskan dengan panci, periuk, dan sebagainya. Tentu saja yang tidak kemasukan benda-benda najis, seperti darah, bangkai, kotoran manusia atau benda najis lainnya. Di antara dalil yang menunjukkan boleh mandi janabah dengan air hangat, salah satunya adalah dari Aslam al-Qurasyiy al-‘Adawy, mantan budak Umar bin Khattab r.a, beliau bercerita bahwa Umar mandi dengan air hangat."
"Begini Bie penjelasannya, jika aku salah mohon dimaafkan dan diluruskan ya. Jangan dibully! Karena aku mudah mewek seperti penulis kisah kita." Ucapan Chayra menggelitik indra pendengaran. Namun Alif berusaha menahan tawa yang serasa ingin meledak dengan melipat bibirnya.
"Iya Yang, mas Alif janji nggak akan membully Sayang," ujarnya sembari mengangkat jari kelingkingnya ke udara.
Chayra kembali melanjutkan ucapannya yang sejenak terjeda. "Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah saw masuk menemuinya sementara ia telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda agar Aisyah jangan menghangatkan air dengan sinar matahari karena bisa menyebabkan penyakit sopak. Penyakit sopak yaitu penyakit kulit berupa belang-belang di tangan atau kaki, yang biasa kita sebut penyakit Vitiligo. Vitiligo adalah penyakit di mana tubuh kehilangan melanin atau zat pewarna kulit tubuh sehingga kulit kehilangan warna aslinya menjadi putih pucat. Jadi bisa disimpulkan bahwa mandi janabah atau mandi junub dengan menggunakan air hangat yang dipanaskan dengan panci, periuk, dan sebagainya dibolehkan. Sedangkan air yang dihangatkan dengan sinar matahari hukumnya makruh." Chayra kembali menjeda sejenak ucapannya dan menerbitkan senyum.
"Ingat, Bie. Islam adalah agama yang memberi kemudahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185. Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya dan tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-Nya."
Netra Alif berbinar. Kekaguman terhadap Chayra semakin bertambah. Dia benar-benar tidak salah menambatkan hati kepada seorang Hawa yang memiliki paras cantik dan berhati mulia serta memiliki keluasan ilmu agama.
__ADS_1
"Paket komplit --," gumamnya yang didengar oleh Chayra.
"Apanya yang paket komplit, Bie?" tanya yang terlisan diikuti tautan kedua pangkal alis.
"Bidadari-nya mas Alif, Ayunda Chayra Putri. Seorang wanita saleha berhati mulia, berparas cantik, dan memiliki ilmu agama yang luas."
"Hiperbola, kamu Bie. Aku masih harus banyak belajar mengenai ilmu agama. Bukan hanya dari ustadz atau kyai, tapi dari kamu juga Bie. Aku tau, Hubby hanya mengujiku. Sebenarnya, Hubby sudah sangat mengerti mengenai hukum mandi junub dengan menggunakan air hangat 'kan?"
Alif tergelak lirih dan menoel hidung mancung istrinya. "Kalau ngomong suka bener, Yang."
"Iya dong, Chayra gitu loh," ujarnya diikuti kerlingan mata dan lengkungan bibir.
Tanpa aba-aba, Alif menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dengan sekali hentakan, ia mengangkat tubuh Chayra dan menggendongnya ala bridal style.
"Ehhh, mau ngapain Bie? Turunkan aku! Aku malu Bie." Chayra menutupi harta bagian atasnya dengan kedua tangan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Alif. Meski sudah melakukan ritual penyatuan raga, Chayra tetap saja merasa malu.
Alif tergelak. Ia sama sekali tidak mengindahkan ucapan Chayra dan membawa istri tercintanya itu masuk ke dalam kamar mandi.
Tidak usah dibayangkan, apa yang terjadi selanjutnya di dalam kamar mandi. 🙈
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Tetap semangat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan Kakak-kakak ter love 😘
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan 😉
Trimakasih dan banyak cinta 💞