Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Hikmah


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Setelah menikmati kelezatan nasi gudeg, Maria mulai membuat adonan onde-onde dan getuk lindri.


Alif, Nakula, dan Lia tidak hanya tinggal diam. Mereka pun turut membantu Maria.


Sangat disayangkan, gawai milik Alif tertinggal di dalam mobil. Sehingga beberapa panggilan telepon dan vidio call dari Chayra--terlewatkan.


Sementara di rumah, Chayra merasa gelisah. Berulang kali ia berusaha menghubungi Alif, tetapi sia-sia. Alif tidak menjawab panggilan telepon ataupun vidio call darinya. Lalu ia mengirim rangkaian pesan yang panjang seperti kereta api. Namun sia-sia. Tak satupun pesan yang dikirimnya mendapat balasan dari Alif.


Sambil berjalan mondar-mandir, Chayra tak henti-hentinya melangitkan pinta. Semoga Illahi senantiasa menjaga dan melindungi Alif di manapun suaminya itu berada.


Kita tinggalkan dulu Chayra yang tengah gelisah dan kembali ke onde-onde.


Proses membuat onde-onde dan getuk lindri ternyata tidak sesulit yang dibayangkan oleh Alif. Dengan tangan terampilnya, Maria mampu membuat onde-onde dan getuk lindri sesuai dengan permintaan Chayra.


"Bu, trimakasih sudah membantu membuatkan onde-onde dan getuk lindri sesuai dengan permintaan istri saya," ucap Alif sambil menata onde-onde dan getuk lindri yang sudah matang di kotak makan.


"Sami-sami, Mas. Anggap saja, onde-onde dan getuk lindri ini, sebagai ungkapan rasa terima kasih dari kami. Jika Mas Alif tidak mengulurkan tangan, mungkin malam ini kami akan tidur dengan perut kosong lagi." Maria tersenyum getir kala terbayang malam-malam yang ia lewati bersama kedua buah hatinya dengan menahan rasa lapar yang sebenarnya sangat menyiksa.

__ADS_1


"Bukankah, Nakula berjualan kacang dan jagung rebus, Bu? Kenapa, Ibu, Nakula, dan Lia tidak memakan kacang dan jagung rebus saja untuk mengisi perut?"


Barisan kalimat tanya yang dilontarkan oleh Alif, memecah kaca lamun. Maria menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Kacang dan jagung rebus yang dijual oleh Nakula, hanya titipan dari bu Asih, tetangga kami. Jadi, kami tidak berani memakannya. Kecuali jika bu Asih memberi kelebihan. Atau Nakula mempunyai uang untuk membeli kacang dan jagung rebus itu," terangnya disertai raut wajah sendu.


"Maaf ya, Bu. Saya kira, kacang dan jagung rebus yang dijual oleh Nakula ... hasil rebusan Ibu sendiri." Nada suara Alif menyiratkan rasa sesal. Ia menyesal sebab telah melukis sendu di wajah wanita paruh baya yang tengah berdiri di hadapannya itu karena kalimat tanya yang terlontar.


Maria mengulas senyum dan mengusap bahu Alif. "Tidak perlu meminta maaf Mas Alif. Nah, onde-onde dan getuk lindrinya sudah matang semua. Tinggal menaburi parutan keju di atas getuk lindri. Ibu berharap, semoga sesuai dengan keinginan istrinya Mas Alif."


"Aamiin, saya yakin sesuai kog Bu." Sebaris senyum terlukis indah di wajah Alif.


Di dalam benak, ia melafazkan kalimat syukur kepada Illahi yang telah mempertemukannya dengan Nakula, Maria, dan Lia. Tiga insan yang ternyata membutuhkan uluran tangan serta mampu membantunya mewujudkan keinginan Chayra.


Menit berikutnya, Alif selesai menata onde-onde dan getuk lindri yang akan ia persembahkan untuk sang isri tercinta, Ayunda Chayra Putri.


"Saya pamit, Bu. Insya Allah, lain waktu--saya akan berkunjung ke rumah ini bersama Chayra, istri saya. Mengenai penyakit kanker yang Ibu derita, Ibu tidak perlu khawatir lagi. Karena saya akan berusaha menyembuhkannya," tutur Alif lalu mencium punggung tangan Maria dengan takzim.


Ucapan Alif bagai oase di tengah padang gersang dan menumbuhkan lagi harapan yang sempat pupus.


"Terima kasih, Mas Alif. Semoga Tuhan selalu memberkati kalian."

__ADS_1


Maria mengusap lembut kepala Alif disertai manik mata yang terbingkai kaca-kaca.


"Nakula, Lia, mas Alif pamit ya. Kalian harus menjaga Ibu. Patuh dan sayangi Ibu. Jangan sekali-kali berkata kasar dan menyakiti hati Ibu," pesannya sembari mengacak pelan rambut Nakula dan Lia.


"Siap Mas Alif." Nakula dan Lia menyahut dengan kompak diiringi senyum yang terkembang.


Nakula, Maria, dan Lia, mengantar Alif hingga sampai di depan gapura. Tangan mereka melambai ketika Alif mulai melajukan kendaraan besinya.


Sesampai di rumah, Alif bergegas menemui Chayra. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan onde-onde dan getuk lindri yang diingini oleh istrinya itu.


"Assalamu'alaikum, Chayra sayang." Alif setengah berteriak dan berjalan dengan langkah lebar menuju kamar yang berada di lantai dua.


Lalu dibukanya pintu kamar itu dengan perlahan dan diedarkan pandangan netra ke segala arah.


"Chayra --"


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mohon maaf, UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. Mon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏🙏


Terima kasih dan love love sekebon 😘😘😘


__ADS_2