
Happy reading 😘😘😘
Sang Dewi malam telah hadir dengan menyentuhkan sinarnya. Namun, Alif belum juga memberi kabar.
Chayra semakin dirundung gelisah. Ia merasa cemas dan berpikiran sesuatu yang buruk tengah menimpa suaminya.
Yaa Allah, Yaa Robb ... lindungilah suami hamba .... Pintanya yang terlisan di dalam kalbu.
Drtttt ... drtttt ....
Suara getaran gawai yang tergeletak di atas nakas, mengalihkan atensi Chayra yang semula tertuju pada hamparan langit malam.
Chayra mengulurkan tangannya untuk meraih gawai itu. Seketika netranya berbinar saat membaca nama yang tertera pada layar gawai ... 'Hubby'.
"Assalamu'alaikum Mas," sapanya setelah menggeser layar gawai.
"Wa'alaikumsalam Sayang --"
"Mas, kenapa baru meneleponku? Dan kenapa dari tadi, nomer handphone-mu nggak bisa dihubungi? Sebenarnya kamu berada di mana sih, Mas? Atau jangan-jangan, kamu punya istri lagi?" Chayra mencecar suaminya dengan kalimat tanya.
"Astaghfirullah, hanya kamu istrinya mas Alif, Yang. Nggak ada yang lain. Maaf, tadi handphone mas Alif kehabisan baterai. Please, jangan berpikiran macam-macam ya, Yang!"
"Hmmm. Mas Alif belum menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana, Yang?"
"Mas Alif berada di mana?"
"Owhhh. Mas Alif di apartemen yang disewa oleh Rafa. Malam ini, mas Alif bermalam di sini --"
"Kenapa bermalam di situ, Mas? Kenapa nggak pulang? Aku rindu kamu, Mas. Sangat rindu --" ucapnya diiringi isak.
Ulu hati Alif terasa nyeri saat mendengar isak tangis Chayra. Ingin rasanya, ia segera berlari dan mendekap erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mas Alif juga merindukanmu, Yang. Sangat merindukanmu."
"Jika Mas Alif benar-benar merindukan aku, segera pulang ya Mas! Aku mohon!" pintanya mengiba.
"Insya Allah, Yang. Mas Alif nggak bisa berjanji karena ada hal penting yang harus mas Alif selesaikan."
"Huhhh, alibi --"
Chayra memutus sambungan telepon kemudian mematikan gawainya.
__ADS_1
Akhir-akhir ini, Chayra sangat sensitive. Suasana hatinya pun mudah berubah. Terkadang ia menangis dan marah tanpa sebab yang pasti. Nafsu makannya pun berkurang. Entah apa yang terjadi padanya.
....
Chayra membenamkan wajahnya di bantal sambil menangis tergugu. Sesekali ia memukul-mukul bantal guling, menumpahkan kekesalannya.
"Kamu jahat, Mas. Jahat banget --"
"Siapa yang jahat, Yang?"
"Mas Alif yang jahat," jawabnya tanpa menatap lawan bicara.
"Beri suami kamu itu hukuman, Yang!"
Chayra mengangguk samar dan perlahan mengangkat kepalanya.
"M-mas Alif?" Chayra terkesiap saat mendapati Alif berada di sisinya.
Berulang kali, Chayra mengerjapkan mata dan menelusuri pahatan tampan dengan jemari lentiknya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa sosok Adam yang berada di hadapannya itu benar-benar Alif, suami yang sangat dirindukan olehnya.
"Mas Alif, benarkah ini kamu?" Nada suara Chayra terdengar bergetar.
Alif tersenyum dan meraih kedua tangan Chayra lantas mencium buku-buku jari istrinya itu.
"Mas --"
Chayra memeluk tubuh Alif dengan erat dan Alif pun membalasnya.
"Maaf Yang. Maaf telah membuat kamu menangis dan bersedih. Maaf telah membuat kamu merindu."
"Aku memaafkanmu, Mas. Jangan pergi jauh dari-ku! Aku mencemaskanmu, Mas."
"Iya Sayang --"
Alif sedikit merenggang pelukan. Lalu ditatapnya lekat manik mata yang terbingkai titik-titik air.
"Yang, besok pagi ... mas Alif harus kembali menemui Rafa. Mas Alif minta, kamu dan Elmira tetap berada di rumah. Jangan pergi ke manapun! Besok, akan ada tamu istimewa. Masaklah yang banyak untuk menyambut tamu kita!" ucapnya tanpa melepas tatapan.
"Siapa tamu istimewanya, Mas? Papa dan mama? Atau opa dan oma?"
Alif menggeleng diikuti seutas senyum yang terbit menghiasi wajah rupawannya.
"Bukan, Yang --"
"Lalu, siapa?"
__ADS_1
"Papa dan mama kandung Elmira --"
Bola mata Chayra berotasi sempurna seiring bibirnya yang terbuka lebar.
"Benarkah?"
"Iya Sayang."
"Jadi, papa dan mama mbak Elmira masih hidup?"
"Iya, Yang. Mereka masih hidup. Insya Allah, papa dan mama Elmira sampai di Kairo besok pagi. Jangan beritahu Elmira dulu sebelum kedua orang tua kandungnya itu tiba di Kairo!"
"Iya, Mas. Aku akan menutup mulutku. Aku yakin, mbak Elmira pasti sangat bahagia ketika bertemu dengan papa dan mamanya. Sudah tiba saatnya ... mbak Elmira merengkuh kebahagiaan setelah sekian lama berkawan dengan derita."
"Kamu benar, Sayang."
"Mas --"
"Hehem --"
"Aku ingin --"
"Aku pun ingin, Yang --"
Chayra mengalungkan tangannya di leher Alif. Sementara tangan Alif melingkar di pinggang ramping Chayra. Keduanya memangkas jarak dan saling menyentuhkan bibir sebelum memulai ritual yang mereka rindu, penyatuan raga bernilai ibadah ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Alhamdulillah bisa double UP meski nggak panjang 😁
Mon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo 😊🙏
Dukung dan semangati author dengan selalu meninggalkan jejak like 👍
Beri komentar
Tabok ❤ untuk favoritkan karya
Tabok juga ⭐⭐⭐⭐⭐ (rate 5)
Beri gift atau vote seikhlasnya
Trimakasih dan banyak cinta 💞
__ADS_1