
Happy reading 😘😘😘
Zidan menghembus nafas kasar setelah Elmira mengakhiri sambungan teleponnya. Seolah ia bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh Elmira jika mengetahui--Chayra tengah menunggu Alif di depan ruang operasi bersamanya.
Zidan berpesan pada Chayra supaya tetap bersikap tenang ketika menghadapi Elmira. Ia juga berpesan, apapun yang nanti dilakukan atau dikatakan oleh Elmira, jangan sampai menggoyahkan niat untuk tetap bertahan di sisi Alif.
Chayra mengangguk patuh. Ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Elmira. Kali ini Chayra tidak ingin terlihat lemah dan bodoh di hadapan istri pertama Alif. Ia harus memperjuangkan cintanya. Karena ia pun berhak atas Alif.
Ruang operasi terbuka perlahan. Nampak seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Zidan dan Chayra lantas beranjak dari kursi untuk menyambut sang dokter.
Chayra seketika meluruhkan tubuh untuk melakukan sujud syukur setelah dokter menyampaikan bahwa operasi yang dijalani oleh Alif telah berhasil. Dan saat ini, Alif akan dipindah ke ruang transisi.
"Zi, di mana suamiku?" Suara Elmira mengalihkan atensi Zidan, Chayra, dan dokter yang tengah berbincang. Seketika ketiganya menoleh ke arah asal suara.
Elmira teramat murka ketika menyadari bahwa Chayra berada di sana. Ia menyorot tajam dan bersiap melayangkan tangannya ke arah wajah Chayra.
__ADS_1
Dengan sigap, Chayra menangkis tangan Elmira yang hampir menyentuh pipinya, lantas menghempaskan tangan itu dengan kasar. Sorot mata Chayra pun tak kalah tajam.
"Dasar wanita pembawa sial. Sudah aku bilang, kau harus pergi meninggalkan Alif. Tapi kau tetap tidak mau pergi sehingga keegoisanmu menyebabkan Alif celaka. Jika suamiku meninggal karenamu, aku tidak akan memaafkanmu --" Elmira meninggikan intonasi suara, meluapkan amarah.
Chayra tidak tinggal diam. Ia membalas ucapan Elmira dengan tenang. Namun penuh penekanan. "Justru kamulah wanita pembawa sial. Karena kamu, mas Alif harus mengorbankan masa depan dan kebahagiaannya. Karena kamu, mas Alif tertekan dan tersiksa. Justru kamulah yang egois. Kamu tidak pernah memahami pengorbanan mas Alif, sehingga kamu tidak tau caranya berterima kasih. Asal kamu tau, kamulah penyebab mas Alif melakukan kekhilafan terbesar. Karena kekhilafan itu, mas Alif dihantui oleh penyesalan dan rasa bersalah. Dia menderita setelah menikah denganmu. Dia terpaksa menjadi suami yang zalim karenamu. Andai kamu tidak melakukan kebodohan itu, mas Alif tidak akan pernah mengucap janji yang sebenarnya tidak ingin diucapkan olehnya."
Elmira mengepalkan tangan. Kentara sekali api amarahnya semakin membara karena ucapan Chayra. Ia tidak menyangka, madunya pun bisa berlisan kata seberani itu.
Elmira berpikir, Chayra sosok wanita yang lembut, lemah, dan bodoh. Tetapi tak disangka, Chayra bisa menjelma menjadi singa betina yang mengaum dan siap menghadapi siapa pun yang berusaha menyerangnya.
"Kau --" Elmira menunjuk wajah Chayra dan ingin mengumpat madunya itu dengan kata-kata kasar. Namun Zidan segera menarik lengan Elmira dan menyeretnya pergi dari tempat itu.
"Diam, El!" Zidan sudah tidak bisa menguasai emosinya lagi. Sehingga ia pun membentak Elmira.
Elmira tersentak. Baru kali ini Zidan membentaknya dan terlihat sangat murka.
Zidan terus menyeret Elmira dan membawanya masuk ke ruangan Dzikra. Dia mengibaskan tangan Elmira dan menyuruh wanita itu untuk duduk.
"El, mulai detik ini--kamu harus belajar menerima kenyataan. Alif tidak pernah mencintaimu. Dia menikahimu karena terpaksa. Dan sesuatu yang dipaksakan tidak bakal mendatangkan kebaikan. Kamu, Alif, dan Chayra berhak bahagia. Bebaskan Alif dan relakan dia bahagia. Alif sudah banyak berkorban demi kamu dan Dzikra. Tidak adakah sedikit saja belas kasih untuk orang yang telah menyelamatkan nyawamu? Jika Alif tidak menolongmu saat itu, pasti kamu sudah berada di neraka. Itu pun jika Allah mengijinkan malaikat maut mencabut nyawamu. Namun jika Allah berkehendak lain. Kamu tetap hidup, tetapi cacat seumur hidup dan tidak ada satu orang pun yang berbelas kasih kepadamu." Zidan menjeda sejenak ucapannya dan mendaratkan bobot tubuh di samping Elmira.
__ADS_1
"Aku sudah tau semuanya, El. Bukan hanya kekasihmu saja yang pernah menanam benih di rahimmu. Tetapi ayah angkat dan kakak angkatmu pun pernah. Kamu diusir dari rumah setelah ibu angkatmu mengetahui perbuatan terlarang yang kalian lakukan. Dan kekasihmu mencampakkanmu karena dia tau, bukan hanya dia saja yang menanam benih. Setelah melahirkan Dzikra, kamu berniat untuk bunuh diri karena tidak ada satu orangpun yang bersedia bertanggung jawab dan menerima kamu." Zidan meraup udara sebelum melanjutkan ucapannya.
"Asal kamu tahu, El. Setelah menikahimu, Alif tertekan dan tersiksa. Sebagai sahabatnya, aku memohon kepadamu. Bebaskan Alif dan menikahlah denganku. Aku bersedia menjadi imam pengganti untuk menggantikan posisi Alif. Aku berjanji, akan menerima dan mencurahimu dengan kasih sayang. Aku juga akan menyayangi Dzikra seperti putriku sendiri. Tentang masa lalumu, aku tidak akan mempermasalahkannya. Kita buka lembaran baru untuk meraih sakinah, mawadah, warahmah."
Elmira bergeming. Ia berusaha menelaah semua kata-kata yang terlisan dari bibir Zidan.
Di atas sajadah yang terbentang, Chayra menengadahkan kedua telapak tangan seraya melangitkan pinta kepada Illahi Robbi untuk kesembuhan suaminya.
Chayra meyakini sepenuh hati, setelah melewati ujian yang silih berganti, Sang Penulis Skenario kehidupan akan menyentuhkan kebahagiaan untuknya dan Alif.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Alhamdulillah bisa UP. Meski ujian tengah menghampiri. Kemarin sore, kamar author banjir lokal karena atapnya terbang terbawa angin. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Semua selamat dan tidak kurang suatu apapun. Tetapi mohon maaf, author belum bisa double UP. Semoga Kakak-kakak ter love masih berkenan mengawal kisah Al-Cha hingga END.
Mohon maaf apabila ada salah kata dan bertebaran typo.
Trimakasih dan banyak cinta 😘💖
__ADS_1