
Happy reading 😘😘😘
Mentari pagi kota Kairo menyapa dengan kehangatan sinarnya berteman gumpalan awan putih yang membentuk Maha Karya Sang Pencipta.
Pagi ini, Alif membawa Chayra berjalan-jalan sebentar setelah menikmati menu sarapan yang dikirim oleh Zidan melalui anak buahnya. Mereka berkunjung ke sebuah bangunan tua yang bernama ‘Bab Zuweyla’ atau terkenal dengan sebutan Pintu Selatan Kota Kairo.
Bab artinya gerbang atau pintu. Bab Zuweyla merupakan salah satu pintu atau gerbang yang mengelilingi pagar ibu kota, tepatnya pintu selatan kota Kairo.
Bab Zuweyla terletak tidak jauh dari masjid Al-Azhar, Masjid Saidina Husein dan juga satu jalur mengarah ke pasar Attabah atau yang sering dikenal sebagai pusat perbelanjaan grosir di Kairo.
Alif dan Chayra berjalan beriringan dengan saling menautkan tangan. Keduanya sangat menikmati kebersamaan mereka hari ini.
"Sayang, kita pulang ke apartemen ya? Zidan pasti sudah menunggu," ucapnya di sela-sela obrolan mereka.
"Iya Mas." Chayra menjawab singkat diiringi senyum yang dipaksakan. Ada rasa tidak rela jika kebersamaan mereka saat ini berakhir.
Dan benar dugaan Alif. Zidan sudah menunggu di kafe yang terletak tidak jauh dari apartemen. Zidan sengaja tidak memberitahu Alif bahwa ia sudah sampai. Sebab ia tidak ingin merusak moment indah yang tengah tercipta di antara Alif dan Chayra.
"Hai Bro. Assalamu'alaikum --" sapanya sambil menepuk bahu Zidan.
"Wa'allaikumsalam, Bro --" Zidan beranjak dari posisi duduk lantas merangkul sahabatnya itu.
"Ayo duduk dulu!" titahnya seraya mempersilahkan Alif dan Chayra untuk duduk. Ketiganya lantas mendaratkan bobot tubuh di kursi yang terbuat dari ukiran kayu.
"Sudah lama menunggu, Zi?"
"Belum. Baru setengah jam," jawabnya dengan gaya bicara yang terdengar santai.
"Seharusnya, tadi kamu langsung menghubungiku, Zi. Biar nggak menunggu kami terlalu lama --"
"Santai aja, Lif. Kamu dan Chayra membutuhkan waktu untuk berdua. Kalau perlu, ajaklah Chayra berkeliling Kairo supaya istrimu itu selalu bahagia. Ya 'kan, Ra?"
__ADS_1
Chayra menanggapi ucapan Zidan dengan hanya mengangguk dan mengulas senyum setipis kertas.
"Oya, kalian mau minum apa?"
"Nggak usah Mas. Tadi, kami sudah nge-teh," tolak Chayra sopan.
"Mmm ... baiklah. Lima menit lagi, kita berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Dzikra dan menemui Elmira. Kamu sudah siap 'kan, Ra?" Zidan sekilas melirik Chayra dengan ekor matanya. Ia ingin memastikan, Chayra sudah siap menemui istri pertama Alif atau mungkin ... belum. Zidan bisa mengerti perasaan Chayra saat ini dari mimik wajahnya. Meski Chayra berusaha menutupinya dengan seutas senyum, kesenduan yang tengah dirasa olehnya tetap tidak bisa disembunyikan.
"Insya Allah, a-ku sudah siap." Chayra menjawab ragu. Sebenarnya, ia belum siap bertemu dengan istri pertama suaminya. Ia takut, tidak bisa menahan rasa yang berkecamuk di dalam dada dan pada akhirnya, memilih untuk menyerah kemudian pergi selamanya dari kehidupan Alif.
"Sayang, jika kamu belum siap, jangan memaksakan diri!" tutur Alif sambil menggenggam erat tangan Chayra. Ditatapnya manik mata istri tercintanya itu dengan tatapan yang menyiratkan kecemasan. Bukan hanya Zidan yang bisa melihat kesenduan yang disembunyikan oleh Chayra. Namun Alif pun bisa melihatnya. Dan ulu hati Alif terasa nyeri karenanya. Ia teramat merasa bersalah terhadap wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mas, sekarang atau besok, akan sama saja. Aku ingin mengenal istri pertama kamu --"
"Baiklah, Yang. Jika memang benar Sayang sudah siap, kita berangkat sekarang. Namun satu hal yang mas Alif pinta, apapun yang terjadi ... tetaplah berada di sisiku!" pintanya tanpa mengalihkan tatapan.
Chayra bergeming. Ia tidak bisa berjanji untuk selalu berada di sisi Alif, pria yang telah membuatnya rela menyerahkan hati dan juga raganya.
Lima menit telah berlalu. Seperti yang diucapkan oleh Zidan, ketiganya berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Chevrolet berwarna copper.
Zidan memandu Alif dan Chayra berjalan melewati lorong rumah sakit menuju ruangan tempat Dzikra dirawat inap. Jantung Chayra berdegup lebih kencang dan kegugupan melanda saat mereka berjalan semakin mendekat. Berulang kali Chayra terlihat mengepalkan tangan dan mengatur nafasnya, sehingga membuat Alif semakin cemas. Ia takut, Chayra belum siap bertemu dengan Elmira.
"Sayang, lebih baik kita pulang ke apartemen. Mas Alif mencemaskan kamu --" ucapnya setelah ia menghentikan ayunan tungkai dan seketika Chayra pun ikut menghentikan ayunan tungkainya.
"Mas Alif nggak perlu cemas. Aku baik-baik saja," jawabnya berdusta. Yang sebenarnya, Chayra sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa takut dan gugup. Chayra takut menyaksikan pemandangan yang mungkin bisa membuat lukanya semakin menganga. Dan ia gugup bagaimana harus bersikap pada istri pertama suaminya.
"Heeiii, buruan! Kalian kog malah berhenti di situ? Kamar Dzikra di sini," ujar Zidan sedikit berteriak sehingga mengalihkan atensi Alif dan Chayra.
Chayra melepaskan tautan tangan Alif dan berjalan terlebih dahulu. Dengan langkah gontai, Alif menyusul istrinya.
Chayra melafazkan doa di dalam benak, memohon ketenangan hati kepada Illahi Robbi. “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal huzni, wal ajzi, wal kasali, wal bukhli, wal jubni, wal dholaid daini, wa gholabatir rijali. Ya Tuhanku, aku berlindung pada-Mu dari rasa sedih serta duka cita ataupun kecemasan, dari rasa lemah serta kemalasan, dari kebakhilan serta sifat pengecut, dan beban hutang serta tekanan orang-orang.”
"Assalamu'alaikum El --" Ucapan salam Zidan memecah kaca lamun. Wanita berparas cantik yang tengah duduk di sisi ranjang itu lantas berdiri untuk menyambut kedatangan Zidan.
__ADS_1
"Wa'allaikumsalam Zi --"
"Tebak, aku datang bersama siapa?"
Elmira menerbitkan senyum diiringi binar bahagia yang terlukis jelas di raut wajahnya. "Pasti, kamu datang bersama suamiku 'kan?"
Ulu hati Chayra terasa sangat nyeri saat mendengar ucapan Elmira. Ada rasa tidak terima jika wanita lain menyebut Alif sebagai suaminya.
"Kamu benar, El. Tapi Alif datang bersama Chayra. Istri keduanya --"
Kini Elmira juga merasakan ulu hatinya terasa nyeri. Meski ia sudah tau bahwa Alif menikah lagi, ada rasa tidak rela.
Sungguh sulit berada di posisi Alif saat ini. Inginnya menguatkan wanita yang dicinta. Namun sebagai seorang suami yang beristri dua, dia harus bersikap adil. Inilah resiko poligami. Syarat yang paling berat adalah mampu bersikap adil. Dan bagi pihak istri, harus mampu ikhlas berbagi.
Dengan langkah berat, Chayra menjejakkan kaki di ruangan--tempat Dzikra dirawat. Ia berusaha menerbitkan senyum, meski hatinya lara.
"Assalamu'allaikum, Mbak El --" sapa Chayra dengan nada suaranya yang terdengar lembut.
"Wa-wa'allaikumsalam. Chayra?"
Chayra mengangguk tanpa memudar senyum. "Iya, Mbak. Saya Chayra."
Elmira berjalan mendekat lantas memeluk Chayra. Ia tidak ingin terlihat buruk di mata Alif. Meski tidak rela, ia harus berlapang dada dan menerima kehadiran madunya dengan keikhlasan hati.
Tangan yang semula menjuntai diangkatnya untuk membalas pelukan Elmira. Keduanya saling berpeluk diiringi tangisan pilu di dalam hati.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Please, tahan emosi!!! Supaya si othor nggak keder nulis bab selanjutnya 🙏🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan tanpa menurunkan rate.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada salah kata atau typo yang bertebaran. Trimakasih dan salam love love sekebon 💗