
Happy reading 😘😘😘
Sang Dewi Malam mulai menyapa dengan terang sinarnya, berteman rasi bintang yang membentuk keindahan rupa Sang Pencipta.
Di bawah naungan langit-langit kamar, Alif dan Chayra bercengkrama sembari membaringkan tubuh mereka di atas ranjang dengan posisi saling berhadapan.
"Yang, sebenarnya ... sejak kapan Sayang mengetahui bahwa calon malaikat kecil kita sudah berada di dalam sini?" Alif melisankan tanya dan mengusap lembut perut istrinya yang masih terlihat datar.
"Sejak tadi pagi, Mas --" Chayra menjeda sejenak ucapannya dan mengulas senyum.
"Beberapa hari ini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Selain itu, sudah dua minggu ini--aku terlambat datang bulan. Jadi, kemarin sore aku berinisiatif untuk membeli alat tes kehamilan dan menggunakannya tadi pagi. Karena kurang yakin dengan hasilnya, aku mencelupkan lima test pack ke dalam uri-ne. Dan ternyata hasilnya sama. Aku positive hamil, Mas. Sebenarnya, aku ingin memberitahukannya langsung. Tapi, karena kamu terburu-buru pergi, jadi ... aku mengurungkannya Mas," sambungnya diikuti raut wajah cemberut.
"Maaf ya Yang --" Alif berucap lirih. Ia merasa bersalah pada Chayra.
"Mas Alif tidak perlu meminta maaf. Aku memaklumi kamu, Mas."
"Kamu memang seorang istri yang sangat pengertian, Yang. Trimakasih karena telah sering kali memaklumi aku."
"Hehem. Sebagai seorang istri, sudah sepatutnya aku memaklumi kamu, Mas. Asalkan, kamu tidak mengulangi kekhilafanmu yang dulu --"
"Iya Sayang. Aku berjanji, tidak akan megulangi kekhilafan yang pernah aku lakukan."
__ADS_1
"Meski, kelak akan hadir Elmira atau Nayla yang lain? Maksudku, seorang wanita yang ingin bunuh diri dan mendorongmu untuk mengucapkan janji sehingga kamu terpaksa menikahinya, Mas?"
"Iya Sayang. Semoga Allah senantiasa menjaga lisanku. Sehingga aku tidak mudah mengucapkan janji untuk menjaga dan melindungi wanita lain---selain kamu, Yang."
Chayra bergeming. Di dalam benak, ia meng-amini ucapan suaminya itu.
"Yang, hari ini--aku sangat bahagia dan teramat bersyukur karena Illahi telah mengijabah segala pintaku. Sungguh, betapa Maha Kasih Sayang-nya Allah kepada seorang pendosa seperti aku ini --" Ucapan Alif memecah hening yang sejenak tercipta. Raut wajahnya seketika berubah sendu dikala dia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pendosa.
"Mas, jangan menyebut dirimu sebagai seorang pendosa lagi! Namun sebutlah, seorang hamba yang masih harus memperbaiki diri!"
Alif menarik kedua sudut bibirnya dan mengusap pipi Chayra. "Baiklah, Yang. Mulai saat ini, aku tidak akan menyebut diriku sebagai seorang pendosa lagi. Namun, seorang hamba yang masih harus memperbaiki diri --"
"Nah ... itu terdengar lebih pas ditelinga, Mas. Karena sebenarnya, kita semua adalah seorang pendosa. Meski seorang pendosa, bukan berarti kita tidak berhak untuk mendapat ampunan dari-Nya 'kan? Dan untuk mendapat ampunan dari-Nya, maka sudah seharusnya kita memperbaiki diri. Kekhilafan yang pernah kita lakukan, anggaplah sebagai pelajaran hidup. Sehingga kita tidak melakukan kekhilafan yang sama," tutur Chayra bijak.
"Mas, besok ... antarkan aku ke rumah sakit ya!" pintanya sembari melingkarkan tangan di pinggang Alif.
"Iya Sayang. Besok, mas Alif akan mengantarmu ke rumah sakit, sekalian --" Alif sengaja memangkas ucapannya dan sedikit merenggang dekapan. Ia mengganti kata 'aku' dengan kata 'mas' untuk menyebut dirinya.
Chayra nampak penasaran. Dahinya mengerut dan kedua pangkal alisnya saling bertaut. "Sekalian apa, Mas?"
"Sekalian ... berpamitan dengan rekan-rekan dokter. Dua minggu yang lalu, mas Alif mengajukan resign --"
"Benarkah?" tanyanya tidak yakin diikuti bola mata yang berotasi sempurna.
__ADS_1
Alif mengangguk dan menerbitkan senyum. "Iya Sayang. Sesuai dengan janji yang pernah mas Alif ucapkan. Mas Alif akan resign setelah permasalahan rumah tangga kita terselesaikan. Dan sudah tiba waktunya, mas Alif kembali ke kampung halaman kita dan mengabdi di rumah sakit ICPA. Rumah sakit yang didirikan oleh ayah Abi dan bunda Kiran."
Netra Chayra berbinar seiring bibirnya yang melengkung. "Pasti, opa dan oma akan sangat senang, Mas."
"Iya Sayang. Sayang juga 'kan?"
"Itu sudah pasti." Keduanya saling melempar senyum dan menyatukan dahi, memangkas jarak lalu ... saling menatap dalam sebelum menyatukan bibir.
Kedua bibir yang menyatu--saling berpagut dan menyesap rasa manis yang menjadi candu.
"Mas, aku mencintaimu." Chayra berbisik setelah keduanya melepas pagutan bibir.
"Mas Alif lebih mencintaimu, Sayang. Sekarang, beristirahatlah. Besok pagi mas Alif akan mengantarmu ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter obgyn."
"Iya Mas." Chayra mengangguk patuh dan mengulas senyum.
Sepasang Adam dan Hawa itu mulai memejamkan mata dan berlayar ke pulau mimpi dengan saling berpeluk ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Segini dulu ya Kakak-kakak, UP nya. Mohon maaf jika ada salah kata atau bertebaran typo 😊🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih dan salam cinta 😘😘😘