Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Hanya Titipan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Di tengah perjalanan menuju rumahnya, Nakula meminta Alif untuk menepikan mobil di depan warung gudeg Yu Djum.


Nakula berkeinginan membeli nasi gudeg untuk ibu dan adiknya, sebab kedua orang yang teramat ia sayangi itu sedari tadi siang tidak mengisi perut mereka dengan nasi.


Namun saat ingin membayar dua porsi nasi gudeg, Alif terlebih dahulu menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada si penjual.


"Mas Alif, biar Nakula saja yang membayarnya --" Nakula berusaha untuk mencegah. Tetapi Alif mengacuhkan dengan mengulas seutas senyum.


"Mas Alif saja, Kula. Simpan uang kamu dan gunakan untuk kebutuhan yang lain!" tutur Alif.


"Tapi Mas --"


"Kali ini, mas Alif yang mentraktir kamu. Kelak jika kamu sudah dewasa dan menjadi orang sukses, gantian kamu yang mentraktir mas Alif," sahutnya seraya bercanda.


Senyum terbit menghiasi wajah Nakula kala mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Alif. Ia pun lantas mengucap kata terima kasih.


Dan di dalam hati, bocah berusia sepuluh tahun itu tak henti-hentinya melangitkan rasa syukur kepada Tuhannya. Tuhan yang ia yakini dengan sepenuh hati.


Alif memandu Nakula untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian ia pun mulai melajukan kendaraan besinya.


"Mas Alif --"


"Ya, ada apa Kula?"


"Mas Alif seorang muslim atau --"


"Mas Alif seorang muslim." Alif menjawab dengan mantap diiringi lengkungan bibir sembari tetap fokus memainkan stir mobil.


"Kenapa, Mas Alif baik banget sama Nakula? Padahal, kita 'kan berbeda keyakinan, Mas."


"Kula, asal kamu tau. Jika kita ingin berbuat baik ... jangan pernah memandang perbedaan. Entah perbedaan apapun itu, termasuk perbedaan keyakinan. Agama kami mengajarkan agar semua umat muslim senantiasa memperhatikan hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal 'alam."

__ADS_1


"Apa itu, Mas?" Nakula bertanya heran sambil mengernyitkan dahi.


Alif tersenyum lantas menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Nakula.


"Hablum minallah adalah bagaimana manusia berhubungan dengan Sang Pencipta dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hablum minannas adalah konsep di mana manusia menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya. Dan ... hablum minal 'alam adalah hubungan manusia dengan alam. Salah satu contoh menjaga hubungan baik dengan sesama manusia adalah dengan berbuat baik kepada sesama tanpa memandang perbedaan keyakinan," jawabnya seraya menjelaskan.


Nakula manggut-manggut tanda mengerti. "Tapi, kenapa ya, teman sekelas Kula yang muslim, suka sekali membuli Kula?" tanyanya lagi. Namun kali ini disertai raut wajah sendu.


"Kula, mungkin teman-teman kamu itu belum diajarkan ilmu agama yang benar. Jadi, mereka tidak mengerti dan memahami ... bagaimana menjaga hubungan baik dengan sesama teman. Insya Allah, lain waktu ... mas Alif akan mengajakmu berkunjung ke pesantren Al Hidayah. Di sana banyak sekali anak seusia kamu. Mereka tidak pernah berkata kasar apalagi membuli, dan selalu rukun serta saling menghargai."


"Jadi, tidak semua anak muslim suka membuli, Mas?"


"Jelas tidak, Kula." Alif kembali tersenyum dan mengusap lembut rambut Nakula.


"Berhenti di sini, Mas!" pinta Nakula.


Alif pun menuruti permintaan Nakula. Ia segera menepikan mobil lalu mematikan mesin.


Setelah keluar dari dalam mobil, keduanya lantas mengayun tungkai melewati gang sempit menuju kontrakan rumah Nakula.


Diketuknya daun pintu yang tertutup rapat diikuti suara lembut memanggil ibu dan adiknya.


"Lia --"


"Mas, Lia sangat lapar. Dari tadi, Lia cuma mengemil garam untuk menghilangkan rasa lapar. Tapi tetap saja tidak bisa," ujar Lia sembari mengusap perutnya yang berteriak nyaring.


Nakula menerbitkan senyum dan membelai rambut adiknya yang sedikit bergelombang. "Maaf, Lia. Tadi, dagangan mas Kula tidak laku. Untung ada Mas Alif. Mas Alif memborong semua dagangan mas Kula. Bahkan, memberi uang lebih dan membelikan kita nasi gudeg."


"Nasi gudeg, Mas?"


"Iya Lia. Nasi gudeg," jawabnya menegaskan.


"Horeeeee, hari ini kita bisa makan enak. Nasi gudeg kesukaan Lia." Lia bersorak kegirangan hingga membuat bibir Alif melengkung--menyerupai bentuk sabit.


"Masuk dulu, Mas!" Nakula mempersilahkan Alif untuk masuk ke dalam rumah lalu memandunya duduk di tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.

__ADS_1


Dengan takzim, Nakula mencium punggung tangan ibunya kemudian memperkenalkan Alif.


"Mas Alif sangat baik, Bu. Mas Alif sudah memborong semua dagangan Nakula dan memberi uang lebih. Bukan hanya itu saja, Bu. Mas Alif juga membelikan kita nasi gudeg. Jadi malam ini, kita tidak kelaparan lagi --" pita suara Nakula tercekat, sehingga ucapannya pun seketika terpangkas. Bocah berusia sepuluh tahun itu berusaha menahan titik-titik air yang hampir tertumpah karena rasa haru yang membuncah.


"Trimakasih, Mas. Trimakasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan Mas Alif," tutur Maria dengan suaranya yang terdengar bergetar. Sama seperti Nakula. Maria pun berusaha menahan titik-titik air yang hampir tertumpah.


"Berterima kasihlah pada Tuhan, Bu. Karena Tuhan-lah yang mengirimkan rejeki melalui perantara tangan saya. Jika bukan karena kehendak Tuhan, maka saya tidak akan bertemu dengan putra Ibu--Nakula." Lagi-lagi Alif merendah. Setiap mengulurkan tangannya, Alif tidak pernah membusungkan dada.


Ia sadar, bahwa semua harta yang dimilikinya adalah titipan dari Allah. Sehingga sudah selayaknya dibelanjakan di jalan Allah. Salah satunya dengan cara bersedekah.


Sejenak mereka berbincang. Rupanya, Maria menderita penyakit kanker payu-dara. Karena tidak memiliki sejumlah uang untuk berobat, Maria hanya bisa pasrah dan berserah.


Semua uang yang diberikan oleh Nakula, habis untuk membayar hutang dan makan sehari-hari.


Ulu hati Alif terasa nyeri kala mendengar kata demi kata yang terlisan dari bibir Maria. Ia merasa empati dan berniat membantu wanita malang itu agar bisa sembuh dari penyakit kanker yang diderita.


"Bu, karena Mas Alif sudah membantu kita, sekarang kita gantian yang membantu Mas Alif membuat onde-onde dan getuk lindri untuk istrinya," ucap Nakula menginterupsi.


Maria pun mengangguk diiringi sebaris senyum. Ia lantas meminta putranya ... membeli semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat onde-onde dan getuk lindri.


Sementara di rumah ... Chayra nampak gelisah menanti kedatangan Alif. Sudah hampir dua jam, suaminya itu belum juga pulang ke rumah.


Chayra merutuki dirinya sendiri, sebab meminta sesuatu yang teramat sulit dan mungkin tidak bisa dipenuhi oleh Alif, onde-onde berdiameter 3 cm, dengan taburan wijen 99 biji. Ditambah getuk lindri yang berwarna obar-abir (seperti warna pelangi) dan ditaburi parutan keju ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan.


Insya Allah, ALCHA mendekati episode terakhir. Jadi, tetap stay hingga Imam Pengganti Untuk Chayra end. 😉


Mohon maaf jika ada salah kata atau bertebaran typo. 🙏🙏🙏


Bagaimana kelanjutan kisah Ayu dan para sahabat yang mengagumi seorang penulis misterius? Yuk segera intip karya kolaborasi author Penulis Jelata dan para sahabat di CS (Chat Story) yang berjudul 'Penulis Misterius Idolaku'.

__ADS_1



Trimakasih dan love love sekebon 😘😘😘


__ADS_2