
Happy reading 😘😘😘
Zidan terus berlari mengejar Fahmi. Namun ia kehilangan jejak pria itu setelah salah seorang rekan dokter menyapanya dan bertanya kenapa dia berlarian di area rumah sakit.
Dengan langkah gontai, Zidan berjalan menghampiri Chayra dan Elmira yang masih berada di taman.
Terlihat, Chayra tengah berusaha menenangkan Elmira yang masih gemetar.
"Bagaimana, Mas? Mas Zidan berhasil menangkap pria itu?" Chayra melisankan tanya setelah Zidan berdiri tepat di hadapan mereka.
Zidan menggeleng pelan dan menghembus nafas sedikit kasar. "Belum, Ra. Tapi nggak usah khawatir. Setelah Alif diperbolehkan pulang, aku dan Alif akan mengurus pria breng-se* itu. Kami akan mengumpulkan bukti-bukti untuk menyeretnya ke penjara. Dan memastikan, dia mendapat hukuman yang seberat-beratnya."
"Iya Mas. Semoga, mas Alif segera pulih sehingga bisa membantu Mas Zidan."
"Aamiin yaa Robb. Bagaimana keadaan Elmira, Ra?"
"Tubuh Mbak Elmira masih gemetar. Tapi sudah mendingan. Lebih baik, kita bawa Mbak Elmira ke ruangan Dzikra, Mas. Siapa tau, di sana Mbak Elmira bisa merasa lebih tenang."
Zidan menyetujui usul Chayra. Keduanya lantas membawa Elmira ke ruang perawatan, tempat Dizkra dirawat inap.
Sesampainya di ruangan itu, Chayra memandu Elmira untuk duduk di sofa. Kemudian ia dan Zidan menyusulnya.
"Minum dulu, El!" Zidan menyodorkan segelas air putih dan Elmira menerimanya dengan tangan gemetar. Lalu diteguknya segelas air putih itu pelan-pelan hingga tandas.
"Maaf Mbak, kalau boleh kami tau ... siapa pria tadi? Kenapa Mbak Elmira terlihat ketakutan ketika melihatnya?" Chayra menggenggam erat tangan Elmira dan menatap lekat iris mata Elmira yang memancarkan binar sendu.
Elmira menghembus nafas berat dan sekejap memejamkan mata sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Chayra.
"Di-a, kak Fahmi. Kakak angkatku. Pria be-jat itu selalu memberiku minuman terlarang sebelum memintaku untuk melayaninya supaya aku menggila dan dia terpuaskan. Jika aku tidak mau meminumnya, dia pasti murka dan menyiksaku --" Elmira menjeda sejenak ucapannya dan meraup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
__ADS_1
Dia berusaha menghempas rasa sesak kala terbayang perlakuan Fahmi dan mantan kekasihnya, Afhan.
Fahmi dan Afhan merupakan dua pria yang turut andil menjadikan hidup Elmira kian hancur setelah kesuciannya direnggut paksa oleh sang ayah angkat.
"Setiap kami melakukan perbuatan terlarang, kak Fahmi selalu merekamnya kemudian menyebarkan vidio itu untuk mendapatkan uang. Ia menyamarkan wajahnya, sementara wajahku tidak disamarkan dan terlihat jelas. Semua orang yang mengenalku, mencaci dan merendahkanku. Mereka mengira, aku seorang wanita yang bekerja untuk memuaskan naf-su para pria hidung belang. Disaat aku merasa sangat hancur dan terpuruk, pria yang bernama Afhan hadir dan menawarkan bahunya untuk bersandar. Bodohnya, aku mudah terpedaya oleh sikapnya yang teramat manis. Sehingga aku rela menyerahkan diriku kepadanya. Aku terlalu percaya dan menaruh harapan pada Afhan yang ternyata tidak sebaik yang aku kira. Dia mencampakkanku setelah puas menyesap maduku. Semenjak Afhan pergi dan tidak mau bertanggung jawab, aku berpikir bahwa semua pria sama saja. Namun aku salah. Ternyata masih ada pria yang unik dan langka di dunia ini. Dia ... Alif. Dia teramat setia pada cintanya dan tidak mudah terpikat dengan rayuan dan pesona wanita lain. Dia juga tidak asal menyiramkan benihnya hanya karena naf-su."
Hening ....
Chayra dan Zidan bergeming. Mereka tenggelam ke dalam pikiran masing-masing.
Kisah masa lalu Elmira yang teramat kelam menumbuhkan rasa empati di dalam hati keduanya.
"Zi, aku seorang wanita yang kotor dan hina. Aku tidak pantas bersanding dengan pria sebaik dirimu dan Alif. Kalian berhak mendapatkan wanita seperti Chayra, bukan sepertiku. Aku ikhlas membebaskan Alif. Aku juga akan menerima apapun yang menjadi keputusanmu. Jika kamu ingin membatalkan niatmu untuk menikahiku, aku tidak merasa keberatan. Aku menerima dengan ikhlas takdir yang telah ditulis-Nya untuk aku."
Ucapan Elmira memecah hening. Zidan menengadahkan wajahnya yang semula menunduk. Lalu ditatapnya lekat manik mata wanita yang dicintainya itu.
"El, meski masa lalumu teramat kelam, aku tetap menerima kamu apa adanya. Asal kamu tau, El. Cintaku tulus untukmu. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa membuat kamu merasa berarti dan selalu tersenyum --"
Hati Elmira menghangat kala mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Zidan.
Elmira berharap, ucapan Zidan bukan hanya sekedar kata-kata manis seperti yang pernah diucapkan oleh Afhan, sang mantan kekasih.
"Mas Zidan so sweet banget. Aku jadi nganan lho mendengar kata-kata manismu. Lebih baik, aku ke ruangannya mas Alif dari pada menjadi obat nyamuk." Chayra menyahut ucapan Zidan lantas beranjak dari sofa.
Zidan menanggapi kata-kata yang dilontarkan oleh Chayra dengan tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya.
"Oiya, sampai lupa. Tadi, Alif memintaku untuk memanggil Elmira. Ada yang ingin dia bicarakan. Kamu nggak keberatan 'kan Ra?"
Chayra mengulas senyum dan menggeleng pelan. "Tentu saja aku nggak keberatan. Antarkan Mbak Elmira ke ruangannya mas Alif sekarang, Mas! Aku di sini saja menemani Dzikra. Kasihan Dzikra jika ditinggal terus --"
"Tapi 'kan ada suster yang menemani Dzikra, Ra --"
__ADS_1
"Tapi, aku tetap ingin di sini menemani Dzikra. Nanti jika Dzikra sudah bangun, aku ingin bermain dengannya." Chayra ber-alibi.
"Baiklah. Kami tinggal dulu, Ra. Insya Allah cuma sebentar kog --"
"Heem, iya Mas. Lama juga nggak pa-pa. Nitip salam kangen ya buat mas Alif!"
"Hilihhhh, dasar bucin. Baru sebentar nggak melihat gundulnya, sudah kangen." Cibiran yang dilontarkan oleh Zidan sukses membuat Chayra merengut.
"Siapa yang bucin? Aku nggak bucin kog --" Chayra mengelak. Ia sebal jika ada yang mencibirnya 'bucin'. Meski kenyataannya, Chayra memang bucin.
"Masih juga menyangkal --" gumamnya dan ternyata didengar oleh Chayra.
"Biarin. Wes sana, buruan kalian ke ruangannya mas Alif! Pasti mas Alif sudah menunggu," ujarnya sebal.
Zidan tergelak lirih, sementara Elmira menerbitkan senyum dan menggeleng-geleng kepala menyaksikan kekonyolan madunya dan Zidan.
"Kami tinggal dulu ya, Ra. Nitip putriku!" ucap Elmira setelah ia beranjak dari posisi duduk.
"Iya, Mbak." Chayra membalas ucapan Elmira diiringi seutas senyum.
Setelah Zidan dan Elmira keluar dari ruangan, Chayra meluruhkan bobot tubuhnya di sisi ranjang dan menatap lekat wajah baby Dzikra yang nampak damai ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😊🙏🙏
Terima kasih author ucapkan teruntuk kakak-kakak yang selalu meninggalkan jejak dukungan berupa like, komentar, poin, koin (tips untuk menambah pemasukan author), dan vote. 🥰🙏
Trimakasih dan banyak cinta 😘❤
__ADS_1