Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Kairo


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Alif dan Chayra berada di dalam pesawat kurang lebih selama 19 jam. Keduanya tiba di Kairo ketika hari sudah mulai gelap. Alif meminta Zidan untuk menjemput mereka di bandara. Dengan senang hati, Zidan memenuhi permintaan sahabatnya itu.


"Sayang, dia Zidan--sahabat mas Alif." Alif memperkenalkan Zidan kepada Chayra setelah ia dan sahabatnya itu berpeluk singkat. Zidan dan Chayra menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada diiringi seutas senyum yang terbit menghiasi wajah mereka.


"Ternyata benar yang selama ini kamu ceritakan, Lif. Paras Chayra sangat cantik. Selain itu, Chayra juga santun dan lembut. Aku yakin, karena itulah--kamu nggak bisa berpaling. Meski --" Zidan memangkas ucapannya. Hampir saja ia salah bicara. Ya, Zidan ingin memuji kecantikan Elmira yang tidak kalah bila dibandingkan dengan kecantikan yang dimiliki oleh Chayra. Perpaduan Indonesia dan Mesir. Hanya saja, Elmira tidak sesantun dan selembut Chayra.


"Hmm, bukan hanya itu saja yang membuat aku nggak bisa berpaling dari Chayra." Alif menyahut ucapan Zidan dan meraih tangan Chayra lantas membawanya ke dalam genggaman.


"Tapi karena kemuliaan hati dan ketegarannya. Bagiku, Chayra wanita yang sangat sempurna Zi. Selamanya, istriku ini nggak akan pernah terganti --" sambungnya diiringi tatapan yang menyiratkan rasa cinta. Chayra mengulas senyum dan sedikit menundukkan wajanya yang terhias rona merah.


Zidan terkekeh dan menepuk bahu Alif. "Yayaya, aku tau itu. Kamu sudah sering mengatakannya."


"Zi, bagaimana keadaan Dzikra?" Alif mengalihkan pembicaraan. Ia mencemaskan keadaan Dzikra, meski bayi berusia 12 bulan itu bukanlah putri kandungnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Dzikra sudah berangsur membaik. Jangan terlalu mencemaskan Dzikra apalagi mamanya. Andai kamu mengijinkan, aku ingin menggantikan kamu, Lif. Itu pun jika Elmira bersedia," kelakarnya diikuti gelak tawa khas seorang Zidan.


"Andai Elmira bersedia, aku akan sujud syukur, Zi. Tapi, bagaimana dengan ayah biologis Dzikra? Kamu sudah menemuinya?"


"Aku sudah menemuinya. Aku juga sudah memintanya untuk bertanggung jawab, Lif. Tapi, pria brengse* itu nggak mau bertanggung jawab. Dia bilang, Elmira sudah nggak pera-wan saat mereka melakukan ritual terlarang --"


"Rumit." Alif berdesah. Ia memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Jika ayah biologis Dzikra tidak mau bertanggung jawab, bagaimana dia bisa melepas Elmira. Alif terbelenggu oleh janji yang terlanjur diucapkannya.


"Sudahlah Bro. Nggak usah terlalu dipikirkan! Kamu berdoa saja, semoga Elmira bersedia membuka hatinya untukku. Aku ikhlas menjadi imam pengganti untuk Elmira, menggantikan kamu. Karena kamu, Elmira, dan Chayra berhak bahagia," tutur Zidan bijak dan sukses melukis senyum di wajah Alif.


"Nggak usah berterima kasih, Lif. Sebagai seorang sahabat, sudah sepatutnya aku membantu meringankan bebanmu. Kamu tertekan setelah menikahi Elmira, Lif. Alif yang dahulu ceria berubah menjadi seorang pria yang gemar melamun dan murung. Jujur, aku rindu sahabatku yang dulu." Zidan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Terbayang masa-masa yang ia lalui bersama Alif sebelum kehadiran Elmira.


"Percayalah, Lif. Allah tidak membebani seorang hamba, melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Yasudah, yuk aku antar ke apartemen. Sesuai dengan permintaanmu, aku sudah menyewa apartemen untuk kalian."


Zidan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Alif dan Chayra. Ia mulai menghidupkan mesin dan melajukan kendaraan besinya, sementara Alif dan Chayra berbincang sembari menikmati keindahan kota Kairo di malam hari dari kaca mobil.


"Mas, jangan memanggilku 'sayang' ketika kita bersama Elmira! Aku takut, Elmira nggak berkenan. Jagalah perasaannya, karena dia masih berstatus sebagai istri kamu," pinta Chayra diikuti helaan nafas berat.

__ADS_1


"Iya Yang. Mas Alif akan menuruti permintaan Sayang." Alif memeluk tubuh Chayra dari belakang dan menghirup aroma vanilla yang selalu membuatnya candu.


"Mas, ceritakan padaku tentang Kairo! Aku ingin mendengarnya!" Chayra merotasikan tubuh dan menatap wajah rupawan suaminya.


"Baiklah Sayang --" Alif pun memenuhi permintaan Chayra. Ia mulai menceritakan tentang Kairo.


"Kairo mendapat julukan Kota seribu menara, Yang. Salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Pada abad pertengahan, ibukota Mesir yang berada di benua Afrika itu memainkan peranan yang hampir sama pentingnya dengan Baghdad di Persia serta Cordoba di Eropa. Kairo yang terletak di delta Sungai Nil telah didiami manusia Mesir Kuno sejak tahun 3500 SM. Mesir Kuno sempat mencapai kemakmuran di bawah penguasa Zoser, Khufu, Khafre, Menaure, Unas dan lainnya. Di masa itu, ibukota Mesir Kuno sudah menjadi salah satu kota yang berpengaruh di dunia. Sejak 30 SM, Mesir dikuasai bangsa Romawi. Kekuasaan Romawi di Mesir akhirnya tumbang ketika Islam menjejakkan pengaruhnya pada tahun 641 M. Pasukan di bawah komando jenderal perang Muslim, Amar bin Al-Ash yang pertama kali menancapkan pengaruh Islam di Mesir. Saat itu, Amar bin Al-Ash justru menjadikan Fustat--kini bagian kota Kairo--sebagai pusat pemerintahannya. Di Fustat itulah, bangunan masjid pertama kali berdiri di daratan Afrika --" Alif tersenyum saat Chayra memejamkan mata dan menyandarkan kepala di bahunya.


"Kamu menggemaskan banget, Yang. Minta diceritakan tentang Kairo, malah mas Alif ditinggal pergi ke pulau mimpi," gumamnya sambil mengusap lembut pipi Chayra.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah bisa UP lagi. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan, Kakak-kakak ter love 😉


Mohon maaf apabila salah kata dan bertebaran typo, trimakasih dan banyak cinta 😘💖

__ADS_1


__ADS_2