Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Memaafkan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Zi-dan." Nada suara wanita itu terdengar bergetar. Netranya menatap nanar pria yang pernah memenuhi relung hati ...


Zidan dan kedua orang tuanya terkesiap saat indra penglihatan mereka menangkap sosok familiar yang selama ini menghilang bagai ditelan bumi. Sehingga ke manapun mereka mencari, tak pernah bisa menemukan sosok itu.


Dia ... Sarah. Adik angkat Zidan sekaligus mantan kekasihnya.


"Sa-rah --" pita suara Zidan tercekat seolah ada sesuatu yang tiba-tiba menyumbat tenggorokan.


"Kalian saling mengenal?" Ameer bergantian menatap Sarah dan Zidan dengan tatapan heran. Begitu juga Nayla.


"I-iya, Pa. Me-reka kakak dan orang tua angkat saya," jawabnya terbata.


Sebenarnya, Sarah ragu untuk berkata jujur. Namun lidahnya terasa berat untuk melisankan dusta.


Ameer tersenyum kala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Sarah. Entah suatu kebetulan atau memang skenario dadakan yang ditulis oleh si penulis sehingga sang menantu bisa bertemu kembali dengan keluarganya.


Sementara Nayla ... nampak syok. Ia sungguh tidak menyangka bahwa kakak iparnya adalah mantan kekasih Zidan, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Zidan sekejap memejamkan netra dan meraup udara dalam-dalam, menghempas perasaan yang membuatnya merasa tidak tenang.


Entah apa yang akan terjadi, jika dosa dan kekhilafan yang pernah ia perbuat terhadap Sarah ... diketahui oleh Adnan dan juga calon mertuanya.


Zidan hanya mampu pasrah dan berserah diri. Apa pun kehendak Illahi, ia bersiap untuk menerima dengan lapang dada.


"Sarah, papa tidak menyangka ... ternyata kami akan besanan dengan kedua orang tua angkatmu. Allah begitu baik padamu. Dia mempertemukanmu lagi dengan keluarga yang telah kamu tinggalkan. Sekarang sudah tiba waktunya, kamu meminta maaf kepada mereka. Papa yakin, Zidan, Pak Arya, dan Bu Laras akan memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah kamu lakukan di masa lalu--sehingga kamu memutuskan untuk pergi dari rumah tanpa pamit kepada mereka," Ameer menjeda sejenak ucapannya lalu mengalihkan pandangan netra ke arah Arya--calon besan.


"Pak Arya, tidak keberatan 'kan untuk memaafkan menantu kami?" tanyanya diikuti seutas senyum.


"Eeengg --" Arya nampak ragu untuk menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Ameer sebab yang berbuat kesalahan bukanlah Sarah, melainkan Zidan--putranya.

__ADS_1


"Sarah, sekarang mintalah maaf kepada kakak dan kedua orang tua angkatmu!" pinta Nafira--turut bersuara. Namun Sarah masih diam di tempatnya berdiri. Seolah kakinya terasa berat untuk melangkah.


"Sayang, ayo! Aku temani." Adnan berucap dengan nada suaranya yang terdengar lembut.


Adnan dan kedua orang tuanya mengira bahwa Sarah-lah yang bersalah. Sebab saat pertama kali bertemu dengan Adnan, Sarah terpaksa berdusta. Ia mengaku pergi dari rumah karena takut jika kakak dan kedua orang tua angkatnya akan murka setelah mengetahui bahwa ia melakukan hubungan terlarang dengan seorang pria.


Yang sebenarnya, Sarah pergi karena sangat murka pada Zidan. Rasa cinta yang teramat besar ... berubah menjadi kebencian setelah Zidan memaksanya untuk melakukan abor-si dan hampir saja merenggut nyawanya.


Karena merasa iba dan berhutang budi, Adnan meminta Sarah untuk menjadi istrinya.


Ya, Adnan berhutang budi sebab Sarah telah menyelamatkan nyawanya. Jika bukan karena Sarah, mungkin waktu itu ... ia akan kehilangan nyawa saat dikeroyok oleh para begal.


Sarah yang cerdik, berteriak meminta pertolongan dan memutar nada dering handphone-nya yang menyerupai suara sirine mobil polisi. Para begal yang semula mengeroyok Adnan pun lari tunggang langgang karena merasa sangat ketakutan.


Sejak saat itulah, Adnan dan Sarah berteman dekat. Keduanya sering kali berbagi keluh, kesah, dan kisah. Hingga Illahi berkehendak, mereka menjadi sepasang kekasih halal yang kini saling mencinta.


Beruntung, kedua orang tua Adnan merestui hubungan keduanya tanpa mempermasalahkan masa lalu Sarah. Yang terpenting bagi mereka ... Sarah bisa membantu Adnan move on dari Chayra.


"Sarah tidak perlu meminta maaf kepada kami. Karena kami-lah yang seharusnya meminta maaf padanya," Zidan berucap tegas dan membawa tubuhnya untuk berdiri, disusul oleh Arya dan Laras.


"Sarah maafkan aku --" Zidan hampir saja meluruhkan tubuh. Namun Sarah segera mencegah dengan merengkuh bahu kakak angkat sekaligus mantan kekasihnya itu.


"Aku ingin kita bicara Zi," ucap Sarah kemudian.


"Mas Adnan, aku meminta izin untuk berbicara dengan Zidan dan kedua orang tua kami. Maksudku ... kedua orang tua angkatku. Boleh 'kan, Mas?" pinta Sarah sembari menatap netra Adnan.


Adnan mengulas senyum dan mengusap jilbab yang dikenakan oleh istrinya dengan penuh kelembutan. "Tentu saja boleh, Sayang."


"Trimakasih Mas." Sarah menerbitkan senyum lalu meminta Zidan, Arya, dan Laras untuk mengikutinya.


"Tunggu! Bolehkah aku ikut?" Nayla berdiri lalu berjalan mendekat ke arah mereka.


Zidan mengangguk samar dan mengijinkan Nayla untuk ikut bersama mereka. "Tentu saja, Nay. Ikutlah bersama kami."

__ADS_1


"Tapi Zi --"


"Tidak apa-apa, Sar. Nayla calon istriku. Lagi pula, Nayla sudah tahu semuanya," ucap Zidan meyakinkan.


"Baiklah Zi, aku mempercayaimu."


Setelah meminta izin kepada Ameer dan Nafira, Sarah membawa Zidan, Nayla, Arya, dan Laras ke taman yang berada di belakang rumah. Di sana ada gazebo yang biasa digunakan untuk bersantai.


Sesampainya di gazebo, mereka duduk melingkar.


Sarah nampak meraup udara dalam-dalam sebelum kembali membuka suara. "Nay, maafkan kami. Apa yang terjadi di antara kami di masa lalu, jangan sampai merubah keputusanmu untuk menerima Zidan sebagai calon suami. Aku sangat mengenal Zidan. Sebenarnya, Zidan pria yang sangat baik. Hanya saja, sebagai manusia biasa ... Zidan pernah melakukan suatu kesalahan dan kekhilafan terbesar. Dan aku yakin, dia sudah menyesalinya. Lebih baik, kita buka lembaran baru. Aku dan mas Adnan sudah hidup bahagia. Aku berharap, kamu dan Zidan pun bisa hidup bahagia setelah kalian menikah nanti. Untuk saat ini, jangan sampai mas Adnan dan keluarga kita yang lain tau tentang masa lalu kami. Setidaknya, sampai kamu dan Zidan mengikrarkan janji suci --" tutur Sarah panjang lebar.


"Iya Mbak, aku mengerti." Nayla menghembus nafas berat dan sekejap memejamkan netra. Ia berusaha menguatkan hati.


Atensi Sarah beralih pada Zidan yang sedari tadi terdiam dan sedikit menundukkan wajah.


"Zi, aku sudah memaafkanmu. Kamu memang sangat bersalah. Namun jujur, aku tidak bisa terlalu membenci apalagi dendam padamu. Aku minta, sayangi dan cintai Nayla dengan sepenuh hati. Jangan mengulangi kesalahanmu di masa lalu. Cukup aku saja yang menjadi korban keegoisanmu saat itu. Keegoisan anak remaja yang belum memahami arti dari tanggung jawab."


Zidan menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Trimakasih, Sarah ... dan maaf --" Lidah Zidan serasa kelu. Ingin rasanya menumpahkan segala isi hati. Namun ia sungguh tidak sanggup.


Sarah mengulas senyum. Ia berusaha tegar meski luka yang telah lama tertutup rapat, kini terbuka kembali ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Masih part Zidan & Nayla. Insya Allah, next episode kita bertemu lagi dengan ALCHA 😉


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😉🙏


Sambil menunggu UP selanjutnya, yuk tertawa bersama kami di karya kolaborasi CS (Chat Story) yang berjudul 'Penulis Misterius Idolaku' .


Bagaimana keseruannya, yuk klik profil Penulis Jelata dan ikuti setiap bab yang bisa membuat ketawa-ketiwi karena kekonyolan para tokohnya. 😉

__ADS_1



Terima kasih dan love love sekebon 😘😘😘


__ADS_2