
Happy reading 😘😘😘
Dua bulan sudah, baby Alcha terlahir ke dunia ini ... melengkapi kebahagiaan sepasang insan yang telah disatukan oleh Sang Maha Kasih. Mereka, Alif dan Chayra.
Meski hubungan yang terjalin di antara Alif dan Chayra berawal dari suatu kesalahan yang teramat besar, nyatanya ... jika Illahi ridho maka keduanya kini senantiasa dinaungi oleh kebahagiaan. Rumah tangga mereka pun sakinah, mawadah, warahmah.
Semenjak kelahiran baby Alcha, Alif dengan senang hati dan tanpa merasa terbebani, membantu istrinya merawat serta menjaga buah hati mereka.
Begitulah seharusnya seorang suami. Bukan hanya pandai dan rajin membuat adonan kue Susan. Tetapi juga selalu siaga ....
Mesin waktu yang menempel di dinding sudah menunjuk angka 12 malam. Namun baby Alcha tak juga memejamkan mata. Sementara Chayra terlihat sangat mengantuk dan lelah. Sesekali ia menguap dan menyeka kelopak matanya yang terbingkai titik-titik air.
"Bunda, istirahatlah! Ayah yang akan menemani baby Alcha," tutur Alif dengan suaranya yang terdengar lembut diiringi sebaris senyum manis.
"Tapi Yah, besok pagi 'kan Ayah sudah mulai bekerja di rumah sakit ICPA (Istri Comel Pilihan Abi). Bunda nggak ingin, Ayah malah mengantuk saat memeriksa pasien. Jadinya malah nggak fokus. Yang sakit perutnya, yang diperiksa malah lubang hidungnya," sahut Chayra seraya berceloteh sambil menyungging seutas senyum.
Alif terkekeh dan mengacak rikma istrinya, gemas. "Bunda jangan khawatir! Insya Allah, ayah nggak akan mengantuk dan tetap fokus menjalankan tugas sebagai seorang dokter. Dulu sewaktu di Kairo, ayah juga sering begadang hingga larut malam, menjaga Dzikra jika sedang sakit. Paginya, ayah tetap berangkat ke rumah sakit --"
"Pasti, Ayah sangat menyayangi Dzikra ya?" Chayra memangkas ucapan suaminya dengan melontarkan kalimat tanya. Entah mengapa ... saat Alif menyebut nama 'Dzikra', terselip rasa cemburu meski hanya setitik.
"Iya, ayah menyayanginya seperti putri ayah sendiri," jawabnya yang membuat Chayra semakin merasa cemburu.
"Lebih sayang Dzikra atau Alcha?" Chayra kembali melisankan kalimat tanya dan memasang raut wajah cemberut.
__ADS_1
Alif menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan yang menghiasi wajah rupawan. Lalu diusap pipi mulus Chayra dan ditatapnya manik mata yang selalu membuat jantungnya berdenyut merdu.
"Ayah tidak perlu menjawab pertanyaan Bunda karena Bunda sudah tahu jawabannya. Bukankah Bunda juga menyayangi Dzikra seperti putri Bunda sendiri? Jangan cemberut ya Sayang!Ayah sangat menyayangi Alcha dan juga ... Bunda. Kalian berdua separuh nyawa ayah. Posisi Alcha dan Bunda nggak akan tergantikan oleh siapapun," tutur Alif kemudian memangkas jarak dengan menyatukan dahi.
Drtttt ... drttt ....
Suara getaran gawai yang tergeletak di atas nakas mengalihkan atensi Alif dan Chayra. Sehingga adegan sweet yang terlintas di fikiran Alif menjadi buyar.
Niat hati ingin menyambar bibir ranum istrinya. Namun apa daya, malah dikacaukan oleh gawai yang bergetar.
Chayra segera meraih gawainya dan menerima telepon dari seseorang di seberang sana. Entah siapa orang yang menghubungi Chayra selarut ini.
" .... "
"Wa'alaikumsalam Beb."
" .... "
" .... "
"Bener lho ya! Jangan terlalu lama di LN, aku sudah teramat sangat kangen."
" .... "
"Sudah larut malam, Beb. Lebih baik, kita lanjutkan obrolan besok pagi ya. Aku ngantuk banget."
__ADS_1
".... "
"Miss you too, Beb. Wa'alaikumsalam."
Usai mengakhiri obrolan dengan seseorang di seberang sana, Chayra kembali menyimpan gawainya di atas nakas.
"Telepon dari siapa, Bund?" tanya Alif penuh selidik. Terselip rasa cemburu saat Chayra menyebut si penelepon ... 'Beb'.
"Temenku, Yah. Bunda tidur dulu ya! Nitip Alcha!"
Tanpa memperdulikan ekspresi wajah Alif, Chayra lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
"Sebenarnya, siapa yang menelepon Chayra selarut ini? Kenapa, Chayra menyebutnya Beb? Ahh, semoga saja bukan sang mantan," gumamnya sambil mengecek gawai Chayra.
Manik mata Alif seketika berotasi sempurna saat membaca nama yang tertera di layar pipih itu ... 'Beb-D.'
Terpikir olehnya bahwa nama dengan inisial 'D' adalah Damar. Mantan kekasih Chayra ....
"Damar? Ah tidak, mana mungkin Damar. Jika bukan Damar, lantas siapa?" Alif bermonolog lirih. Sementara Chayra sudah terlelap di alam mimpi. Dan baby Alcha ... bayi berusia dua bulan itu menangis sehingga mengalihkan perhatian Alif yang tengah tercenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri ....
🌹🌹🌹🌹
Eng ing eng .... siapa sebenarnya yang menelepon Chayra? Mungkinkah Damar atau ...???
Sambil menunggu rilis karya baru, insya Allah ... author akan memberi beberapa boncabe. Jadi, jangan unfav Imam Pengganti Untuk Chayra ya 😉
__ADS_1
Terima kasih dan banyak cinta untuk Kakak-kakak ter love yang masih setia stay 😘😘😘