
Happy reading 😘😘😘
Setelah menyerahkan Fariz, Fahmi, dan Fauziah kepada penegak hukum, Ameer dan Nafira ingin segera menemui putri mereka, Nayla.
Kedua paruh baya itu memilih menumpang di mobil Alif. Sementara Rafa dan Zidan mengendarai mobil mereka masing-masing.
Jantung Ameer dan Nafira berdegup sangat kencang ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah minimalis bercat putih. Tempat Nayla berada saat ini.
Kedua paruh baya itu keluar dari dalam mobil setelah Alif membuka pintunya. Lalu keduanya berjalan menuju teras dengan saling menautkan tangan.
Sesekali mereka menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menghempas rasa gugup yang tetiba hadir.
"Assalamu'alaikum --" Alif mengucap salam dan menekan bel pintu.
"Wa'alaikumsalam --" Terdengar balasan salam dari dalam rumah diikuti suara dercit pintu dibuka.
"Mas Alif --" Netra Chayra berbinar saat mendapati suaminya berdiri di depan pintu.
"Mas, mama dan papa mbak Elmira jadi datang 'kan?" bisiknya sambil mengedar pandang, mencari objek yang dimaksud. Hanya ada Rafa dan Zidan yang melempar senyum ke arahnya. Chayra pun membalas senyuman kedua pemuda itu.
"Jadi Ra. Mereka berdiri di belakang Rafa dan Zidan." Alif merendahkan intonasi suara diikuti senyum khasnya yang menawan.
"Ee ...." Chayra terkejut saat Zidan dan Rafa sedikit menggeser posisi. Nampak dua orang paruh baya yang berdiri di belakang mereka.
Lidah Chayra terasa kelu. Ingin berucap sepatah kata, ia sungguh tidak mampu.
"Chayra? Kamu benar Chayra 'kan? Mahasiswinya Adnan yang dulu sering berkunjung ke rumah?" Nafira mencecar Chayra dengan kalimat tanya dan berjalan mendekat.
"Tan-te. Tante Nafira?" Chayra tergagap.
__ADS_1
"Iya Sayang. Ini tante Nafira. Mamanya Adnan --"
"Masya Allah, Tante --" ucapnya sedikit berteriak.
Kedua wanita berbeda generasi itu saling berpeluk disertai binar bahagia yang terpancar jelas di manik mata mereka.
"Apa kabarmu, Ra? Kenapa setelah Adnan mengutarakan perasaannya kepadamu, kamu malah menghindarinya dengan berpindah tempat kuliah dan tidak pernah lagi berkunjung ke rumah kami?" Nafira melerai pelukan dan menatap lekat wajah cantik wanita yang pernah membuat sang putra jatuh hati.
Rupanya, Adnan merupakan dosen muda yang menaruh hati pada mahasiswinya, Ayunda Chayra Putri. Dan ia pernah menjadikan Chayra sebagai asistennya.
"Ee ... itu karena --"
"Sudahlah Ma. Jangan bertanya seperti itu kepada Chayra! Mama seharusnya faham. Mungkin Chayra merasa tidak enak hati karena pernah menolak putra kita dan lebih memilih mempertahankan hubungannya dengan Damar," sahutnya memangkas ucapan Chayra.
"O-om --"
"Senang bertemu denganmu lagi, Ra." Ameer mengulas senyum dan mengacak jilbab Chayra.
"Sebenarnya, kami sangat berharap ... kamu menjadi bagian dari keluarga kami. Dulu, Adnan selalu memujimu setiap berbincang dengan kami. Karena kamu merupakan mahasiswinya yang berparas cantik, cerdas, berhati mulia, dan tentunya berhasil membuat putra kami itu jatuh hati. Sayang, kamu menolaknya dan tetap memilih Damar sehingga Adnan patah hati. Beruntung, patah hatinya tidak berlangsung lama. Setahun kemudian, Adnan bertemu dengan seorang wanita yang bisa menggantikan posisimu."
"Jadi, pak Adnan sudah menikah?"
"Tentu saja sudah, Ra. Lalu bagaimana denganmu? Kamu jadi menikah dengan Damar?"
"Sa-ya ...."
"Chayra tidak jadi menikah dengan Damar. Mereka tidak berjodoh. Dan jodoh Chayra adalah saya --" Alif merangkul dan mengusap lembut bahu Chayra seraya mentransfer energi positif agar istrinya itu merasa tenang. Alif sangat faham apa yang tengah dirasa oleh Chayra saat ini.
"Oh ... jadi--Alif suami kamu, Ra? Syukurlah--kamu tidak berjodoh dengan Damar. Sebenarnya, Adnan sudah mengetahui semua tentang Damar, karena dia masih kerabat kami. Oleh sebab itu, Adnan memberanikan diri menyatakan perasaannya kepadamu dan ingin segera mengkhitbahmu agar kamu bisa terlepas dari Damar. Namun kamu malah menolak dan menghindarinya." Ameer berucap sendu.
"Maaf --" Chayra menundukkan wajah. Ia semakin merasa tidak enak hati kepada papa dan mama Adnan, mantan dosen yang sudah ia anggap sebagai abangnya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah, Ra. Semua sudah berlalu. Lagi pula, putra kami sudah menikah, begitu juga denganmu. Tante berdoa, semoga rumah tangga kalian senantiasa sakinah mawadah warahmah." Nafira menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan mengusap lembut pipi Chayra.
Bagi Nafira, Chayra sudah seperti putrinya sendiri. Dulu semasa Chayra masih duduk di bangku kuliah dan menjadi mahasiswi putranya, tak jarang Nafira meminta Chayra untuk menemaninya berbelanja atau sekedar berjalan-jalan di mall.
Kehadiran Chayra, sedikit mengobati kerinduannya kepada sang putri yang telah lama menghilang, Nayla.
"Ehem ...." Suara deheman Zidan sukses mengalihkan perhatian sehingga obrolan mereka pun terpangkas.
"Maaf jika saya kurang sopan. Tapi, alangkah baiknya jika tuan rumah mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam. Bukankah tujuan kita datang ke rumah ini untuk mempertemukan tuan Ameer dan Nyonya Nafira dengan Elmira. Maksud saya ... Nayla," ucapnya kemudian sambil melirik Alif dan Chayra dengan ekor matanya.
"Yaa Allah, Yaa Robb, sampai terlupa --" Chayra tersenyum kikuk. Sementara Alif menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Maaf Om, Tante, Mas Zi, Mas --"
"Rafa --" Alif menyambung ucapan istrinya.
"Eh, iya. Mari silahkan masuk!" Chayra mempersilahkan semua tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
Ameer dan Nafira mengangguk serta menerbitkan senyum. Mereka masuk ke dalam rumah diiringi jantung yang semakin berdegup kencang.
"Nayla putriku --"
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf, kemarin author belum bisa double UP. Dan mon maaf jika ada salah kata atau bertebaran typo 😊🙏🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. 😉
Terima kasih dan banyak cinta 😘💗
__ADS_1