
Happy reading 😘😘😘
Seusai mengakhiri percakapannya dengan Elmira, Alif meletakkan kembali benda pipih miliknya di atas nakas. Di edarkan pandangan ke seluruh ruang. Namun tidak ditemukannya keberadaan Chayra.
Dibawanya kaki melangkah menuju kamar sebelah. Berharap Chayra berada di sana.
Alif menghela nafas berat, saat kekasih yang dicarinya ternyata tidak berada di kamar itu. Ia merasa sangat cemas. Alif mengerti, bahkan sangat mengerti bagaimana perasaan Chayra saat ini.
"Chayra--Sayang, kamu di mana?" gumamnya. Ia ayunkan tungkai menuruni anak tangga.
Netra Alif seketika berbinar saat menemukan Chayra. Ternyata istri tercintanya itu tengah asyik memasak menu sarapan pagi.
"Sayang, ternyata kamu di sini --" Alif memeluk tubuh Chayra dari belakang diiringi hembusan nafas lega.
"Iya Mas --" jawabnya datar.
"Masak apa, Yang?" Alif kembali melisankan tanya dan menaruh dagunya di bahu Chayra.
"Masak sayur sop dan tempe goreng --"
"Wahhh, pasti enak banget nich."
"Heem."
"Yang, maaf --" lirihnya.
__ADS_1
Chayra bergeming. Ia tetap memainkan spatula tanpa mengacuhkan ucapan maaf yang terlisan dari bibir Alif.
"Mas Alif mengerti perasaanmu saat ini, Yang. Pasti sakit banget. Bertahanlah sebentar saja! Tetaplah berada di sisiku --"
Chayra mematikan kompor dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Alif. Lantas ditatapnya manik mata suaminya itu dengan intens.
"Aku akan bertahan dan tetap berada di sisimu. Namun aku nggak akan memaksakan diri, jika aku benar-benar sudah nggak mampu, Mas. Elmira dan anaknya lebih membutuhkan kamu dari pada aku --" ujarnya penuh penekanan. Chayra berusaha tegar. Ia tidak ingin menjadi lemah. Bagaimana pun akhir kisah cintanya dengan Alif, Chayra pasrah. Ia yakin, ujian berat yang dihadapinya saat ini akan berbuah manis di kemudian hari.
"Lebih baik, kita segera sarapan! Setelah sarapan, kita ke rumah orang tuaku untuk berpamitan pada papa dan mama. Aku sudah meminta om Jo untuk memesan tiket pesawat. Elmira sudah menantimu, jadi kamu harus segera kembali ke Kairo. Dan--aku akan ikut bersamamu. Aku ingin mengenal Elmira --" imbuhnya.
Lidah Alif serasa kelu. Untuk sekedar membalas ucapan Chayra, ia tidak bisa. Ada luka yang tersirat di binar manik mata Chayra. Luka yang teramat dalam dan sangat pedih. Sungguh, Alif tidak mampu menatapnya.
"Maaf --" Hanya kata itu yang mampu Alif lisankan.
Sarapan di pagi ini terasa sangat tidak nikmat. Tidak ada obrolan apalagi canda tawa. Hanya suara denting senduk dan garpu yang beradu di atas piring mereka masing-masing memecah hening.
Usai sarapan dan membersihkan rumah, Alif dan Chayra mengemasi pakaian. Kemudian mereka berangkat ke rumah kedua orang tua Chayra untuk berpamitan sebelum melakukan perjalanan ke bandara.
Keanu mengantar Alif dan Chayra ke bandara atas permintaan Raina, istri yang teramat dicintainya. Kebetulan, ada saudara dari luar Jawa yang saat ini berkunjung ke rumah, sehingga Raina tidak bisa ikut serta mengantar putri dan menantu mereka.
"Papa percaya kamu, Lif. Titip Chayra ya! Jaga dan lindungi putri papa! Jika terjadi sesuatu pada Chayra, papa tidak akan segan-segan menghajarmu --" tutur Keanu sambil mengusap bahu menantunya.
Alif mengangguk. "Iya Pa. Saya akan menjaga dan melindungi putri Papa --"
"Papa tidak perlu khawatir! Chayra sudah dewasa. Jadi, jangan mengancam mas Alif, Pa --" sahutnya diiringi bibir yang melengkung.
"Sepertinya, kamu sudah bucin, Ra. Sampai-sampai, kamu tidak rela jika papa menghajar suami kamu." Keanu terkekeh. Tangannya terulur untuk mengusap jilbab sang putri.
__ADS_1
"Chayra nggak bucin, Pa. Meski Chayra sudah jatuh hati pada Mas Alif, putri Papa ini nggak mau jadi budak cinta lagi. Almarhumah oma buyut pernah berkata, jangan mencintai seseorang dengan berlebihan karena akan sangat terasa sakit jika sekali kecewa. Dan perkataan oma buyut ternyata benar --"
"Papa berharap, Alif tidak akan pernah mengecewakanmu. Seperti papa yang tidak pernah mengecewakan mama setelah kami menikah. Papa selalu berusaha membuat hidup mama kamu bahagia, Ra. Papa tidak ingin melihat mama kamu bersedih, apalagi sampai menangis."
Hati Alif tercubit kala mendengar kata-kata yang diucapkan oleh papa mertuanya. Setelah menikah dengan Chayra, Alif belum bisa membuat wanita yang dicintainya itu bahagia. Tetapi malah membuatnya bersedih dan menangis.
"Papa --" Chayra menghambur ke pelukan papanya. Ia tumpahkan titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata.
Keanu membalas pelukan Chayra. Ia kecup pucuk kepala putrinya seraya mencurahkan kasih sayang.
"Kami pamit, Pa --" Chayra melerai pelukan dan mengusap jejak air mata. Dikecupnya punggung tangan sang papa dengan takzim dan diikuti oleh Alif.
"Iya Sayang --"
"Assalammu'allaikum Pa --" ucap Alif dan Chayra sebelum keduanya memutar tumit.
"Wa'allaikumsalam --" lirih Keanu sembari melambaikan tangan. Ada rasa tidak rela ketika melepas putrinya pergi.
"Semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu, Chayra putriku --" doa yang terlisan mengiringi langkah putri dan menantunya. Keanu terus menatap punggung keduanya hingga menghilang dari pandangan.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
UP nya segini dulu ya Kakak-Kakak. Maaf jika alurnya sedikit lambat dan konfliknya belum selesai. Jujur, authornya juga gemes, pingin cepet-cepet menyelesaikan konflik mereka dan berganti menyuguhkan yang manis-manis. Namun apalah daya, jari-jari dan otak authornya nggak bisa diajak ngebut. Jadi author minta, harap bersabar. Percayalah, author juga nggak tega menyiksa batin Chayra terus menerus. Slow aja, dibaca pelan-pelan tiap BAB nya, dan jaga hati supaya tidak terpancing emosi. Anggaplah kisah Chayra ini sebagai ujian di bulan puasa 😉🙏
Trimakasih teruntuk Kakak-kakak Zeyengggg yang selalu mendukung karya author. Tetap semangat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberi keberkahan .... Aamiin aamiin yaa robbal allamiin 😇🙏
__ADS_1
Biar bisa ketawa-ketiwi, mampir di karya author yang lain 😉