Imam Pengganti Untuk Chayra

Imam Pengganti Untuk Chayra
Anugerah Terindah


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Keponakan?" Alif, Zidan, Nayla, dan Rafa kompak melontarkan pertanyaan yang sama.


Chayra mengangguk dan mengembangkan senyum. "Iya, keponakan yang ada di dalam sini." Chayra menunjuk perutnya lalu mengusapnya lembut.


Alif bergeming. Bibirnya bergetar dan netranya berkaca-kaca. Ucapan Chayra membuatnya teramat bahagia hingga ia tak mampu berkata-kata.


"Lif, hebat kamu Bro. Sebentar lagi kamu menjadi seorang ayah --" Zidan tak kalah bahagia. Ia lantas memeluk Alif dan Alif pun membalasnya.


"Iya Zi. Alhamdulillah."


"Bro, selamat ya. Hahh, aku terharu Lif. Apalagi jika teringat perjuanganmu dan kesetiaan cintamu." Rafa berganti memeluk Alif setelah Zidan melerai pelukannya.


"Trimakasih, Fa --" pita suara Alif tercekat. Sehingga ia tak mampu melanjutkan ucapannya.


Rafa melerai pelukan lantas mengucapkan selamat kepada Chayra. Chayra membalas ucapan Rafa dengan melisankan kata terima kasih disertai senyum yang terkembang.


"Selamat Alif, Chayra --" Nada suara Nayla terdengar bergetar. Ia membawa tubuhnya berdiri kemudian memeluk tubuh Chayra, mantan madunya itu.


Chayra mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Nayla. "Trimakasih Mbak Nay. Trimakasih --"


Setelah sejenak saling berpeluk diiringi tangis bahagia, keduanya perlahan melerai pelukan. Kemudian berganti Ameer dan Nafira--memberi ucapan selamat kepada pasangan yang tengah berbahagia, Alif dan Chayra.


"Sayang, trimakasih --" Alif merengkuh tubuh Chayra lalu membawanya ke dalam dekapan. Dikecupnya lama pucuk kepala istrinya itu seraya menumpahkan segenap rasa.


"Iya Mas --" Chayra melingkarkan tangannya di pinggang Alif dan membenamkan kepalanya di dada bidang yang selalu membuatnya nyaman.


"Pa-pa. Pa-pa." Suara Dzikra mengusik suasana haru yang tengah tercipta. Sehingga semua atensi beralih pada bayi berusia satu tahun itu, tak terkecuali Alif dan Chayra yang lantas melerai dekapan.

__ADS_1


"Apa Sayang." Zidan menyahut dan mengulurkan tangan ke arah Dzikra.


"No-no. No-no." Dzikra menepis uluran tangan Zidan dan menggeleng kepala.


"Ohhhh, Dzikra mau sama Papa Alif ya?" tebak Chayra dan dibalas gelengan kepala oleh Dzikra.


"Papa siapa sih, Sayang? Papa Zidan, bukan. Papa Alif, bukan. Lalu papa siapa, hmm?" Zidan nampak gemas lantas diciumnya pipi Dzikra yang tembem nan menggemaskan.


"Ahay, papa Rafa yang handsome ya?" Rafa menaik turunkan alisnya dan mengulurkan tangan.


Dzikra mengangguk dan menyambut uluran tangan Rafa. Manik mata bayi berusia satu tahun itu nampak berbinar saat Rafa mendaratkan kecupan di pipi dan keningnya.


"Haisssh, sepertinya putri kita terpesona pada si perjaka tua Nay," bisiknya menggelitik indra pendengaran Nayla.


Nayla tergelak lirih. Sementara Zidan memasang raut wajah kesal.


"Ternyata, putrimu benar-benar pintar Nay. Seleranya sangat tinggi. Dia memilih pria yang wajahnya paling handsome se Indonesia Raya," ujar Rafa bangga dan penuh percaya diri.


"Tentu saja, Zi. Nih kenyataannya. Dzikra lebih memilih aku ketimbang kamu dan Alif --"


Ucapan Rafa terpangkas kala terdengar suara angin yang keluar disertai bau khas kotoran bayi dan mendorong pria berusia dua puluh lima tahun itu untuk menajamkan indra penciuman.


"Nay, tanganku kog basah ya? Jangan-jangan Dzikra --"


Nayla, Zidan, Alif, Chayra, Ameer, dan Nafira tergelak saat melihat tangan Rafa basah. Rupanya Dzikra pup dan pipis.


"Rasain, Fa. Itulah hadiah karena kamu terlalu berbangga diri." Tawa Zidan semakin menjadi hingga perutnya terasa kram. Ia sangat puas melihat ekspresi wajah Rafa yang nampak menyedihkan.


....


Seusai berkemas, Nayla berpamitan pada Alif dan Chayra. Dengan berat hati, Chayra melepas kepergian Nayla yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. Dan Dzikra yang sudah ia anggap sebagai putrinya.

__ADS_1


Malam ini, Nayla dan Dzikra menginap di hotel bersama Ameer dan Nafira. Ameer berencana membawa anak, istri, dan cucunya itu pulang ke Jogja esok pagi.


"Sampai berjumpa kembali di Jogja, Ra."


"Iya Mbak. Aku pasti akan sangat merindu kalian --" Nayla dan Chayra saling berpeluk erat sebelum berpisah.


"Lif, jaga Chayra dan calon malaikat kecil kalian! Aku pamit ya. Trimakasih atas segalanya yang kamu berikan kepada aku dan Dzikra. Kehadiranmu di hidupku adalah suatu anugerah bagiku. Karenamu, aku bisa bertemu dengan Zidan dan kedua orang tua kandungku --"


"Iya Nay. Maaf atas segala salah dan khilaf yang pernah aku lakukan terhadapmu. Maaf karena selama kita bersama, aku tidak pernah memperlakukanmu selayaknya seorang istri --"


"Jangan membahas tentang itu lagi, Lif! Aku takut tidak bisa --" Nayla memangkas ucapannya dan menghela nafas dalam. Hampir saja ia melisankan kata yang mungkin bisa membuat Chayra salah faham dan bersedih.


"Tidak bisa apa, Mbak?" Chayra menyahut ucapan Nayla dan menatap lekat manik mata mantan istri pertama suaminya itu.


"Tidak bisa memaafkan Alif, karena dia pernah menyakiti hatimu, Ra --" dustanya diiringi senyum yang dipaksakan.


Yang sebenarnya, aku takut tidak bisa move on darimu Lif. Mencintaimu adalah anugerah terindah dalam hidupku --


"Assalamu'alaikum --" Nayla mengucap salam sebelum masuk ke dalam mobil.


"Wa'alaikumsalam --" balas Alif dan Chayra bersamaan.


"Ayo Yang, kita masuk ke dalam!" Alif merangkul bahu Chayra dan memandu istri tercintanya itu masuk ke dalam rumah.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love. Mohon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. 😊🙏


Trimakasih author ucapkan atas dukungan yang telah Kakak-kakak berikan. Tanpa kalian semua, author tidak mungkin bisa semangat berkarya hingga detik ini 😊🙏

__ADS_1


Love-love sekebon 😘😘😘❤


__ADS_2