
Happy reading 😘😘😘
Sebelum mencapai anak tangga yang paling ujung, Alif memaksa Chayra untuk menghentikan langkah sebab ia melihat gelagat aneh istrinya itu.
Meski tidak bisa melihat sosok yang dilihat oleh Chayra, Alif bisa merasa. Ia pun membaca ta'awudz dan melangitkan pinta supaya Illahi melindungi serta menjaga Chayra dan calon bayi mereka dari ganguan jin ataupun syaiton.
Chayra tetap bersikukuh untuk melanjutkan ayunan tungkainya menuju anak tangga paling ujung, sehingga Alif pun merasa heran dengan sikap istrinya yang terkesan keras kepala. Tidak biasanya Chayra bersikap seperti itu.
Kesabaran Alif seolah sudah di ambang batas. Dan kecemasannya pun sudah menjalar sampai ke ubun-ubun. Dengan terpaksa, Alif lantas menggendong Chayra. Kemudian ia berjalan menuruni anak tangga dengan menggendong istrinya itu.
"Mas, turunkan aku! Aku ingin ke atas." Chayra merengek. Namun Alif tak acuh. Ia terus membawa langkahnya menuju pintu keluar.
"Yang, please! Kali ini menurutlah!" Alif meninggikan intonasi suara sehingga membuat Chayra terkesiap, sebab baru kali ini suaminya itu berkata dengan nada suara yang tinggi.
Chayra bergeming seiring air muka yang berubah sendu diikuti titik-titik embun membingkai manik mata. Ulu hatinya serasa nyeri kala mendengar ucapan suaminya bernada tinggi.
Alif membuka pintu mobil lalu menurunkan Chayra dengan perlahan di jok mobil bagian depan. Ia lantas menemui penjaga makam untuk berpamitan dan berterima kasih sebelum menyusul istrinya.
"Mbah, kami mohon pamit. Mohon maaf sekiranya kedatangan kami di malam ini, kurang berkenan bagi simbah dan yang lain," ucap Alif dengan merendahkan suara dan sopan.
"Ora popo, Le. Simbah dan yang lain memaklumi keinginan istrimu. Dia sedang hamil. Jadi wajar jika terkadang keinginannya tidak masuk akal ataupun nyeleneh. Sebagai seorang suami, kamu harus lebih sabar menghadapi istrimu," tutur penjaga makam--sebut saja mbah Atmo, seraya membalas kata-kata yang diucapkan oleh Alif.
"Inggih, Mbah." Alif mengangguk dan mengulas senyum.
"Pulanglah segera! Tadi, istrimu disapa oleh beberapa penunggu di makam ini. Mereka tidak mengganggu karena kalian datang dengan sopan. Jangan menjadi pikiranmu, Le cah bagus! Tidak akan terjadi apa-apa dengan istrimu. Hanya saja --" mbah Atmo menggantung ucapannya sehingga membuat Alif penasaran.
"Hanya saja apa, Mbah?" Alif melisankan tanya diikuti tautan kedua pangkal alis.
"Hanya saja, mungkin kelak anak kalian bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata, sama seperti ibunya."
Jawaban yang diberikan oleh mbah Atmo membuat Alif bergeming. Di dalam benak terlisan tanya, kelebihan Chayra yang mungkin menurun pada calon anak mereka, merupakan anugerah atau musibah?
"Sekarang pulanglah, Le! Jangan berhenti di tengah jalan! Jika melihat sesuatu yang aneh, jangan dihiraukan!" Mbah Atmo menepuk pundak Alif diikuti seutas senyum yang menghiasi wajah rentanya.
__ADS_1
"Inggih, Mbah. Kami pamit."
Seusai mengucap salam, Alif memutar tumit lantas masuk ke dalam mobil lalu mendaratkan bobot tubuhnya di depan kemudi.
"Yang, maaf jika mas Alif berkata dengan meninggikan suara," ucapnya sembari menatap manik mata Chayra dengan intens.
Chayra membuang muka tanpa membalas permintaan maaf yang terlisan dari bibir suaminya. Rasa kecewa bercampur amarah membuatnya enggan membuka suara.
Alif menghela nafas panjang lalu mulai melajukan mobil.
Ketika melewati jembatan yang terkenal dengan cerita mistisnya, tanpa sengaja indra penglihatan Chayra menangkap sosok berbalut kain putih tengah berdiri.
Chayra bergidik ngeri dan mengalihkan pandangan. "Mas, aku takut," cicitnya sambil menyembunyikan wajah di bahu Alif.
"Kenapa takut, Yang?" Atensi Alif sejenak beralih disertai uluran tangan mengusap kepala Chayra. Sementara satu tangannya yang lain masih fokus memainkan stir mobil.
"Ada mas Poci, Mas. Tapi, mas Pocinya nggak selucu di film Pocicu --" Nada suara Chayra terdengar lirih. Ia benar-benar merasa takut kala terbayang wajah menyeramkan yang dilihatnya tadi.
"Pocicu?" Alif bertanya heran.
Hampir saja Alif tergelak kala mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Chayra. Namun beruntung--ia bisa mengendalikan diri sehingga mampu menahan gelak tawa yang ingin terlepas.
"Mungkin mas Poci sedang menunggu sahabatnya, Yang. Mereka janjian ingin main remi di jembatan," sahut Alif seraya bercanda agar istrinya tidak lagi merasa ketakutan.
"Memangnya, siapa sahabat mas poci, Mas?" tanyanya sembari mengangkat wajah.
"Sahabat mas Poci ... mbak Kun-kun sama suster ngesot, Yang."
"Jadi, makhluk seperti mereka juga suka main remi?"
"Iya, Yang. Mereka 'kan suka begadang di malam hari. Sambil menunggu waktu subuh, mereka main remi dan minum kopi item," jawabnya asal.
"Owwwhhh pantesan --"
"Pantesan apa, Yang?"
__ADS_1
"Pantesan, kata orang ... makhluk seperti mereka itu suka banget minum kopi item dan pahit. Ternyata, mereka punya hobi begadang sampai subuh sambil main remi. Mungkin, biar nggak ngantuk ya --"
Ucapan Chayra yang teramat polos, sukses menggelitik indra pendengaran. Sehingga Alif tak mampu lagi menahan tawa yang kini sudah mengudara.
"Kenapa Mas Alif malah ketawa, sih!?" Bibir Chayra mencebik diikuti lirikan ekor matanya. Ia teramat kesal karena Alif malah menertawakannya.
"Mas Alif ketawa karena Sayang sangat lucu."
"Apanya yang lucu, Mas?"
"Ucapan dan ekspresi wajah Sayang. Dan --" Alif sengaja menggantung ucapannya agar Chayra merasa penasaran.
"Dan apa, Mas?"
"Dan ... bisa-bisanya Sayang percaya dengan celotehan mas Alif. Mana ada mas Poci, mbak Kun, dan suster ngesot main remi. Kalaupun ada, mereka berkumpulnya di Chat Story 'Penulis Misterius Idolaku'. Di sana ada suster ngesot dan mbak Kun yang suka perang mulut. Dan ada juga wewe gombel --"
"Pfftttt, Allohumma. Kenapa, aku jadi sepolos ini ya, Mas?" Chayra menertawakan dirinya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia merasa geli. Bisa-bisanya dia menanggapi celotehan Alif dengan serius.
"Nah, sekarang Sayang nggak ngambek lagi 'kan?"
Chayra menggeleng pelan diikuti sebaris senyum yang terlukis indah di wajahnya.
"Alhamdulillah. Jangan sering ngambek ya Yang! Kasihan dedek yang ada di dalam perut. Pasti si dedek ikut-ikutan ngambek."
Chayra mengangguk patuh. Lalu disandarkan kepalanya di bahu Alif ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf, author baru bisa UP hari ini karena kesibukan di RL yang lumayan menyita waktu. 😊🙏🙏
Insya Allah, Alcha akan end akhir bulan ini. Meski Alcha end, jangan unfav ya Kakak-kakak ter love. Karena author sudah menyiapkan kisah yang insya Allah akan rilis di pertengahan bulan Juni. 😉
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak dukungan. Mumpung hari Senin, yuk tabok author dengan Vote 😚
__ADS_1
Mon maaf jika ada salah kata dan bertebaran typo. Terima kasih dan banyak cinta. 😘😘😘❤